Selasa, 23 Februari 2010

Bank Naskah

SIPON SI KEMBOJA PUTIH

PELAKU:
SIPON = IBU = NARATOR



LAMPU PANGGUNG MENYALA TERANG. DARI SISI LAIN RUANG PERTUNJUKKAN, MUSIK CERIA MENGIRINGI MASUKNYA SIPON KE DALAM PANGUNG. SIPON BERNYANYI SAMBIL MENARI

SIPON :
Ibu adalah aku, aku adalah ibu
Ibu adalah aku, aku adalah ibu
Ibu adalah langit biru, langit biru adalah aku
Ibu adalah bulan sabit, bulan sabit adalah aku
Ibu adalah Kemboja Putih, Keboja Putih adalah aku
Aku adalah ibu, ibu adalah aku
Aku adalah ibu, ibu adalah aku
Karena aku dan ibu adalah SATU
Tetapi … ( BERHENTI UNTUK BEBERAPA SAAT) Kalau ibu akan menikahkan aku dengan lelaki pilihannya, berarti ibu bukan aku!
(KE PENONTON) Maaf penonton! Aku sebagai anak satu-satunya seorang janda yang agak materialis, bolehlah dibilang begitu, tidak mau kalau dijodohkan begitu saja, tanpa memperhitungkan perasaan yang kurasakan. Aku sendiri heran mengapa jaman sudah demokratis, tetapi ibu masih suka otoriter. Bagaimana sih sebenarnya ceritanya? Ikuti saja!

SIPON MENGAMBIL POSISI DAN MEMERANKAN SEORANG IBU YANG SEDANG MENGHADAPI KETEGUHAN PENDIRIAN ANAKNYA DENGAN SINIS

IBU :
Sudah sekian lama aku dilanda derita sepi setiap hari. Aku ingin rumah kita ini lebih hidup penuh canda dan tawa seperti dulu lagi. Kau anak satu-satunya harapan pengusir sepi, harus bisa membalas budi. Ibu ingin kau mematuhi permintaan ibu! Menikah dengan Drs. Panji Abdul Sholeh! Tidak boleh kau tolak. Sudah lama kau kuberi kesempatan untuk menjawabnya. Sekarang waktu yang kuberikan sudah habis. Ayo jawab ! Mau, kan! Mau, Kan? (MARAH) He! Kenapa kau diam saja! Tidak cukupkah cinta ibu sebagai bukti untuk balas budi. Masih akankah kau katakan, bahwa perkawinan itu bukan penyatuan tetapi perpecahan? Kau tahu, calonmu ini seorang Dosen bertitel yang bolak-balik mendapat penghargaan karena prestasinya ! Gajinya besar!, Mobilnya dua! Pendidikannya tinggi dan sudah punya rumah sendiri! Dia itu sudah jelas dan benderang masa depannya. Apa kau masih mempertahankan perjakamu yang setiap hari cas cis cus, jreng-jreng, hah, hih, hoh, latihan vokal itu? (MENGHAMPIRI SIPON DAN MENOHOKNYA DENGAN JENGKEL) Heh! Anak gendheng! Sudah sekarang pikirkan baik-baik! Kau mau balas budi cinta ibu atau tidak! (MEMBENTAK DAN PERGI)
(Maaf Penonton! Sepertinya, Penonton Kurang Suka Dengan Ibu Tadi. Tetapi, Tanpa Bermaksud Mengurangi Daya Apresiasi Penonton Mari Cerita Ini Kita Teruskan).

IBU MELEPAS SEMUA KOSTUM DAN ASESORIS YANG DIKENAKAN. SETELAH ITU, IA LANGSUNG BERGANTI PERAN MENJADI SIPON.
(Sipon Si Kemboja Putih, Terlepas Dari Tangkai Terterpa Angin. Mendung Kelabu Melintas Di Atas Tanah Kuburan Meredupkan Bayang-Bayang Tuhan. Sipon Si Kemboja Putih Teringat Seekor Kumbang Terbang Merendah).

SIPON :
MENANGIS) Mas Brodin…! (MENIMANGI FOTO) Tidak ingatkah kata bacaan-bacaan Tuhan yang pernah kita senandungkan? Di relung kelemahan ada palung keperkasaan. Di titik kenistaan ada garis kebijakan. Di antara bentangan jarak ada tali pengikatnya. Mas Brodin… malam gelapku taburilah dengan bintang-bintangmu! Mas Brodin, sibaklah awan di langitku, agar aku bisa melihat matahari. Mas Brodin…. (JENGKEL) Dasar laki-laki tak punya nyali! (SETELAH BEBERAPA SAAT VAKUM)

LAGU:
JENANG GULO
Jenang gulo,
kowe aja lali marang aku iki, ya Dimas,
nalikane nandang susah, aku sing ngancani,
dhek senama,
aku tetep setya, sarta tetep trisna, ya Dimas
dereng nate gawe gela lan gawe kuciwa,
ning saiki, bareng mukti,
kowe kok njur malah lali, marang aku,
sithik-sithik, mesthi nesu, terus ngajak padu,
ja ngono, aja ngono
apa kowe pancen ra kelingan,
jamane dhek biyen yo Dimas,
kowe janji, bungah susah pada dilakoni
(SETELAH VAKUM BEBERAPA SAAT, SIPON SANGAT JENGKEL DAN FRUSTASI)
Baiklah! Baiklah! (FOTO DIHEMPASKAN KE LANTAI).
Baiklah! Kalau semua senang dengan sepi! Akan kuciptakan ramai untuk menemani sepiku. Akan kuusir sepiku dengan sepi! Mas Brodin inilah ramai yang akan mengusir sepi-sepi. Dan sebelumnya, khusus kepada ibu kutulis surat ini sebagai pekabaran kelahiran bagi cucu ibu. Baiklah !
Buat Ibu tersayang,
Ibu, sebelumnya, maafkanlah Sipon! Sebenarnya Sipon tidak tega mengatakan ini semua kepada Ibu. Tetapi, Sipon tak sanggup lagi menyembunyikan apa sebenarnya yang nyata-nyata terjadi pada diri Sipon.
Ibu, sekian lama Sipon menutup rapat rahasia pribadi sampai-sampai Ibu yang mengasuh dan mengukir jiwa raga Sipon pun tidak mengetahuinya. Sipon sungguh memahami bahwa Ibu adalah penabur tinta emas pada lembaran jiwa Sipon. Ibu adalah pohon rindang tempat berteduh di padang pasir. Ibu adalah bulan purnama di malam gelap. Ibu adalah asinnya air lautan kehidupan. Ibu adalah air sejuk di saat-saat kehausan. Ibu adalah kokok ayam jantan di pagi subuh yang telaten membangunkan Sipon agar tidak kesiangan ke sekolah. Ibu adalah selendang sutera bidadari yang beraroma surgawi yang di dalam gendongannya semua bayi di muka bumi ini akan lelap tertidur. Ibu adalah menu empat sehat lima sempurna bagi hidupnya jiwa raga Sipon. Ibu adalah multivitamin yang menjaga Sipon dari segala serangan penyakit. Tapi,…kali ini, sekali lagi Sipon minta maaf. Sipon harus memilih sebuah keputusan yang tidak pernah diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya, yakni menempuh jalan kematian.
Ibu, maafkanlah Sipon Si Kemboja Putih kalau selama ini selalu mengelabuhi Ibu dengan berbagai macam alasan untuk tidak menikah dengan pria pilihanmu. Ibu, Sipon tidak sanggup meluluskan permintaan Ibu: memberi seorang cucu yang Ibu dambakan dari lelaki pilihan Ibu.
Ibu, sejak kecelakaan yang menimpa Sipon dan Bapak dua tahun lalu, ada garis takdir yang harus kita terima. Dengan meninggalnya Bapak, seakan-akan memberi pertanda punahnya keluarga kita. Hal inilah yang takut Sipon katakan kepada Ibu. Hasil analisa dokter cinta menyimpulkan bahwa salah satu fungsi saraf yang berhubungan dengan minat terhadap laki-laki tidak berfungsi lagi, kecuali kepada Mas Brodin. Jadi, sejak setahun yang lalu, Sipon tidak mungkin melalukan hubungan kasih sayang kecuali dengan Mas Brodin. Artinya, kalau toh Sipon menikah dengan lelaki pilihan Ibu hanya akan mendatangkan siksaan belaka. Hidup Sipon tidak berarti lagi jika tidak dinikahkan dengan Mas Brodin. Sipon tidak mungkin kawin dengan lelaki lain , Bu! Sipon takut kawin dengan lelaki lain! Untuk itu, lebih baik Sipon mati saja agar penderitaan yang menyiksa batin Sipon segera terselesaikan. Maafkan Sipon, Bu! Selamat tinggal!
Puteri tersayang,
Sipon Si Kemboja Putih

Kalau Ibu memang menghendaki cucu, aku akan menuruti. Yah, inilah, Ibu! Inilah bayi yang Ibu kehendaki! (SAMBIL MENGULUR KAIN PANJANG YANG MEMBALUT TUBUHNYA) Inilah bayi yang Ibu tunggu! Bayi yang akan menemani Ibu jika kesepian. Bayi yang akan hidup dan tak pernah mati ! Inilah cucu kesayanagn Ibu telah lahir! (MENJERAT LEHERNYA SENDIRI)
Putih Bunga Kemboja Melayang-Layang Di Atas Kuburan. Bulan Sabit Di Sela Awan Hitam Teriak Kesakitan. Bunga Kemboja Tumpuan Harapan Kini Layu Dalam Melahirkan Harapan Sepanjang Hayat. Harapan Ibu Yang Malang Karena Kesepian. Dan Sepi Itu Menapaki Liku-Liku Suram Sepanjang Bayangan Tuhan.
Ibu Tetaplah Ibu. Puing-Puing Harapan Sepi Bukan Halangan Untuk Mencapai Puncak Kepuasan. Suramnya Bayangan Tuhan Bukan Halangan Untuk Menemukan Kepastian Tuhan
Ibu Tetaplah Ibu. Kasing Sayangnya Tak Mungkin Ditutup Dan Dihadang Segala Rintangan.

IBU :
(MENCARI) Bunga Kemboja Putih! Di mana kau? Bunga Kemboja Putihku, Ibu yakin angin darat tidak akan mampu melepaskanmu dari tangkai. Bunga Kemboja Putihku! Di mana kau? Lihatlah! Ibu tidak pernah bosan menyapu langit agar tetap biru! Semuanya untukmu. Lihatlah Ibu juga selalu menjaga pelita ini agar tetap terang benderang!(MENUNJUKKAN PELITA YANG DIBAWA). Semuanya untukmu, sayang! Kembalilah Kemboja Putihku! (MENANGIS) Kembalilah anakku! Ibu telah mengerti arti sebuah bulan sabit yang pernah kau sebutkan! Ibu telah memahami arti langit biru yang pernah kau katakan! Ibu menyesal, Nak! Ibu telah salah dalam memaknai kata cinta. Ibu menyesal mengapa demi keseimbangan galah timbangan, cinta seorang ibu harus dibayar dengan balas budi anak. Maafkan Ibu! Maafkan Ibu! Ibu tidak akan memaksakan perjodohanmu. (MENANGIS TERISAK-ISAK)

PADA SUAU KESEMPATAN, PANDANGAN IBU TERTUJU PADA GAMBAR KEMBOJA PUTIH, BUNGA KESAYANGAN TERGANTUNG DI ATAS PINTU. IBU MENJERIT. IBU TAK SEMPAT MENCERMATI APA SEBENARNYA YANG SEDANG TERJADI. TANGIS PANJANG MEMBENTANG DI GALUR-GALUR KEKALUTAN.
SIPON DARI SISI LAIN MUNCUL SERAYA MENGHAMPIRI IBU YANG MASIH TERSEDU-SEDU.

SIPON :
Ibu! Ibu! (LEBIH KERAS). Ibu ini aku, Kemboja Putih harapan Ibu (MEYAKINKAN KEPADA IBU). Lihatlah ada bayangan Tuhan di sekujur tubuhnya seperti yang pernah Ibu ajarkan melalui aliran kasih dari air susumu, Ibu!

IBU DAN SIPON BERPELUKAN MELAMPIASKAN KEHARUANNYA. SANGAT ERAT. KEDUANYA TIDAK MUNGKIN DIPISAHKAN KARENA DALAM JIWA IBU ADA JIWA SIPON. BEGITU SEBALIKNYA, DALAM JIWA SIPON ADA JIWA IBU.
SIPON DAN IBU MASIH TERUS BERPELUKAN KETIKA LAMPU PANGGUNG SUDAH REDUP. BAHKAN, TERUS BERPELUKAN SAMPAI SELURUH PENONTON MENINGGALKAN RUANG PERTUNJUKKAN.

Ibu adalah aku, aku adalah ibu
Ibu adalah aku, aku adalah ibu
Ibu adalah langit biru, langit biru adalah aku
Ibu adalah bulan sabit, bulan sabit adalah aku
Ibu adalah Kemboja Putih, Keboja Putih adalah aku
Aku adalah ibu, ibu adalah aku
Aku adalah ibu, ibu adalah aku
Karena aku dan ibu adalah SATU
Tetapi …
Kalau ibu akan menikahkan aku dengan lelaki pilihannya, berarti ibu bukan aku!



T A M A T

0 komentar:

Posting Komentar