K A R M A
Oleh: Teguh Pramono
Dia adalah musuhku. Sejak dulu, ia selalu merintangiku. Kini ia datang lagi setelah beberapa waktu lalu kuusir dengan agak kasar. Dia benar-benar bandel, keras kepala, dan selalu usil. Dia tidak pernah mengenal kata putus asa, bosan, atau jera. Setiap detik, di setiap kesempatan, ia pasti muncul dengan senyuman yang manis dan memikat. Tiap kali bertemu, dia selalu menyapa lebih dahulu dengan ramah , suaranya merdu, halus, lagi sopan. Pokoknya kesan pertama begitu menggoda.
“He! Siapa sih kau ini sebenarnya? Dan mengapa kau datang lagi padaku? Ada apa sih sebenarnya?”
“Aku adalah utusan Tuhan. Aku datang kepadamu untuk menyampaikan kabar gembira,” jawabnya.
“Utusan Tuhan? Kabar gembira? Kabar apa? Cepat katakan dan cepat pula kau pergi dari sini! Aku hari ini ingin sendiri. Aku butuh ketenangan,” bentakku.
“Kau akan diberi uang seratus ribu rupiah sama Tuhan.”
“Apa? Aku akan diberi uang seratus ribu? Kok, Dia tahu kalau aku, saat ini sedang kesulitan keuangan? Padahal, aku kan tidak pernah bercerita kepada siapa pun, “tanyaku keheranan.
“Ya tentu, dong! Tuhan itu memang Maha Tahu, tolol! Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada guru agamamu!” jawabnya dengan ekspresi yang begitu khas.
“Di mana uang itu?” tanyaku tidak sabar.
“Sabar dulu! Jangan terlalu bernafsu! Dengar! Dia berpesan, agar uang itu nanti, kau gunakan dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh digunakan untuk membeli minum-minuman keras, tidak boleh untuk beli rokok, apalagi untuk beli pil teler, pil koplo, sabu-sabu, ganja, dan obat-obatan terlarang. Jajan pun tidak boleh. Pokoknya saya disuruh, dan diwanti-wanti agar uang itu digunakan untuk biaya sekolahmu saja. Misalnya, untuk membeli buku, membayar kos, dan melunasi uang SPP-mu yang nunggak itu,” katanya.
“Ah, tidak usah kau banyak bicara lagi! Aku tidak ingin mendengarkan ceramahmu! Di mana uang itu? Cepat katakan! Aku tidak ingin kau berlama-lama di sini! Dokter puskesmas bilang, aku butuh istirahat, biar stresku cepat sembuh! Ayo, cepat katakan di mana uang itu!” desakku agak emosi.
“Oh…ho, jangan tergesa-gesa, Bung! Jangan mudah naik darah! Anda kan tinggal menerima, tidak payah-payah cari ke sana ke mari. Perlu kesabaran,” katanya meredakan emosiku.
“Yah, okelah. Sekarang maumu apa? Aku sekarang pusing. Perlu ketenangan. Katakan saja apa maumu, biar semuanya cepat kita selesaikan.”
“Gini, Bung! Yang dikasih uang itu cuma Anda seorang. Untuk itu, jangan sampai, Bung bilang-bilang kepada orang lain. Orang lain sama sekali tidak boleh tahu peristiwa ini. Semua orang akan sirik, iri, jika mengetahui hal ini,” katanya sedikit berbisik di telingaku.
“Pusing! Pusing! Di mana uang itu? Ayo katakan! Jangan berbelit-belit!” bentakku.
Aku tak sabar menunggu. Kutarik krag baju di lehernya dan dengan agak kasar kucekik leher itu. Dia meronta sesak, nafasnya tersengal-sengal. Setelah ia memberi isyarat akan memberitahukan, baru kulepas.
“Oke! Oke! Akan segera kukatakan!” jawabnya dengan terengah-engah.
Rupanya cekikanku terlalu kuat sehingga ia meringis-ringis menahan sakit. Beberapa kali, ia menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi kekurangan oksigen. Masih dalam nafas yang tersendat-sendat, ia memberitahukan keberadaan uang itu.
“Uang itu berada di dompet. Dompet itu berada di tas teman sekelasmu. Tasnya berwarna merah hati. Tas itu di taruh di dalam bangku pojok depan, sebelah utara. Ambillah! Dan sekali lagi, ingat! Jangan sampai orang lain tahu!”
Aku ragu-ragu. Benarkah ini suruhan Tuhan? Tas merah hati, di pojok depan itu, kan miliknya Cintia, bendahara kelas yang baik hati itu? Mengapa aku disuruh mengambilnya? Ah, tak mungkin rasanya! Tapi…, mungkin benar juga katanya. Tuhan itu, kan baik hati, selalu mencintai umatnya dan akan menolong jika umatnya mengalami kesulitan. Contohnya saat ini. Aku tak punya uang sama sekali, tiba-tiba utusan Tuhan datang dengan membawa kabar gembira. Sungguh melegakan! Tatapan mata sinis bendahara sekolah, yang setiap saat memanggilku, menagih uang tunggakan SPP, akan segera lenyap dari pandangan mata. Benar-benar irrasional. Tuhan tahu kalau aku sedang kesulitan uang, sedang dalam keadaan terdesak, alias kepepet.
“ He! Ayo, ambillah uang itu! Kenapa malah bengong kayak kodok bangkong mabuk gitu,” perintahnya mengagetkan lamunanku.
“Terima kasih atas jasa baikmu kawan. Kau baik sekali! Mudah-mudahan hidupmu kelak bahagia. Kau telah melepaskan aku dari himpitan-himpitan. Apakah kau nanti minta komisi, kawan?” kataku. Ia hanya tersenyum-senyum saja mendengar pujian-pujianku.
“Ah, tidak! Tidak usah kau bagi dengan aku uang itu! Uang itu hanya untuk kau seorang, Bung. Sudah, ya! Sekarang aku minta pamit karena tugasku sudah selesai. Selamat berbisah, Bung! Sampai jumpa lagi,” katanya dengan menjabat tanganku, erat sekali.
Dia meninggalkan aku sendirian dalam sepi. Heran! Baik benar dia kali ini! Tidak biasanya dia sebaik ini! Ada apa ini? Ah, tak perlu curiga. Setiap detik, semua orang bisa saja berubah-ubah. Buktinya banyak. Ketika aku datang terlambat ke sekolah dua hari yang lalu! Aku mestinya dihukum push up atau minimal bersih-bersih halaman sekolah, tetapi nyatanya polisi sekolah tidak menghadiahi sanksi apa-apa padaku. Membentak pun tidak. Padahal, biasanya kalau tahu ada siswa yang terlambat, matanya langsung melotot memerah saga. Kumisnya langsung mekar. Pokoknya, sangarlah! Benar, aku tidak perlu curiga! Ini namanya rejeki nomplok. Seger! Seger! Segeeeer..!
Akhirnya, dengan segera, yang dia katakan kubuktikan. Sesuai dengan pesannya, tak seorang pun boleh tahu. Untuk itu, aku harus ekstra hati-hati dan menggunakan strategi yang jitu.
Aku melongokkan kepala ke luar jendela kelas, lihat ke kanan, lihat ke kiri. Tak ada orang, semua sudah berangkat Upacara Bendera. Sepi.! Baiklah ! Rupanya ini saat yang tepat untuk melakukan pengambilan uang itu. ‘Sudahlah! Tidak ada orang yang tahu, lakukan pekerjaan itu ,’ kata hatiku. ‘Eh, jangan tergesa-gesa! Teliti lagi! Jangan-jangan ada orang yang ngintip dari balik pintu,’ bisik hatiku menentang gagasan terdahulu. Oke ! Ada ide. Aku harus berakting. Aku kan pernah juara lomba akting di sekolah. Aksi pun mulai kulakukan. Kaki kuseret, perut kupeganggi seperti orang menahan rasa mual, dan wajah kukerutkan seperti orang menahan rasa sakit. Dengan hati-hati, aku bergerak mendekati pintu. Aku mengintip ke luar dari lubang konci pintu kelas. Tidak ada siapa-siapa. Tapi, aku masih belum yakin. Pintu kubuka pelan-pelan. Sepi. Hanya suara pembia upacara, jauh di sana, penuh semangat membawakan pidatonya. Masih dengan akting, aku keluar menuju ke samping kiri pintu. Sepi, tidak ada orang. Segera aku berbalik arah, mengamati samping kanan. Di situ ada ruang UKS yang pintunya tertutup rapat. Telinga kupasang dengan cermat. Tidak ada tanta-tanda suara. Mata kutempelkan tepat dilubang konci pintu. Aku mengintipnya. Deg! Jantungku hampir copot, kaget. Di dalam UKS ada seorang cewek sedang tiduran. Edan! Aku cepet-cepat berbalik arah menuju ruang kelas, tempatku bersembunyi menghindari upacara hari Senin yang membosankan itu. Mendingan pura-pura sakit perut atau pura-pura pusing daripada berdiri, berpanas-panas di lapangan. Kalau petugas tatib bertanya macam-macam, cukup ditangkis dengan rintih lirih, lolos sudah. Oh, iya! Siapa cewek dalam UKS tadi, ya? Dia sakit sungguhan, apa pura-pura seperti aku, ya? Ah, apa peduliku dengan dia! Aku muak kepada yang namanya cewek! Hatiku masih sangat luka karena dikhianati oleh Ellis, mantan pacarku.
Bangku depan! Pojok! Tas merah hati! Konsentrasiku tertuju ke arah itu. Sekesit kancil, aku mulai beraksi. Tas merah hati, tas mahal, kubuka. Lho, kok hanya buku. Aku kaget. Di mana uang itu?. Kubuka kantong sebelah kiri. Ah, lip steak, pembasah bibir, softeks, dan celana dalam. Edan! Dia sedang bulanan rupanya. Kubuka kantong yang dalam. Wah, ada sepion kecil, ada parfum, rexona, tusuk gigi, peniti, dan obat kadas. Cewek pesolek kok kadasan. Aku bergumam lirih. Mana uang itu, ya? Coba kuteliti lagi yang ini. Ah, yes! Betul ada dompetnya berisi uang seratus ribu rupiah. Singkat tapi tepat, uang segera kupindahkan ke dalam saku celanaku. Dan selincah bajing loncat, semua barang-barang dalam tas kukembalikan seperti semula.
Di luar suara sorak-sorai, ramai terdengar. Upacara rupanya telah selesai. Aku segera akting sakit perut. Aku menggeliat-geliat dan menelungkup di bangku belajarku ketika teman-teman memasuki ruangan.
“Selamat pagi, anak-anak,” kata guru PPKn menghentikan riuh redah kawan-kawan. Lho, langsung pelajaran?. Tumben benar! Biasanya sedikit molor.
“Coba ketua kelas, pimpin berdoa,” suara merdu guru itu sungguh membuat aku ingin mengikuti pelajaran dengan bersemangat. Namun, karena permainan belum selesai, tak mungkin itu kulakukan. Doa selesai , dilanjutkan dengan presensi. Memang, guru satu ini tidak pernah lupa mengabsen siswanya. Tanpa kusangka-sangka dia mendekatiku dan menanyaiku. Dengan kemampuan berpura-pura yang kumiliki, aku berhasil memperdayainya.. Akhirnya, dia menyuruh ketua kelas untuk mengantar aku ke puskesmas. Oke! Ini memang kesempatan yang kunanti-nanti sejak tadi. Aku pun berulah berjalan sempoyongan, meniggalkan kawan-kawanku di dalam kalas. Selamat belajar rekan-rekan dan selamat terpedaya guruku yang cantik, basikku dalam hati.
Sebelum meninggalkan sekolah, menuju puskesmas, ketua kelas kususruh membayarkan SPP, biar segala persoalan segera beres. Tidak ada lagi tagihan-tagihan yang menyebalkan itu. Tidak akan ada lagi ancaman-ancaman pemanggilan orang tua. Aku bosan dengan semua itu.
Beberapa saat berikutnya, aku sudah berada di puskesmas. Secara kebetulan antrian tidak terlalau panjang sehingga bisa cepat tiba giliranku. Ketika aku ditanya tentang penyakit yang kuderita, aku katakan saja batuk, dengan diikuti beberapa kali batuk kecil.
“Disuntik apa obat saja ,Dik?”tanya Dokter Puskesmas.
“Obat saja, Pak” jawabku. Aku memang alergi suntik. Paling takut dengan jarum suntik. Lebih-lebih setelah muncul isue-isue bahwa jarum suntik yang digunakan untuk orang satu sering kali digunakan lagi untuk orang lain.
Kami pun meninggalkan Puskesmas lebih cepat dari perkiraan. Dengan malas-malas aku melangkah.
“Dul, agak cepat dikit, dong! Aku biar tidak terlalu banyak ketinggalan pelajaran,” kata ketua kelasku.
“Alah, tidak usah sekolah. Walau kita ketinggalan, toh nanti kita pasti diberi nilai baik. Sudahlah, santai saja! Tidak usah khawatir! Oh iya, kita sarapan dululah,” ajakku.
“Terima kasih, Dul! Aku tidak bawa uang,” kawanku menolak.
“Kamu masak tidak yakin dengan aku. Ino lho uang,” gayaku sambil menepuk saku celana, sedikit menyombongkan diri
“Sudahlah! Ayo ke warung Mbak Nur. Kamu bisa makan sekenyang-kenyangmu biar di kelas tidak ngantuk. Aku yang bayar semuanya,” desakku kemudian.
“Baiklah, kalau itu maumu,” ketua kelas menyerah.
Kami pun memesan makanan dan kopi. Aku pungut sebungkus rokok Mallboro beserta koreknya dan langsung kusodorkan ke hadapan ketua kelas.
“Rokok.”
“Terima kasih. Aku tidak merokok, Dul,” jawabnya.
“Kamu itu laki-laki apa banci,” aku mencemooh.
Karena ketua kelas tidak merokok, rokok kuambil sendiri sebatang. Sambil menunggu sarapan siap.
“Mangga, Mas” kata Mbak Nur menyodorkan dua piring nasi rawon.
Nasi rawon lebih nikmat jika dimakan dengan lauk kerupuk. Kuambil kerupuk udang dua bungkus. Satu untuk ketua kelas. Makan besar pun berlangsung dengan lezatnya. Aku hari ini benar-benar jadi bos besar. Total jendral habis dua belas ribu lima ratus rupiah. Tadi untuk menyelesaikan SPP sebesar Rp. 37.500,-. Berarti uang masih sisa lima puluh ribu. Lumayan untuk mencukupi uang rokok sebelun. Sementara jatah dari orang tua tetap mengalir penuh seperti biasanya.
“Aku langsung pulang saja, istirahat di rumah,” begitu kataku saat keluar dari warung Mbak Nur.
“Nanti kalau dimarahi Guru PPKn, bagaimana?” katanya.
“Bilang saja sakitku tambah parah! Beres!”
Akhirnya, aku ditinggalkan di depan warung Mbak Nur. Temanku meluncur dengan shogun merahnya kembali ke sekolah. Terima kasih Tuhan. Kau telah melimpahkan kenikmatan ini. Kau memang Maha dari segala Maha. Sekali lagi terima kasih. Semua strategi berjalan dengan mulus tanpa cacat sedikit pun.
Kesempatan emas!. Pegang uang, peluang ada. Masih pagi lagi. Berarti ada banyak waktu untuk pelesir-pelesir dulu sambil menanti jam pulang sekolah. Kalau pulang sepagi ini Nyokap pasti banyak celotehnya. Aku sendiri sudah sangat kesulitan untuk mengarang alasan yang tepat, takut ketahuan.
Esok harinya, dengan semangat 45, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Sambil bersiul-siul segera mandi, ganti pakaian, sarapan, menyambar uang saku di atas meja yang setiap hari sekolah mesti disiapkan di situ oleh orang tuaku. Aku pun langsung berangkat ke sekolah. Kedatanganku di sekolah disambut dengan tatapan mata tidak bersahabat oleh rekan sekelas. Heran! Ada apa gerangan. Untung bel segera berbunyi. Guru Fisika segera melesat gesit ke dalam kelas. Teman-teman langsung konsentrasi dengan pelajaran sehingga pikiran-pikiran curiga sedikit terlupakan. Dan aku begitu heran, pagi itu pelajaran begitu mudah masuk ke otakku. Mulai pelajaran Fisika, Bahasa Inggris yang biasanya membuat ngantuk sampai Geografi semua lancar. Bahkan, matematika yang memusingkan pun begitu mudah kupahami, lancar betul. Kalau boleh aku bandingka, hari ini rasanya sesedap nasi rowon di warungnya Mbak Nur. Pokoknya jreeeng!
Tanpa terasa jam istirahat pun tiba. Semua kawan-kawan berhamburan keluar. Begitu juga aku. Belum jauh meninggalkan kelas, Ita gembrot menghampiriku.
“Dul, kamu dipanggil Pak Tartib,” katanya.
“Ada apa, Ta?” tanyaku mulai gugup.
Aku tidak tahu lagi Ita bicara apa. Yang ada di benakku hanya wajah Pak Tartip yang sangar itu. Dengan langkah agak ragu-ragu, aku menuju ruang Pak Tartip. Kedatanganku disambut dengan wajah cemberut. Aduh mati aku. Ada apa ini! Hatiku berdebar-debar.
“Silakan duduk,” kata Pak Tartip.
Tanpa kujawab, pantatku langsung kuhempaskan ke kursi. Nasib baik rupanya tidak memihak kepadaku. Begitu pantat menindih kursi, udara dalam perut ikut tertekan dan meletup dengan keras. ‘ Pruuuut…pruuut…pruuuuut’. Suaranya memenuhi ruang Pak Tartib diikuti bau tak sedap menusuk hidung. Bagai terompet penyambut tahun baru, suara jiwaku bergelora. Bergelora bukan karena gembira tetapi karena ketakutan. Tanpa sempat mengantisipasi keadaan, Pak Tartip langsung mendaratkan tendangan jitu, ‘plagh! Plagh! Plagh! . Pelipisku kanan kiri kena tamparan.
“Sopan sedikit kenapa? Ini bukan sekolahnya Mbahmu! Tidak punya aturan! Ini bukan hutan! Tahu! “ kata Pak Tartip membentak.
Begitu dahsyat hardikan itu, langsung menghujam dengan jitu. Aku mati kutu.
“Langsung saja, Dul” kata Pak Tartip menanbah jantungku seakan-akan semakin tersumbat.,”kemarin kamu tidak ikut upacara, kenapa?” kata Pak Tartip selajutnya.
“Sakit, Pak” jawabku agak gemetar.
“Deaaar!!” suara meja digebrak bagai halilintar menyambar kepalaku.
“Sakit kok, keluyuran , plesir-plesir!!”
Kepalaku bagai bunga matahari layu. Terkulai dan berat.
“Jawab! Kamu tidak ikut upacra hari Senin karena berencana mengambil uang di tas Cintia, kan?” kata Pak Tartip menohokku.
Kepalaku bertambah pening. Mata berkunang-kunang dan saluran nafas seperti tercekik.
“Dul! Kau dengar pertanyaan Bapak? Jawab! Ayo jawab!” suara Pak Tartip menggelegar menghujat tajam sekali dan langsung menusuk ulu hatiku.
“Kalau kau tidak ngaku, permasalahan ini akan kuserahkan kepada orang tuamu dan polisi.”
‘Pleeeeng!’ kata-kata terakhir ini membuat bumi semakin gonjang-ganjing bagai kiamat. Dengan sisa-sisa keberanian, akhirnya aku pun mengakui semua perbuatan yang telah kulakukan.
“Uangnya memang saya yang mengambil, Pak. Tetapi, sekarang tinggal empat ribu rupiah. Ini Pak.” Dompet lusuh dalam saku celana belakang kutarik dan kubuka. Sisa uang kuserahkan kepada Pak Tartip.
“Berapa kali kau melanggar tatib? Pernyataan yang dulu kau buat dengan diketahui orang tuamu masih saya simpan. Sudah! Kali ini tidak ada maaf bagimu! Sekarang juga pulang dan boleh kembali ke sekolah kalau bersama orang tuamu!”
Badanku semakin limbung. Mata berkunang-kunang. Benda-benda di sekitarku: meja, kursi, pintu, lantai berputar cepat. Aku meningggalkan ruang eksekusi dengan melayang-layang. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Semua benda-benda berputar semakin keras dan tiba-tiba semuanya menjadi hitam. Gelap!
Tiga hari berikutnya aku benar-benar sakit. Perut mulas, mencret-mencret, badan panas dingin, dan muntah-muntah. Sementara itu, masalah yang kuhadapi belum kusampaikan kepada orang tua. Aku bingung. Rasa kasihan dengan orang tua dan takut campur aduk jadi satu meremas-remas hati, jantung, dan membuat kilu sekujur tubuhku.
“Hallo, selamat jumpa lagi, Bung!” tiba-tiba Dia yang kukatakan sebagai musuhku di awal cerita ini, muncul kembali di hadapanku dengan senyumnya yang mempesona, walau terlihat sedikit cengar-cengir.
“Heh, kamu!” kataku sepontan, agak terkejut.
Aku tercengang-cengang melihat kedatangannya yang begitu tiba-tiba itu. Tanpa kuperhitungkan, dengan cepat dan kesit, ia telah menghambur ke depan hidungku. Tanpa berkata sepatah kata pun, selicin belut, ia telah menyusup, menghentak deras dalam tarikan nafasku. Dan semakin gila, ia menerobos aliran nafasku, menerobos paru-paru, dan mebaur dengan butir-butir darahku. Dan..ah! Dia telah meloncat hinggap di ranting-ranting hatiku.
“Dul, lupakan resahmu! Belilah sebotol minuman keras atau beberapa butir pil penenang! Ayo kita fly, biar happy!” katanya merayu-rayu.
“Bajingan! Pembohong! Setan alas! Pergi kau! Pergi….!” Bentakku sekeras-kerasnya.
“Oh…ho! Tenanglah, Dul! Tenang! Ayolah, please! Belilah sedikit Manson, Brandy, kontol, atau bir, atau KTI” katanya.
“Pergi kau! Pergi! Minggaaaaat!”
Begitu keras dan kuatnya aku berteriak sehingga jantungku tersentak. Dan seketika itu pula benda-benda yang ada di kamarku berubah menjadi gumpalan berwarna hitam yang berputar keras. Gerakan putaran warna hitam itu menjalar ke dinding, ke buku-buku, vas bunga, kasur, bantal, guling, dan mengoncang-goncang tempat tidurku. Aku ketakutan. Badanku panas dingin. Keringat menerobos dari seluruh pori-pori kulitku. Warna hitam juga mulai menggerogoti kakiku, perutku, dada, tangan, leher, mulut, hidung, telinga dan mataku. Semuanya menjadi gelap total. Dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Yang jelas beberapa minggu berikutnya aku dinyatakan tidak naik kelas. Dan kenyataan ini membuat orang tuaku sangat kecewa dan marah besar. Hingga suatu saat dengan terpaksa aku harus menerima keputusan yang rasanya sangat sulit aku terima. Aku dimasukkan ke Yayasan Sekolah Anak-anak Nakal. Ah, aku benar-benar menyesal. Karma telah menghukumku.
Malang, 19 Juni 2009
Nama : Drs. TEGUH PRAMONO
Tempat dan tanggal lahir : Trenggalek, 9 Pebruari 1965
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Mengajar mapel : Bahasa dan Sastra Indonesia
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pagak
Alamat sekolah : Sumbermanjingkulon, Pagak, Malang,
Jawa Timur Telp. (0341) 881444
Alamat rumah : Jln.Letjen Panjaitan 86 Gondanglegi,
Malang, Jawa Timur Telp. 085855340409
TEGUH PRAMONO GURU PEMBELAJAR
betapa adegan itu sebentar lagi berubah sepi
lihat di sana ada jiwa-jiwa sepi. menyapa diam tak bertepi.mengajari kita akan budi yang indah. dan menemani hidup kita yang akan abadi di sisi-Nya
anak-anakku sedang bermain tentang kehidupannya
adegan ludruk
About Me
- TEATER KEHIDUPAN SMA NEGERI KABUPATEN MALANG
- selama ada air, udara, mtahari, dan tanah mungkin kehidupan akan berjalan seimbang
Tampilkan postingan dengan label CERPEN-CERPEN PROSES BELAJAR KREATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN-CERPEN PROSES BELAJAR KREATIF. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 Maret 2010
Cerpen
KORBAN ISU SANTET
Menjelang maghrib aku masuk halaman hotel, tempat penataran. Mobil kuparkir di bawah rumah makan yang rupanya oleh pemilik hotel dibangun khusus unutk parkir mobil. Perlengkapan penataran, seperti buku-buku, mesin ketik, dan tas pakaian kuturunkan dari bagasi. Dari arah belakang datang orang menawarkan jasanya.
“Bisa saya bantu, Pak?” katanya dengan sopan.
“Alhamdulillah!” sautku sambil mengemasi beberapa buku yang tersisa di jok mobil belakang, tanpa memperhatikan orang itu.
Tanpa berkata-kata lagi, orang itu langsung mengangkat tas dan barang-barang bawaanku yang lain. Aku menuju sekretariat untuk mendaftarkan diri. Dengan cekatan orang itu mengikuti langkahku dengan menjinjing tas dan mesin ketik.
“Turunkan saja,Pak!” kataku sambil menandatangani blangko daftar ulang.
“Nggak apa-apa, Pak, sudah biasa saya membawa barang begini,” jawabnya.
Setelah penandatanganan selesai, resepsionis menyodorkan kunci pintu kamar.
“Kamar nomor 205 ,Pak!. Ada di lantai dua,” kata resepsionis.
“Lewat mana Mbak?” tanyaku.
“Lewat sini, Pak,” kata laki-laki yang membantu membawakan bawaannku. Ruapanya laki-laki itu sudah sangat hafal dengan ruang-ruang yang ada di situ. Kami pun berjalan ke arah samping kanan. Tangga menuju lantai dua ada di situ. Aku cukup mengikuti ke mana arah laki-laki itu.
“Saya juga biasa cuci mobil dan pakaian pengunjung yang nginap di sini,Pak. Kalau Bapak butuh tenaga, saya siap,” katanya menawarkan diri, “cari saja saya di depan, sebelah pintu gerbang masuk, tempat mangkalnya becak-becak itu.”
“Di sini, Pak, kamar 205,” katanya.
Pintu kamar kubuka. Bau harum kamar menyengat hidungku. Orang iru segera kusuruh memasukkan barang-barang yang dibawanya.
“Terima kasih, ya Pak!” kataku sambil mengambil uang receh dalam saku celana. Kutarik uang seribuan dua lembar. Belum sempat uang kuberikan, kami saling beradu pandng. Aku terpaku. Sepertinya aku kenal orang ini. Tapi di mana, ya! Wajahnya agak sulit kukenali karena separuh tertutup topinya. Ia pun terlihat agak ragu-ragu. Baru beberapa saat kemudian dia mendahului bertanya.
“Maaf, apa Bapak dari Malang?”
“Lho, kok, Sampeyan tahu!” kataku agak terkejut.
“Apakah Sampeyan Suparman, anak Lik Jono?” tanyanya.
“Sampeyan siapa?” tanyaku.
“Aku Sutris, anak Pak Tukijan, blantik sapi!” . Mataku langsung membelalak. Setengah tak percaya. Kucermati sekujur tubuhnya. Kumisnya nampak tebal tak terurus. Kakinya yang bersandal jepit nampak penuh debu. Wajahnya nampak dihiasi beberapa galur keriput.
“Astaghfirlullah hal’adzim! Mas Sutris, kakaknya Marpuah, to?”
“Iya!” jawabnya.
“Sontoloyo! Kenapa jadi begini, Mas?”
Langsung saja dia kurangkul kuat-kuat. Tak terasa air mata keharuan membasah di pelupuk mataku. Mas Sutris pun terdengar isaknya. Suatu pertemuan yang luar biasa mengagetkan.
“Apa yang terjadi, Mas?” kataku sambil melepaskan pelukan.
“Ceritnya panjang, Man” jawabnya.
“Bagaimana Mas? Apa yang terjadi,” kataku sambil mengoncang-goncang bahunya. Mas Sutris tidak langsung menjawab. Ia melangkah menuju jendela. Korden dibukanya. Matanya menerawang jauh, memandang gunung yang dibalut mendung di kejauhan sana. Kemudian ia tarik nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya.
“Nasibku kurang beruntung, Man. Ketika peristiwa isue dukun santet, Bapak dibantai oleh massa. “
Mas Sutris tidak melanjutkan kata-katanya. Isakan tangisnya lebih kuat menyumbat kerongkongannya. Air matanya menetes deras, membasahi baju kumal yang dikenakan.
“Sudahlah, Mas Tris!” kataku mencoba meredakan tangisnya.
“Malam itu benar-benar malam jahanam. Massa bagai kerasukan setan, begitu beringas. Bapak dan Ibu diseret-seret, digebugi, dihajar, dan dicincang-cincang. Dan seketika itu beliau wafat,” lagi-lagi Mas Sutris tidak dapat melanjutkan ceritanya. Dia tak mampu menahan rasa sedih. Isak tangisnya semakin menyayat-nyayat hati. Aku berusaha menahan diri dan mecoba membangkitkan semangatnya, ketegarannya.
Sudahlah, Mas! Yang sabar. Yang tabah. Tuhan akan mengasihi umatnya yang sabar. Tuhan Maha Adil. Tuhan pasti memberi balasan yang setimpal kepada orang yang melakukan kebiadaban itu. Sudahlah! Tabahkan hatimu, Mas!” kataku .
“ Adikku, Marpuah, waktu itu berusaha menolong Bapak yang sudah tak berdaya. Tapi sungguh malang. Ia tersambar celurit dan parang di bagian leher dan perutnya. Seketika itu dia meninggal. Rumah yang kami tempati dibakar habis. Dan lima sapi yang siap jual ludes dijarah tanpa sisa.”
Suasana menjadi duka dalam kesenyapan yang pilu, bagai matahari di siang bolong yang tertutup awan hitam.
“Bayangkan! Mengapa begitu teganya orang-orang itu membunuh dengan sadis tanpa menelusuri benar atau salah. Ini semua fitnah belaka. Bapak dan Ibu yang begitu rajin shoat, baik dengan sesama tetangga dianggap dukun santet. Dan… Marpuah, dosa apa? Anak sepolos itu! Ah…” katanya dalam tangis kepiluan.
Keperihan hati membawaku ke masa lalu yang begitu indah. Masih jelas terbayang saat-saat aku bersama dengan Mas Sutris yang periang dan suka humor. Mas Sutris kelas tiga SMU sedangkan aku kelas dua. Mas Sutris pandai berbahasa Inggris sehingga setiap sehabis maghrib, aku selalu datang ke rumahnya minta diajari. Dan yang paling mengesankan, aku selalu disuguhi kopi pahit dan segelintir rokok tingwe ( rokok buatan sendiri). Katanya untuk menahan rasa kantuk dan penambah konsentrasi belajar. Memang nikmat. Sejak saat itulah kebiasaan minum kopi dan merokok tertanam padaku sampai sekarang. Bahkan, aku sering tidur di rumahnya kalau kemalaman. Kemudian esok paginya diajak sarapan dengan sambal bajak yang rasanya enak sekali.
Sebenarnya yang mendorongku untuk selalu datang ke rumah Mas Sutris bukan semata-mata alasan belajar bahasa Inggris. Tetapi karena aku jatuh hati dengan adiknya yang bernama Marpuah, yang masih kelas satu SMEA. Ibarat pepatah Jawa mengatakan ‘trisna jalaran saka ngglibet’ (cinta karena selalu didekati), memang ada benarnya juga. Lirikan pertama begitu tergoda. Dilanjutkan senggolan kedua, ketiga dan seterusnya, akhirnya Marpuah pun terjerat ranjau-ranjau cintaku. Dan pada saat yang tepat cintaku pun dijawab ‘ya..ya..ya..’. Hubungan cinta monyet pun terjalin sudah. Mas Sutris sudah kuanggap sebagai kakak sendiri. Begitu pula bapak dan ibunya, sudah kuanggap sebagai orang tua sendiri. Begitu krab. Begitu indah.
Dua bulan menjelang kenaikanku ke kelas tiga, Bapak pindah tugas ke Semarang. Kepindahan tugas Bapak membawa serta seluruh keluarga. Hubungan kami pun sedikit demi sedikit mulai kendur. Pada bulan-bulan pertama masih rajin menulis surat, saling bertukar kabar. Menulis surat cinta monyet pun ikut menghiasi hari-hari yang indah itu. Bahkan, kadang-kadang, aku masih berkunjung dan menginap di rumah Mas Sutris. Sekedar mengobati rasa rindu. Namun, setelah aku naik ke kelas tiga, karena kesibukan menghadapi EBTANAS, surat menyurat semakin surut. Labih-lebih ketika Marpuah sudah menginjak cawu pertama kelas dua, ia tidak pernah membalas surat-surat yang kulayangkan. Aku jadi kehilangan. Surat terakhir yang aku terima mengabarkan bahwa Mas Sutris diterima di Universitar Airlangga Surabaya jurusan kedokteran. Hanya sampai di situ. Sejak saat itulah, hubungan cinta putus tak jelas rimbanya. Marpuah yang kukagumi hilang. Mas Sutris yang pandai bahasa Inggris juga lenyap.
Kini, setelah tiga belas tahun berlalu, Mas Sutri muncul di hadapanku dengan keadaan begitu lain. Bukan Mas Sutris yang kubayangkan akan memakai baju putih, seragam dokter. Oh, mengapa ini bisa terjadi.
“Man, semuanya hancur. Cita-citaku, keluarga yang kucintai tempat aku bercengkerama berbagi suka duka lenyap. Aku sekarang hidup dalam ketakutan. Aku tak berani pulang ke Malang sampai saat ini. Aku selalu menutupi wajahku dengan topi agar tidak dikenali oleh mereka. Mereka berjanji akan membunuh seluruh keluargaku. Kalau saja tidak lari, malam itu, mingkin kamu tidak akan melihat aku hari ini. Aku takut, Man. Sanak familiku juga kabur entah kemana. Semua ketakutan.” . Begitu cerita Mas Sutris menghentikan bayanganku tentang masa lalu.
Kata-kata Mas Sutris terhenti oleh tangisnya. Kulihat Mas Sutris dilanda rasa takut yang amat. Keringat menglair di kening, di hidung, dan di sekitar pelupuk matanya. Dia sedikit menggigil. Dan sekali-sekali menengok ke luar kamar, seakan-akan takut ada orang lain mendengar ceritanya.
“Kemudian, sekarang Sampeyan tinggal di mana?” tanyaku selanjutnya.
“Aku ikut paman, di jalan Cilodong Dalam 32 sini. Silakan ke sana kalau ada waktu,” jawabnya lirih.
Mas Sutris sudah bisa mengendalikan diri. Tangisnya mereda. Sisa-sisa air mata disapu dengan kedua telapak tangnnya. Kemudian dia cepat-cepat mohon diri ketika terdengar ada suara orang berjalan menuju ke kamar yang akan kutempati beberapa hari. Sebelum Mas Sutris sempat melangkahkan kakinya, kutarik dua lembar uang kertas dua puluh ribuan dan kumasukkan ke dalam saku bajunya. Dia mengucap terima kasih dan memelukku erat-erat seakan-akan tidak mau berpisah lagi. Getaran tangannya terasa di punggungku. Tangan itu begitu dingin dan berkeringat. Degub jantungnya pun terasa bergelora cepat. Mas Sutris benar-benar dilanda ketakutan. Sesaat kemudian dia bergegas meninggalkan aku. Suara sandal jepit bertelepokan menghentak-hentak di lantai porselin hotel. Ia menghilang seiring dengan lenyapnya bunyi telepok sandal.
Seperti mimpi ‘byaaar’ adegan berubah. Benarkah orang yang membawa barang-barangku tadi Mas Sutris? Mas Sutris yang calon dokter jadi tukang becak?
Sehabis kegiatan penataran, aku sempatkan mampir ke rumah Paman Mas Sutris. Tapi sayang, alamat dan orang yang dikatakan Paman Mas Sutris tidak pernah kutemukan. Mas Sutris kenapa kau berbohong? Di mana kau sekarang? Ah, fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan!
Kutulis untuk mengenang keluarga, Saudara-saudaraku
yang menjadi korban fitnah dan isu dukun santet
Menjelang maghrib aku masuk halaman hotel, tempat penataran. Mobil kuparkir di bawah rumah makan yang rupanya oleh pemilik hotel dibangun khusus unutk parkir mobil. Perlengkapan penataran, seperti buku-buku, mesin ketik, dan tas pakaian kuturunkan dari bagasi. Dari arah belakang datang orang menawarkan jasanya.
“Bisa saya bantu, Pak?” katanya dengan sopan.
“Alhamdulillah!” sautku sambil mengemasi beberapa buku yang tersisa di jok mobil belakang, tanpa memperhatikan orang itu.
Tanpa berkata-kata lagi, orang itu langsung mengangkat tas dan barang-barang bawaanku yang lain. Aku menuju sekretariat untuk mendaftarkan diri. Dengan cekatan orang itu mengikuti langkahku dengan menjinjing tas dan mesin ketik.
“Turunkan saja,Pak!” kataku sambil menandatangani blangko daftar ulang.
“Nggak apa-apa, Pak, sudah biasa saya membawa barang begini,” jawabnya.
Setelah penandatanganan selesai, resepsionis menyodorkan kunci pintu kamar.
“Kamar nomor 205 ,Pak!. Ada di lantai dua,” kata resepsionis.
“Lewat mana Mbak?” tanyaku.
“Lewat sini, Pak,” kata laki-laki yang membantu membawakan bawaannku. Ruapanya laki-laki itu sudah sangat hafal dengan ruang-ruang yang ada di situ. Kami pun berjalan ke arah samping kanan. Tangga menuju lantai dua ada di situ. Aku cukup mengikuti ke mana arah laki-laki itu.
“Saya juga biasa cuci mobil dan pakaian pengunjung yang nginap di sini,Pak. Kalau Bapak butuh tenaga, saya siap,” katanya menawarkan diri, “cari saja saya di depan, sebelah pintu gerbang masuk, tempat mangkalnya becak-becak itu.”
“Di sini, Pak, kamar 205,” katanya.
Pintu kamar kubuka. Bau harum kamar menyengat hidungku. Orang iru segera kusuruh memasukkan barang-barang yang dibawanya.
“Terima kasih, ya Pak!” kataku sambil mengambil uang receh dalam saku celana. Kutarik uang seribuan dua lembar. Belum sempat uang kuberikan, kami saling beradu pandng. Aku terpaku. Sepertinya aku kenal orang ini. Tapi di mana, ya! Wajahnya agak sulit kukenali karena separuh tertutup topinya. Ia pun terlihat agak ragu-ragu. Baru beberapa saat kemudian dia mendahului bertanya.
“Maaf, apa Bapak dari Malang?”
“Lho, kok, Sampeyan tahu!” kataku agak terkejut.
“Apakah Sampeyan Suparman, anak Lik Jono?” tanyanya.
“Sampeyan siapa?” tanyaku.
“Aku Sutris, anak Pak Tukijan, blantik sapi!” . Mataku langsung membelalak. Setengah tak percaya. Kucermati sekujur tubuhnya. Kumisnya nampak tebal tak terurus. Kakinya yang bersandal jepit nampak penuh debu. Wajahnya nampak dihiasi beberapa galur keriput.
“Astaghfirlullah hal’adzim! Mas Sutris, kakaknya Marpuah, to?”
“Iya!” jawabnya.
“Sontoloyo! Kenapa jadi begini, Mas?”
Langsung saja dia kurangkul kuat-kuat. Tak terasa air mata keharuan membasah di pelupuk mataku. Mas Sutris pun terdengar isaknya. Suatu pertemuan yang luar biasa mengagetkan.
“Apa yang terjadi, Mas?” kataku sambil melepaskan pelukan.
“Ceritnya panjang, Man” jawabnya.
“Bagaimana Mas? Apa yang terjadi,” kataku sambil mengoncang-goncang bahunya. Mas Sutris tidak langsung menjawab. Ia melangkah menuju jendela. Korden dibukanya. Matanya menerawang jauh, memandang gunung yang dibalut mendung di kejauhan sana. Kemudian ia tarik nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya.
“Nasibku kurang beruntung, Man. Ketika peristiwa isue dukun santet, Bapak dibantai oleh massa. “
Mas Sutris tidak melanjutkan kata-katanya. Isakan tangisnya lebih kuat menyumbat kerongkongannya. Air matanya menetes deras, membasahi baju kumal yang dikenakan.
“Sudahlah, Mas Tris!” kataku mencoba meredakan tangisnya.
“Malam itu benar-benar malam jahanam. Massa bagai kerasukan setan, begitu beringas. Bapak dan Ibu diseret-seret, digebugi, dihajar, dan dicincang-cincang. Dan seketika itu beliau wafat,” lagi-lagi Mas Sutris tidak dapat melanjutkan ceritanya. Dia tak mampu menahan rasa sedih. Isak tangisnya semakin menyayat-nyayat hati. Aku berusaha menahan diri dan mecoba membangkitkan semangatnya, ketegarannya.
Sudahlah, Mas! Yang sabar. Yang tabah. Tuhan akan mengasihi umatnya yang sabar. Tuhan Maha Adil. Tuhan pasti memberi balasan yang setimpal kepada orang yang melakukan kebiadaban itu. Sudahlah! Tabahkan hatimu, Mas!” kataku .
“ Adikku, Marpuah, waktu itu berusaha menolong Bapak yang sudah tak berdaya. Tapi sungguh malang. Ia tersambar celurit dan parang di bagian leher dan perutnya. Seketika itu dia meninggal. Rumah yang kami tempati dibakar habis. Dan lima sapi yang siap jual ludes dijarah tanpa sisa.”
Suasana menjadi duka dalam kesenyapan yang pilu, bagai matahari di siang bolong yang tertutup awan hitam.
“Bayangkan! Mengapa begitu teganya orang-orang itu membunuh dengan sadis tanpa menelusuri benar atau salah. Ini semua fitnah belaka. Bapak dan Ibu yang begitu rajin shoat, baik dengan sesama tetangga dianggap dukun santet. Dan… Marpuah, dosa apa? Anak sepolos itu! Ah…” katanya dalam tangis kepiluan.
Keperihan hati membawaku ke masa lalu yang begitu indah. Masih jelas terbayang saat-saat aku bersama dengan Mas Sutris yang periang dan suka humor. Mas Sutris kelas tiga SMU sedangkan aku kelas dua. Mas Sutris pandai berbahasa Inggris sehingga setiap sehabis maghrib, aku selalu datang ke rumahnya minta diajari. Dan yang paling mengesankan, aku selalu disuguhi kopi pahit dan segelintir rokok tingwe ( rokok buatan sendiri). Katanya untuk menahan rasa kantuk dan penambah konsentrasi belajar. Memang nikmat. Sejak saat itulah kebiasaan minum kopi dan merokok tertanam padaku sampai sekarang. Bahkan, aku sering tidur di rumahnya kalau kemalaman. Kemudian esok paginya diajak sarapan dengan sambal bajak yang rasanya enak sekali.
Sebenarnya yang mendorongku untuk selalu datang ke rumah Mas Sutris bukan semata-mata alasan belajar bahasa Inggris. Tetapi karena aku jatuh hati dengan adiknya yang bernama Marpuah, yang masih kelas satu SMEA. Ibarat pepatah Jawa mengatakan ‘trisna jalaran saka ngglibet’ (cinta karena selalu didekati), memang ada benarnya juga. Lirikan pertama begitu tergoda. Dilanjutkan senggolan kedua, ketiga dan seterusnya, akhirnya Marpuah pun terjerat ranjau-ranjau cintaku. Dan pada saat yang tepat cintaku pun dijawab ‘ya..ya..ya..’. Hubungan cinta monyet pun terjalin sudah. Mas Sutris sudah kuanggap sebagai kakak sendiri. Begitu pula bapak dan ibunya, sudah kuanggap sebagai orang tua sendiri. Begitu krab. Begitu indah.
Dua bulan menjelang kenaikanku ke kelas tiga, Bapak pindah tugas ke Semarang. Kepindahan tugas Bapak membawa serta seluruh keluarga. Hubungan kami pun sedikit demi sedikit mulai kendur. Pada bulan-bulan pertama masih rajin menulis surat, saling bertukar kabar. Menulis surat cinta monyet pun ikut menghiasi hari-hari yang indah itu. Bahkan, kadang-kadang, aku masih berkunjung dan menginap di rumah Mas Sutris. Sekedar mengobati rasa rindu. Namun, setelah aku naik ke kelas tiga, karena kesibukan menghadapi EBTANAS, surat menyurat semakin surut. Labih-lebih ketika Marpuah sudah menginjak cawu pertama kelas dua, ia tidak pernah membalas surat-surat yang kulayangkan. Aku jadi kehilangan. Surat terakhir yang aku terima mengabarkan bahwa Mas Sutris diterima di Universitar Airlangga Surabaya jurusan kedokteran. Hanya sampai di situ. Sejak saat itulah, hubungan cinta putus tak jelas rimbanya. Marpuah yang kukagumi hilang. Mas Sutris yang pandai bahasa Inggris juga lenyap.
Kini, setelah tiga belas tahun berlalu, Mas Sutri muncul di hadapanku dengan keadaan begitu lain. Bukan Mas Sutris yang kubayangkan akan memakai baju putih, seragam dokter. Oh, mengapa ini bisa terjadi.
“Man, semuanya hancur. Cita-citaku, keluarga yang kucintai tempat aku bercengkerama berbagi suka duka lenyap. Aku sekarang hidup dalam ketakutan. Aku tak berani pulang ke Malang sampai saat ini. Aku selalu menutupi wajahku dengan topi agar tidak dikenali oleh mereka. Mereka berjanji akan membunuh seluruh keluargaku. Kalau saja tidak lari, malam itu, mingkin kamu tidak akan melihat aku hari ini. Aku takut, Man. Sanak familiku juga kabur entah kemana. Semua ketakutan.” . Begitu cerita Mas Sutris menghentikan bayanganku tentang masa lalu.
Kata-kata Mas Sutris terhenti oleh tangisnya. Kulihat Mas Sutris dilanda rasa takut yang amat. Keringat menglair di kening, di hidung, dan di sekitar pelupuk matanya. Dia sedikit menggigil. Dan sekali-sekali menengok ke luar kamar, seakan-akan takut ada orang lain mendengar ceritanya.
“Kemudian, sekarang Sampeyan tinggal di mana?” tanyaku selanjutnya.
“Aku ikut paman, di jalan Cilodong Dalam 32 sini. Silakan ke sana kalau ada waktu,” jawabnya lirih.
Mas Sutris sudah bisa mengendalikan diri. Tangisnya mereda. Sisa-sisa air mata disapu dengan kedua telapak tangnnya. Kemudian dia cepat-cepat mohon diri ketika terdengar ada suara orang berjalan menuju ke kamar yang akan kutempati beberapa hari. Sebelum Mas Sutris sempat melangkahkan kakinya, kutarik dua lembar uang kertas dua puluh ribuan dan kumasukkan ke dalam saku bajunya. Dia mengucap terima kasih dan memelukku erat-erat seakan-akan tidak mau berpisah lagi. Getaran tangannya terasa di punggungku. Tangan itu begitu dingin dan berkeringat. Degub jantungnya pun terasa bergelora cepat. Mas Sutris benar-benar dilanda ketakutan. Sesaat kemudian dia bergegas meninggalkan aku. Suara sandal jepit bertelepokan menghentak-hentak di lantai porselin hotel. Ia menghilang seiring dengan lenyapnya bunyi telepok sandal.
Seperti mimpi ‘byaaar’ adegan berubah. Benarkah orang yang membawa barang-barangku tadi Mas Sutris? Mas Sutris yang calon dokter jadi tukang becak?
Sehabis kegiatan penataran, aku sempatkan mampir ke rumah Paman Mas Sutris. Tapi sayang, alamat dan orang yang dikatakan Paman Mas Sutris tidak pernah kutemukan. Mas Sutris kenapa kau berbohong? Di mana kau sekarang? Ah, fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan!
Kutulis untuk mengenang keluarga, Saudara-saudaraku
yang menjadi korban fitnah dan isu dukun santet
Sabtu, 27 Februari 2010
CERPENKU
BERDIRINYA MONUMEN DI SUATU REPUBLIK
Oleh Teguh Pramono
“Mestikah sebuah buah cinta kasih seorang perempuan dengan seorang laki-laki adalah seorang bocah yang keluar dari rahimmu? Selama kau menjawab ‘pasti dan harus’, maka berarti cintamu, bukanlah cinta yang suci, yang tumbuh dan bekembang dari hati nurani terdalam, tetapi cintamu padaku hanyalah cinta palsu, cinta yang kau berikan adalah cinta yang berbeban karena kau akan malu dituding orang sebagai perempuan yang mandul. Kita akan kesepian, memang. Tetapi apakah cintamu akan luntur lantaran dalam rumah ini tak ada seorang bayi yang dapat kau gendong, kau timang? Seharusnya kau tidak begitu istriku kalau kau memang cinta padaku. Dan, kalau memang cintamu itu cinta yang suci.”
“Mas, rumah kita akan gersang tanpa seorang bayi yang akan meneruskan dan melestarikan nama indah kita berdua. Yang akan menulskan nama kita pada jahgad ini setelah kita tiada.”
“Betul kau! Tetapi tidakkah kita bisa mengadopsi atau membeli anak dari luar negeri yang saat ini sedang murah-murahnya.”
Istrinya tidak menjawab. Istrinya Cuma termenung karena kalau mengadopsi atau membeli anak itu berarti merendahkan martabat manusia sejajar dengan barang konsumsi yang lain. Sebuah pikiran gila. Gila nama karena nama yang disandang anak itu nama pembelian orang tuanya saja. Dan hanyalah nama yang maya, tak punya eksistensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Istriku! Bagaimana? Jangan diam saja! Kalau kita sepakat dan mengakui bahwa cinta kita suci pastilah hal ini bukanlah hanlangan bagi kita untuk mangubur cinta kita secara bersama-sama dan membawa ke hadapan-Nya nanti. Kita dapat berkata kepada Tuhan nanti bahwa kita hidup rukun di dunia ini.”
“Mas, ternyata kau laki-laki yang gila nama,” kata istrinya.
“Apa? Gila nama? Apa maksudmu?”
“Kamu berlagak bodh! Bukankah hal itu berarti kau telah menginjak kepalaku dengan kakimu yang penuh tahi?” kata istrinya agak jengkel.
“Istriku, aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraanmu! Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita butuh masa depan yang bahagia. Ada yang merawat. Apakah kau tak menyadari bahwa aku tidak mampu membuahi kamu, menganugerahi anak kepada bumi. Dan itu adalah baik karena belum tentu kita mampu mengurus anak dengan baik. Biaya anak itu mahal apakah tak kau mengerti! Kita wajib mendidik, menyekolahkan, membelikan baju, memngisi hatinya dengan nilai-nilai moral, menjaga agar tetap sehat dan tumbuh menjadi makhluk yang berguna.”
“Mas, ternyata kau secara tidak langsung meremehkan dan mengganggap tetangga-tetangga kita ini, lingkungan kita ini tidak memberikan peluang hidupnya seorang anak ke araha yang lebih baik. Artinya kau telah menganggap semua jelek.”
“Bukan begitu yang kuharap dengan tindakan kita ini. Tetapi, demi membantu anak itu juga, demi masa depannya juga. Coba lihat kehidupan di luar sana! Penuh dengan kekerasan, anarkhi, kebiadapan, dan tindakan-tindakan yang tidak memungkinkan seorang bayi akan terlepas dari pengaruh jeleknya.”
“Heh! Ternyata kau juga berniat tidak suci pada anak yang akan kau ambil atau beli. Bukankah anak itu juga akan meneruskan jiwa orang tuanya. Dia juga ingin hidup bebas seperti kita saat ini. Saat yang paling tak aa ikatan. Kau berbuat semampumu dan sekuat tenagamu. Aku pun berbuat sekeras-kerasnya, sepuas-puasnya tanpa ada orang lain yang mengganggu, karena…karena… sesungguhnya gerakan inilah yang lebih bebas kita lakukan daripada gerakan pikiran kita,” kata istrinya sambil mengekspreikan puncak kenikmatan percumbuan.
“Tidak! Aku membeli atau mengambil anak itu karena aku ingin menolong .“
“Mas, kau bohong pada hati kecilmu! Juga pada istrimu. Ternyata apa yang kau katakan penuh dengan kontradiksi dengan apa yang sebenarnya dan seharusnya kau katakan. Bukankah kau telah membeani anak itu agar nanti mau merawat kita di kala kita telah jompo atau renta tak berdaya? Kau mengukur diri anak itu dengan takaran kebudayaan dan kebiasaanmu. Kau tidak berpikir tentang kemampuan dan latar anak yang akan kau ambil atau beli itu. Kau akan melakukan perkosan, Mas! Jangan lakukan itu semua. Jangan, Mas! Jangan!’” jerit ringkik kuda istrinya di saat terhentak menahan hempasan puncak nafsu birahi.
“ Pantas saja ini kulakukan karena dia kutolong. Dan, ini kurasa wajar,” kata suaminya sambil membenahi sarung pembalut nafsu lelakinya yang terakhir.
“Lho, kok begitu?” kata istrinya.
“Jelas, to! Kalau kita mengeluarkan banyak, yang masuk juga harus banyak. Imbang, kan. Buktinya yang baru saja kita lakukan ini. Tenaga kita banyak terkuras, tetapi impas dengan kenikmatan yang di raih tidak dapat diganti dengan hal lain.”
“Kalau begitu, ana yang kau katakan, kau gembar-gemborkan dengan niat ikhlas dan suci? Mana, Mas?. Betulkan? Kau telah berbohong dengan hati kecilmu sendiri. Ternyata pertolongan Cuma kata-kata yang keluar darimulutmu yang sebenarnya bukanlah kebenaran yang ada di hatimu. Kau sama saja dengan ibu tiriku dulu. Dia merampas kebebasanku. Dia telah menjual aku ke hadapan laki-laki yang konon selalu diberi sebutan agung dengan kata ‘SUAMI’ itu.”
“tutup mulutmu! Kau menghina aku. Kau telah menyinggung peraaanku. Bukankah hidup ini wajib tolong-menolong? Kan, sudah selayaknya kalau anak itu naanti kutolong dan ia menolongku’” bentak suaminya.
“Mas, mana bisa di menolongmu dari dosa-dosa yang telah kau perbuat? Dia bukan pribumi. Dia bukan anak kandung. Dia kan anak dari luar negeri mana mau mengangkat diri kita sementara di negerinya sendiri masih banyak yang harus dikerjakan, termasuk mendoakan orang tua kandungnya sendiri dan membebaskan diri dari lingkunganan jahatnya. Dan, apa yang kita bicarakan ini kan Cuma masih rencana. Belum nyata adanya. Kenapa kamu kok ngomong dengan urat leher sekasar itu.”
“Rencana adalah program yang harus dilaksanakan. Rencana adalah konsep. Dan konsep itu berada di otak. Kalau kau tidak menerima akan pendapatku tentu saja aku akan mempertahankan dengan argumen-argumen yang mendukung.”
Yah, sudahlah semua itu tak usah diperpanjang. Toh, kenyataannya, kita hanyalah bisa menerima saja ketentuan dari Tuhan.”
“Apa? Tuhan? Sejak kapan kau telah mengenal Tuhan? Kamu tak usah berkelit dengan membawa nama Tuhan. Apakah kau lupa dengan nama suami dan nama istri yang kita sandang sekarang ini. Kau adalah istri-istrian dan aku suami-suamian. Namun, itu semua tak kan dihiraukan orang dan tak juga akan diketahui orang. Penulis cerita ini pun tidak akan tahu tentang kita dan hidup kita ini.”
“Mas, ternyata uniamu sekarang telah jauh dengan duniaku. Berapa tahun kau hidup? “
“Kira-kira telah tiga puluh tiga tahun sejak lahir.”
“Sudah lama juga. Tapi, kenapa kau tak berkembang? Mlah mengalami kemuduran mental.”
Apa katamu? Mentalku mundur? Lancang benar kau sekarang! Dengan terus terang telah berani berkata kasar! Apakah kau tak menyadari bahwa ini semua kita lakukan atas dasar cinta. Kau suka dan aku suka. Dan karena rasa itulah kemudian kita saling menyetujui istilah suami dan istri ini. Apa kau lupa?”
“Aku sama sekali tidak lupa. Aku masih ingat dan masih bening semuanya itu di hati ini. Namun, sekarang semua sudah beda. Waktu telah mengubah semuanya. Pikiranku pun berubah. Untuk itu bisa saja aku akan mengelak segala jani-janji palsu. Janji yang tidak dikuatkan oleh bukti hitam di ata putih. Janjimu palsu! Kau mengguna-gunai aku dan main sekongkol transaksi keperawanan dengan ibu tiriku. Kau penjahat! Pembohong! Kau setan! Aku akan kembali kejalanku! Ke jalan yang telah kau telikungkan ke arah ketidakpastian. “
“Palaagh! Plagh! Bug! Bug ! Plaaar!”
Suaminya tiba-tiba mengamuk tak terkendali menghajar istrinya. Darah segar membasah, mengalir di lantai, yang entah sejak kapan lantai itu menjadi saksi bisu diskusi cinta mereka berdua.
Diam kaku beberapa saat. Tegang mencekam mengurung. Letupan-letupan amarah menghempas-hempas kegersangan nurani. Mata suami itu terbelalak seketika menydari apa yang terjadi. Tak percaya dengan malam yang terkutuk meremas-remasnya. Istrinya dipeluknya. Mencoba mengangkatnya. Namun tidak jadi karena darah semakin menggenang menutup pori-pori lantai.
Malam semakin melarut dengan sunyi. Deru kipas angin masih terus bergemuruh. Suaminya nampak memutar pikirannya. Matanya nyalang ke sana ke mari. Beberapa saat kemudian mendekati kipas angin. Cepat-cepat kipas angin diambil dan didekatkan kepada istrinya. Kedua tangan istrinya digerak-gerakkan ke ata dan ke bawah. Rupanya suaminya memcoba memberikan pernafasan buatan. Namun, usahanya itu tidak memberikan hasil karena istrinya tidak bereaksi sama sekali. Suaminya mulai dihinggapi keresahan. Sebentar berjalan menjauhi istrinya, sebentar berikutnya mendekati, memeluk, membelai, menanyai, menciumi. Hal demikian dilakukan berulang-ulang seperti tidak jelas arah dan tujuannya.
Jam dinding berdentang dua kali. Malam melarut sunyi. Sesunyi deru kipas angin yang berputar sendirian. Tiba-tiba suaminya melonjak tinggi-tingi. Mulutnya nampak berkomat-kamit. Matanya sering kali melotot bila secara kebetulan hinggap pada sesuatu benda yang entah tidak jelas apa yang dipiirkan. Dan, kali ini juga begitu. Menatap tajam ke sebuah bentangan dinding kamar.
“Bangsat! Kurang ajar!” Suaminya mengumpat entah kepada siapa. Nafasnya nampak tersengal-sengal. Gerahamnya bergeretak-geretak menggigit giginya sendiri. Kemudian tatapan matanya itu berpindah ke istrinya yang diam beku di lantai. Entah berapa lama mata itu terpancang kepada tubuh istrinya.
Jam setenga dua malam. Diding kamar remang kelabu melarut sepi. Sesepi kipas angin yang menderu sendiri. Entah mulai kapan, tatapan mata suaminya sudah mulai meredup. Kecemasan berputar-putar menggelayut suaminya. Suaminya mletakkan tangannya di kening istrinya. Tangan itu meraba-raba hidung istrinya. Telinganya ditempelkan pula ke hidung istrinya.
“Tidak! Tidak! Aku harus bertanya tentang makna tolong-menolong ini kepada orang yang lebih paham. Aku tidak mau istriku kecewa karena konsepnya aku tolak begitu saja tanpa komparasi opini. Tidak! Tidak! Aku tidak berdosa!” kata suaminya sampai entah berapa kali. Yang jelas dentinagn jarum jam masih terus terdengar ketka suaminya teridur pulas di atas ranjang.
Jam dua kurang spuluh menit, suaminya bngun. Dia melangkah mendekati meja. Diambilnya kertas dan ball poin. Ia menuliskan sesuatu di kertas itu. Tulisannya sperti tertera di baah ini.
Untuk kau, yang menempuh pejalanan diam sepanjang waktu
Aku mencintai kamu
Di saat butir-butir embun memeluk daun pagi
Saat baskara beranjak dilela angin dari nyenyaknya
Dan di saat burung-burung bercanda dengan senja lucu
Dari lugumu
Terpaut cinta di dada
Aku mencintaimu
Cinta mawar pagi berembun
Cinta sedap malam
Cinta kemboja putih dini hari
Istriku, aku masih sayang kamu walaupun aku tak bisa memberimu seorang bayi dan aku telah berbuat dosa bersamamu. Berdosa pada dunia serta berdosa pada alam. Dan, pada akhir pertemuan kita malam ini, aku mohon maaf atas semuan dosa yang telah kuperbuat. Marilah kita lebur dan hanyutkan istilah suami dan istri yang telah kita rajut ini ke dalam aliran arus malam agar dosa kita tak berlanjut sampai ajalmu dan ajalku.
Dari aku, yang menunggu arus malam
Kertas itu dilipat tiga mamnjang dan diletakkan menyilang di tas kening istinya. Suaminya bersimpuh di sisi istrinya. Suara tangisnya menderu diantara pusaran kipas angin hingga rapat-rapat menenuhi ruangan. Suaminya dilanda kecengengan. Wajahnya layu. Wajahnya kuyup oleh air mata. Dan malam semakin pekat melarut sunyi.
Jam dua kurang tiga menit. Suaminya berjalan tak tentu arah. Semua sudut ruang yang semakin sempit menghimpit dijelajahi. Seluruh sisi ruang juga telah lumat dipandangin. Pada suatu kesempatan, tangan sebelah kanannya mengepal kencang dan dibentur-benturkan pada telapak tangan kirinya.
“Kriiing! Kriing! “ jam berdenting dua kali. Suaminya melompat terkejut. Matanya dengan tajam menghujam ke jam dinding itu. Kemarahannya meledak. Jam dinding dihempaskan dengan umpatan kasar. Dia berteriak-teriak, berlari-lari berupaya membuka kamar yang terasa semakin menghimpit. Namun, rupanya kamar tidak memberi kemungkinan unutk keluar. Semua jendela dan pintu terkunci rapat.
Malam masih merajut sepi. Suaminya terkunci dalam kepengapan kamar seipi amis darah istrinya. Sambil terus berteriak semua barang yang ada dalam kamar itu dibantingi dan dihempaskan penuh dengan keencian. Entah apa yang dibenci.
“Tolong…! Tolong! Tolonglah aku! Aku tidak mau dibelenggu seperti ini. Aku ingin berlari! Aku tak kuat dengan penyiksaan seperti ini! Tolonglah! Bukalah pintu ini!”
Teriakan itu begitu kuat dan kerasnya sehingga orang-orang pada terbangun. Ruangan itu kini menjadi pusat perhatian massa. Orang-orang mengira ada ada perampokan atau pembunuhan. Kontan semua orang siap dengan senjatanya masing-masing. Ada yang membawa senter, obor, ada yang membawa parang, pentung dll. Setiap teriakan terdengar kerumunan orang bagai digerakkan oleh tenaga gaib, secara serentak merangsek ke arah kamar. Tetapi kamar tetaplah kamar yang terkunci rapat.
Malam melahirkan kebekuan. Deru kipas angin masih berbutar pada porosnya membentuk gerai-gerai gelombang ketegangan. Orang-orang masih ribut dengan gagasannya masing-masing. Tiba-tiba teriakan terdengar lagi setelah beberapa waktu vakum. Suaminya kehilangan kunci untuk membuka kamarnya. Dua orang yang paling gemuk mencoba mendobrak pintu. Suaranya menggelegar bagai tebakan.
“He, ayo bantu aku! Jangan bengong semua!” teriak salah seorang yang mendobrak pintu.
“He, ayo cepat kita tolong orang ini! Bukankah kita hidup ini wajib tolong-menolong,” teriakan salah seorang yang juga ikut membuka pintu dan jendela.
Dengan iming-iming pahala akhirnya semua orang sangat antuis memberikan upaya-upaya pertolongan. Bahkan, mereka saling berebut. Tak dapat dielakkan lagi daerah sekeliling ruang di mana suaminya terbelenggu itu berdesak-desak, ingin memberikan dermanya dengan pahala. Akhirnya, secara perlahan tapi pasti sekitar ruangan itu menjadilah arena perebutkan. Bagai gerombolan ayam kelaparan mereka saling sikut, saling dorong, saling, tonjok, saling menginjak, saling meniindih, tidak memperdulikan kawan-kawannya. Tanpa disadari keributan meningkat menjadi perkelaian masal. Amat mengerikan. Yang satu memukul yang yalin. Yang lain membacok yang lainnya lagi dan seterusnya.Korban pun berjatuhan. Darah muncrat ke segala arah. Tak ada pahlawan lagi. Semua jadi pengkhianat. Atau semua ingin jadi pahlawan dengan mengkhianati kawannya sendiri.
Malam merajut pekat dengan sepi. Gelombang merapat dengan dining-dinding ruang. Warna suram membentang ke segala pandangan. Suaminya semakin tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak bisa mengintip apa yang di luar. Hanya bisa mendengar kerinutan. Keribautan apa tak tahu. Kenapa ribut, untuk apa ribut tak dapat dipahami lagi asal-usulnya. Di balik kamar jerit dan tangis justru lebih keras mengalahkan segala kekalutan yang dirasa suaminya. Masih adakah harapan menemukan lubang untuk sekedar melihat sinar di luar ruang. Tak ada yang bisa menjawab! Yang nampak hanyalah gelap dan bau amis darah. Pada suatu kesempatan ia mencoba berteriak. Namun, teriakan itu tetap tiggal terikan. Dan pintu ruangan tidak pernah terbuka. Sampai cerita ini usai ia maih berteriak minta tolong.
Deru kipas angin menerpa serpihan malam. Pagi mulai membidik pucuk gunung di ufuk timur. Suara kehidupan alam sesekali membuka pelana kematian. Dan akhirnya sinar pagi menyala. Semua jelas terlihat. Tumpukan mayat-mayat telah menjadi patung peringatan. Monumen Pergerakan Kemerdekaan Republik Para Pengkhianan dan Pengumbar Nafsu.
Oleh Teguh Pramono
“Mestikah sebuah buah cinta kasih seorang perempuan dengan seorang laki-laki adalah seorang bocah yang keluar dari rahimmu? Selama kau menjawab ‘pasti dan harus’, maka berarti cintamu, bukanlah cinta yang suci, yang tumbuh dan bekembang dari hati nurani terdalam, tetapi cintamu padaku hanyalah cinta palsu, cinta yang kau berikan adalah cinta yang berbeban karena kau akan malu dituding orang sebagai perempuan yang mandul. Kita akan kesepian, memang. Tetapi apakah cintamu akan luntur lantaran dalam rumah ini tak ada seorang bayi yang dapat kau gendong, kau timang? Seharusnya kau tidak begitu istriku kalau kau memang cinta padaku. Dan, kalau memang cintamu itu cinta yang suci.”
“Mas, rumah kita akan gersang tanpa seorang bayi yang akan meneruskan dan melestarikan nama indah kita berdua. Yang akan menulskan nama kita pada jahgad ini setelah kita tiada.”
“Betul kau! Tetapi tidakkah kita bisa mengadopsi atau membeli anak dari luar negeri yang saat ini sedang murah-murahnya.”
Istrinya tidak menjawab. Istrinya Cuma termenung karena kalau mengadopsi atau membeli anak itu berarti merendahkan martabat manusia sejajar dengan barang konsumsi yang lain. Sebuah pikiran gila. Gila nama karena nama yang disandang anak itu nama pembelian orang tuanya saja. Dan hanyalah nama yang maya, tak punya eksistensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Istriku! Bagaimana? Jangan diam saja! Kalau kita sepakat dan mengakui bahwa cinta kita suci pastilah hal ini bukanlah hanlangan bagi kita untuk mangubur cinta kita secara bersama-sama dan membawa ke hadapan-Nya nanti. Kita dapat berkata kepada Tuhan nanti bahwa kita hidup rukun di dunia ini.”
“Mas, ternyata kau laki-laki yang gila nama,” kata istrinya.
“Apa? Gila nama? Apa maksudmu?”
“Kamu berlagak bodh! Bukankah hal itu berarti kau telah menginjak kepalaku dengan kakimu yang penuh tahi?” kata istrinya agak jengkel.
“Istriku, aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraanmu! Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kita butuh masa depan yang bahagia. Ada yang merawat. Apakah kau tak menyadari bahwa aku tidak mampu membuahi kamu, menganugerahi anak kepada bumi. Dan itu adalah baik karena belum tentu kita mampu mengurus anak dengan baik. Biaya anak itu mahal apakah tak kau mengerti! Kita wajib mendidik, menyekolahkan, membelikan baju, memngisi hatinya dengan nilai-nilai moral, menjaga agar tetap sehat dan tumbuh menjadi makhluk yang berguna.”
“Mas, ternyata kau secara tidak langsung meremehkan dan mengganggap tetangga-tetangga kita ini, lingkungan kita ini tidak memberikan peluang hidupnya seorang anak ke araha yang lebih baik. Artinya kau telah menganggap semua jelek.”
“Bukan begitu yang kuharap dengan tindakan kita ini. Tetapi, demi membantu anak itu juga, demi masa depannya juga. Coba lihat kehidupan di luar sana! Penuh dengan kekerasan, anarkhi, kebiadapan, dan tindakan-tindakan yang tidak memungkinkan seorang bayi akan terlepas dari pengaruh jeleknya.”
“Heh! Ternyata kau juga berniat tidak suci pada anak yang akan kau ambil atau beli. Bukankah anak itu juga akan meneruskan jiwa orang tuanya. Dia juga ingin hidup bebas seperti kita saat ini. Saat yang paling tak aa ikatan. Kau berbuat semampumu dan sekuat tenagamu. Aku pun berbuat sekeras-kerasnya, sepuas-puasnya tanpa ada orang lain yang mengganggu, karena…karena… sesungguhnya gerakan inilah yang lebih bebas kita lakukan daripada gerakan pikiran kita,” kata istrinya sambil mengekspreikan puncak kenikmatan percumbuan.
“Tidak! Aku membeli atau mengambil anak itu karena aku ingin menolong .“
“Mas, kau bohong pada hati kecilmu! Juga pada istrimu. Ternyata apa yang kau katakan penuh dengan kontradiksi dengan apa yang sebenarnya dan seharusnya kau katakan. Bukankah kau telah membeani anak itu agar nanti mau merawat kita di kala kita telah jompo atau renta tak berdaya? Kau mengukur diri anak itu dengan takaran kebudayaan dan kebiasaanmu. Kau tidak berpikir tentang kemampuan dan latar anak yang akan kau ambil atau beli itu. Kau akan melakukan perkosan, Mas! Jangan lakukan itu semua. Jangan, Mas! Jangan!’” jerit ringkik kuda istrinya di saat terhentak menahan hempasan puncak nafsu birahi.
“ Pantas saja ini kulakukan karena dia kutolong. Dan, ini kurasa wajar,” kata suaminya sambil membenahi sarung pembalut nafsu lelakinya yang terakhir.
“Lho, kok begitu?” kata istrinya.
“Jelas, to! Kalau kita mengeluarkan banyak, yang masuk juga harus banyak. Imbang, kan. Buktinya yang baru saja kita lakukan ini. Tenaga kita banyak terkuras, tetapi impas dengan kenikmatan yang di raih tidak dapat diganti dengan hal lain.”
“Kalau begitu, ana yang kau katakan, kau gembar-gemborkan dengan niat ikhlas dan suci? Mana, Mas?. Betulkan? Kau telah berbohong dengan hati kecilmu sendiri. Ternyata pertolongan Cuma kata-kata yang keluar darimulutmu yang sebenarnya bukanlah kebenaran yang ada di hatimu. Kau sama saja dengan ibu tiriku dulu. Dia merampas kebebasanku. Dia telah menjual aku ke hadapan laki-laki yang konon selalu diberi sebutan agung dengan kata ‘SUAMI’ itu.”
“tutup mulutmu! Kau menghina aku. Kau telah menyinggung peraaanku. Bukankah hidup ini wajib tolong-menolong? Kan, sudah selayaknya kalau anak itu naanti kutolong dan ia menolongku’” bentak suaminya.
“Mas, mana bisa di menolongmu dari dosa-dosa yang telah kau perbuat? Dia bukan pribumi. Dia bukan anak kandung. Dia kan anak dari luar negeri mana mau mengangkat diri kita sementara di negerinya sendiri masih banyak yang harus dikerjakan, termasuk mendoakan orang tua kandungnya sendiri dan membebaskan diri dari lingkunganan jahatnya. Dan, apa yang kita bicarakan ini kan Cuma masih rencana. Belum nyata adanya. Kenapa kamu kok ngomong dengan urat leher sekasar itu.”
“Rencana adalah program yang harus dilaksanakan. Rencana adalah konsep. Dan konsep itu berada di otak. Kalau kau tidak menerima akan pendapatku tentu saja aku akan mempertahankan dengan argumen-argumen yang mendukung.”
Yah, sudahlah semua itu tak usah diperpanjang. Toh, kenyataannya, kita hanyalah bisa menerima saja ketentuan dari Tuhan.”
“Apa? Tuhan? Sejak kapan kau telah mengenal Tuhan? Kamu tak usah berkelit dengan membawa nama Tuhan. Apakah kau lupa dengan nama suami dan nama istri yang kita sandang sekarang ini. Kau adalah istri-istrian dan aku suami-suamian. Namun, itu semua tak kan dihiraukan orang dan tak juga akan diketahui orang. Penulis cerita ini pun tidak akan tahu tentang kita dan hidup kita ini.”
“Mas, ternyata uniamu sekarang telah jauh dengan duniaku. Berapa tahun kau hidup? “
“Kira-kira telah tiga puluh tiga tahun sejak lahir.”
“Sudah lama juga. Tapi, kenapa kau tak berkembang? Mlah mengalami kemuduran mental.”
Apa katamu? Mentalku mundur? Lancang benar kau sekarang! Dengan terus terang telah berani berkata kasar! Apakah kau tak menyadari bahwa ini semua kita lakukan atas dasar cinta. Kau suka dan aku suka. Dan karena rasa itulah kemudian kita saling menyetujui istilah suami dan istri ini. Apa kau lupa?”
“Aku sama sekali tidak lupa. Aku masih ingat dan masih bening semuanya itu di hati ini. Namun, sekarang semua sudah beda. Waktu telah mengubah semuanya. Pikiranku pun berubah. Untuk itu bisa saja aku akan mengelak segala jani-janji palsu. Janji yang tidak dikuatkan oleh bukti hitam di ata putih. Janjimu palsu! Kau mengguna-gunai aku dan main sekongkol transaksi keperawanan dengan ibu tiriku. Kau penjahat! Pembohong! Kau setan! Aku akan kembali kejalanku! Ke jalan yang telah kau telikungkan ke arah ketidakpastian. “
“Palaagh! Plagh! Bug! Bug ! Plaaar!”
Suaminya tiba-tiba mengamuk tak terkendali menghajar istrinya. Darah segar membasah, mengalir di lantai, yang entah sejak kapan lantai itu menjadi saksi bisu diskusi cinta mereka berdua.
Diam kaku beberapa saat. Tegang mencekam mengurung. Letupan-letupan amarah menghempas-hempas kegersangan nurani. Mata suami itu terbelalak seketika menydari apa yang terjadi. Tak percaya dengan malam yang terkutuk meremas-remasnya. Istrinya dipeluknya. Mencoba mengangkatnya. Namun tidak jadi karena darah semakin menggenang menutup pori-pori lantai.
Malam semakin melarut dengan sunyi. Deru kipas angin masih terus bergemuruh. Suaminya nampak memutar pikirannya. Matanya nyalang ke sana ke mari. Beberapa saat kemudian mendekati kipas angin. Cepat-cepat kipas angin diambil dan didekatkan kepada istrinya. Kedua tangan istrinya digerak-gerakkan ke ata dan ke bawah. Rupanya suaminya memcoba memberikan pernafasan buatan. Namun, usahanya itu tidak memberikan hasil karena istrinya tidak bereaksi sama sekali. Suaminya mulai dihinggapi keresahan. Sebentar berjalan menjauhi istrinya, sebentar berikutnya mendekati, memeluk, membelai, menanyai, menciumi. Hal demikian dilakukan berulang-ulang seperti tidak jelas arah dan tujuannya.
Jam dinding berdentang dua kali. Malam melarut sunyi. Sesunyi deru kipas angin yang berputar sendirian. Tiba-tiba suaminya melonjak tinggi-tingi. Mulutnya nampak berkomat-kamit. Matanya sering kali melotot bila secara kebetulan hinggap pada sesuatu benda yang entah tidak jelas apa yang dipiirkan. Dan, kali ini juga begitu. Menatap tajam ke sebuah bentangan dinding kamar.
“Bangsat! Kurang ajar!” Suaminya mengumpat entah kepada siapa. Nafasnya nampak tersengal-sengal. Gerahamnya bergeretak-geretak menggigit giginya sendiri. Kemudian tatapan matanya itu berpindah ke istrinya yang diam beku di lantai. Entah berapa lama mata itu terpancang kepada tubuh istrinya.
Jam setenga dua malam. Diding kamar remang kelabu melarut sepi. Sesepi kipas angin yang menderu sendiri. Entah mulai kapan, tatapan mata suaminya sudah mulai meredup. Kecemasan berputar-putar menggelayut suaminya. Suaminya mletakkan tangannya di kening istrinya. Tangan itu meraba-raba hidung istrinya. Telinganya ditempelkan pula ke hidung istrinya.
“Tidak! Tidak! Aku harus bertanya tentang makna tolong-menolong ini kepada orang yang lebih paham. Aku tidak mau istriku kecewa karena konsepnya aku tolak begitu saja tanpa komparasi opini. Tidak! Tidak! Aku tidak berdosa!” kata suaminya sampai entah berapa kali. Yang jelas dentinagn jarum jam masih terus terdengar ketka suaminya teridur pulas di atas ranjang.
Jam dua kurang spuluh menit, suaminya bngun. Dia melangkah mendekati meja. Diambilnya kertas dan ball poin. Ia menuliskan sesuatu di kertas itu. Tulisannya sperti tertera di baah ini.
Untuk kau, yang menempuh pejalanan diam sepanjang waktu
Aku mencintai kamu
Di saat butir-butir embun memeluk daun pagi
Saat baskara beranjak dilela angin dari nyenyaknya
Dan di saat burung-burung bercanda dengan senja lucu
Dari lugumu
Terpaut cinta di dada
Aku mencintaimu
Cinta mawar pagi berembun
Cinta sedap malam
Cinta kemboja putih dini hari
Istriku, aku masih sayang kamu walaupun aku tak bisa memberimu seorang bayi dan aku telah berbuat dosa bersamamu. Berdosa pada dunia serta berdosa pada alam. Dan, pada akhir pertemuan kita malam ini, aku mohon maaf atas semuan dosa yang telah kuperbuat. Marilah kita lebur dan hanyutkan istilah suami dan istri yang telah kita rajut ini ke dalam aliran arus malam agar dosa kita tak berlanjut sampai ajalmu dan ajalku.
Dari aku, yang menunggu arus malam
Kertas itu dilipat tiga mamnjang dan diletakkan menyilang di tas kening istinya. Suaminya bersimpuh di sisi istrinya. Suara tangisnya menderu diantara pusaran kipas angin hingga rapat-rapat menenuhi ruangan. Suaminya dilanda kecengengan. Wajahnya layu. Wajahnya kuyup oleh air mata. Dan malam semakin pekat melarut sunyi.
Jam dua kurang tiga menit. Suaminya berjalan tak tentu arah. Semua sudut ruang yang semakin sempit menghimpit dijelajahi. Seluruh sisi ruang juga telah lumat dipandangin. Pada suatu kesempatan, tangan sebelah kanannya mengepal kencang dan dibentur-benturkan pada telapak tangan kirinya.
“Kriiing! Kriing! “ jam berdenting dua kali. Suaminya melompat terkejut. Matanya dengan tajam menghujam ke jam dinding itu. Kemarahannya meledak. Jam dinding dihempaskan dengan umpatan kasar. Dia berteriak-teriak, berlari-lari berupaya membuka kamar yang terasa semakin menghimpit. Namun, rupanya kamar tidak memberi kemungkinan unutk keluar. Semua jendela dan pintu terkunci rapat.
Malam masih merajut sepi. Suaminya terkunci dalam kepengapan kamar seipi amis darah istrinya. Sambil terus berteriak semua barang yang ada dalam kamar itu dibantingi dan dihempaskan penuh dengan keencian. Entah apa yang dibenci.
“Tolong…! Tolong! Tolonglah aku! Aku tidak mau dibelenggu seperti ini. Aku ingin berlari! Aku tak kuat dengan penyiksaan seperti ini! Tolonglah! Bukalah pintu ini!”
Teriakan itu begitu kuat dan kerasnya sehingga orang-orang pada terbangun. Ruangan itu kini menjadi pusat perhatian massa. Orang-orang mengira ada ada perampokan atau pembunuhan. Kontan semua orang siap dengan senjatanya masing-masing. Ada yang membawa senter, obor, ada yang membawa parang, pentung dll. Setiap teriakan terdengar kerumunan orang bagai digerakkan oleh tenaga gaib, secara serentak merangsek ke arah kamar. Tetapi kamar tetaplah kamar yang terkunci rapat.
Malam melahirkan kebekuan. Deru kipas angin masih berbutar pada porosnya membentuk gerai-gerai gelombang ketegangan. Orang-orang masih ribut dengan gagasannya masing-masing. Tiba-tiba teriakan terdengar lagi setelah beberapa waktu vakum. Suaminya kehilangan kunci untuk membuka kamarnya. Dua orang yang paling gemuk mencoba mendobrak pintu. Suaranya menggelegar bagai tebakan.
“He, ayo bantu aku! Jangan bengong semua!” teriak salah seorang yang mendobrak pintu.
“He, ayo cepat kita tolong orang ini! Bukankah kita hidup ini wajib tolong-menolong,” teriakan salah seorang yang juga ikut membuka pintu dan jendela.
Dengan iming-iming pahala akhirnya semua orang sangat antuis memberikan upaya-upaya pertolongan. Bahkan, mereka saling berebut. Tak dapat dielakkan lagi daerah sekeliling ruang di mana suaminya terbelenggu itu berdesak-desak, ingin memberikan dermanya dengan pahala. Akhirnya, secara perlahan tapi pasti sekitar ruangan itu menjadilah arena perebutkan. Bagai gerombolan ayam kelaparan mereka saling sikut, saling dorong, saling, tonjok, saling menginjak, saling meniindih, tidak memperdulikan kawan-kawannya. Tanpa disadari keributan meningkat menjadi perkelaian masal. Amat mengerikan. Yang satu memukul yang yalin. Yang lain membacok yang lainnya lagi dan seterusnya.Korban pun berjatuhan. Darah muncrat ke segala arah. Tak ada pahlawan lagi. Semua jadi pengkhianat. Atau semua ingin jadi pahlawan dengan mengkhianati kawannya sendiri.
Malam merajut pekat dengan sepi. Gelombang merapat dengan dining-dinding ruang. Warna suram membentang ke segala pandangan. Suaminya semakin tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak bisa mengintip apa yang di luar. Hanya bisa mendengar kerinutan. Keribautan apa tak tahu. Kenapa ribut, untuk apa ribut tak dapat dipahami lagi asal-usulnya. Di balik kamar jerit dan tangis justru lebih keras mengalahkan segala kekalutan yang dirasa suaminya. Masih adakah harapan menemukan lubang untuk sekedar melihat sinar di luar ruang. Tak ada yang bisa menjawab! Yang nampak hanyalah gelap dan bau amis darah. Pada suatu kesempatan ia mencoba berteriak. Namun, teriakan itu tetap tiggal terikan. Dan pintu ruangan tidak pernah terbuka. Sampai cerita ini usai ia maih berteriak minta tolong.
Deru kipas angin menerpa serpihan malam. Pagi mulai membidik pucuk gunung di ufuk timur. Suara kehidupan alam sesekali membuka pelana kematian. Dan akhirnya sinar pagi menyala. Semua jelas terlihat. Tumpukan mayat-mayat telah menjadi patung peringatan. Monumen Pergerakan Kemerdekaan Republik Para Pengkhianan dan Pengumbar Nafsu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Di dadaku ada dua wajah gadis kecil yang manis
sejak lama kutelusuri jalan-jalan berbatu sejak itu hasrat dan anganku menjadi satu menemui jiwa-Mu
ketika aku sedang memandangi pagelaran kehidupan alam aneka rupa menuduh diriku yang menjauh dari-Mu
dirku yang selalu mencari
aha aku telah temui sekelumit nada lirih menyapu telinga sebelah kemana suara yang sebelah ?