Senin, 22 Maret 2010

Cerpen

KORBAN ISU SANTET

Menjelang maghrib aku masuk halaman hotel, tempat penataran. Mobil kuparkir di bawah rumah makan yang rupanya oleh pemilik hotel dibangun khusus unutk parkir mobil. Perlengkapan penataran, seperti buku-buku, mesin ketik, dan tas pakaian kuturunkan dari bagasi. Dari arah belakang datang orang menawarkan jasanya.
“Bisa saya bantu, Pak?” katanya dengan sopan.
“Alhamdulillah!” sautku sambil mengemasi beberapa buku yang tersisa di jok mobil belakang, tanpa memperhatikan orang itu.
Tanpa berkata-kata lagi, orang itu langsung mengangkat tas dan barang-barang bawaanku yang lain. Aku menuju sekretariat untuk mendaftarkan diri. Dengan cekatan orang itu mengikuti langkahku dengan menjinjing tas dan mesin ketik.
“Turunkan saja,Pak!” kataku sambil menandatangani blangko daftar ulang.
“Nggak apa-apa, Pak, sudah biasa saya membawa barang begini,” jawabnya.
Setelah penandatanganan selesai, resepsionis menyodorkan kunci pintu kamar.
“Kamar nomor 205 ,Pak!. Ada di lantai dua,” kata resepsionis.
“Lewat mana Mbak?” tanyaku.
“Lewat sini, Pak,” kata laki-laki yang membantu membawakan bawaannku. Ruapanya laki-laki itu sudah sangat hafal dengan ruang-ruang yang ada di situ. Kami pun berjalan ke arah samping kanan. Tangga menuju lantai dua ada di situ. Aku cukup mengikuti ke mana arah laki-laki itu.
“Saya juga biasa cuci mobil dan pakaian pengunjung yang nginap di sini,Pak. Kalau Bapak butuh tenaga, saya siap,” katanya menawarkan diri, “cari saja saya di depan, sebelah pintu gerbang masuk, tempat mangkalnya becak-becak itu.”
“Di sini, Pak, kamar 205,” katanya.
Pintu kamar kubuka. Bau harum kamar menyengat hidungku. Orang iru segera kusuruh memasukkan barang-barang yang dibawanya.
“Terima kasih, ya Pak!” kataku sambil mengambil uang receh dalam saku celana. Kutarik uang seribuan dua lembar. Belum sempat uang kuberikan, kami saling beradu pandng. Aku terpaku. Sepertinya aku kenal orang ini. Tapi di mana, ya! Wajahnya agak sulit kukenali karena separuh tertutup topinya. Ia pun terlihat agak ragu-ragu. Baru beberapa saat kemudian dia mendahului bertanya.
“Maaf, apa Bapak dari Malang?”
“Lho, kok, Sampeyan tahu!” kataku agak terkejut.
“Apakah Sampeyan Suparman, anak Lik Jono?” tanyanya.
“Sampeyan siapa?” tanyaku.
“Aku Sutris, anak Pak Tukijan, blantik sapi!” . Mataku langsung membelalak. Setengah tak percaya. Kucermati sekujur tubuhnya. Kumisnya nampak tebal tak terurus. Kakinya yang bersandal jepit nampak penuh debu. Wajahnya nampak dihiasi beberapa galur keriput.
“Astaghfirlullah hal’adzim! Mas Sutris, kakaknya Marpuah, to?”
“Iya!” jawabnya.
“Sontoloyo! Kenapa jadi begini, Mas?”
Langsung saja dia kurangkul kuat-kuat. Tak terasa air mata keharuan membasah di pelupuk mataku. Mas Sutris pun terdengar isaknya. Suatu pertemuan yang luar biasa mengagetkan.
“Apa yang terjadi, Mas?” kataku sambil melepaskan pelukan.
“Ceritnya panjang, Man” jawabnya.
“Bagaimana Mas? Apa yang terjadi,” kataku sambil mengoncang-goncang bahunya. Mas Sutris tidak langsung menjawab. Ia melangkah menuju jendela. Korden dibukanya. Matanya menerawang jauh, memandang gunung yang dibalut mendung di kejauhan sana. Kemudian ia tarik nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya.
“Nasibku kurang beruntung, Man. Ketika peristiwa isue dukun santet, Bapak dibantai oleh massa. “
Mas Sutris tidak melanjutkan kata-katanya. Isakan tangisnya lebih kuat menyumbat kerongkongannya. Air matanya menetes deras, membasahi baju kumal yang dikenakan.
“Sudahlah, Mas Tris!” kataku mencoba meredakan tangisnya.
“Malam itu benar-benar malam jahanam. Massa bagai kerasukan setan, begitu beringas. Bapak dan Ibu diseret-seret, digebugi, dihajar, dan dicincang-cincang. Dan seketika itu beliau wafat,” lagi-lagi Mas Sutris tidak dapat melanjutkan ceritanya. Dia tak mampu menahan rasa sedih. Isak tangisnya semakin menyayat-nyayat hati. Aku berusaha menahan diri dan mecoba membangkitkan semangatnya, ketegarannya.
Sudahlah, Mas! Yang sabar. Yang tabah. Tuhan akan mengasihi umatnya yang sabar. Tuhan Maha Adil. Tuhan pasti memberi balasan yang setimpal kepada orang yang melakukan kebiadaban itu. Sudahlah! Tabahkan hatimu, Mas!” kataku .
“ Adikku, Marpuah, waktu itu berusaha menolong Bapak yang sudah tak berdaya. Tapi sungguh malang. Ia tersambar celurit dan parang di bagian leher dan perutnya. Seketika itu dia meninggal. Rumah yang kami tempati dibakar habis. Dan lima sapi yang siap jual ludes dijarah tanpa sisa.”
Suasana menjadi duka dalam kesenyapan yang pilu, bagai matahari di siang bolong yang tertutup awan hitam.
“Bayangkan! Mengapa begitu teganya orang-orang itu membunuh dengan sadis tanpa menelusuri benar atau salah. Ini semua fitnah belaka. Bapak dan Ibu yang begitu rajin shoat, baik dengan sesama tetangga dianggap dukun santet. Dan… Marpuah, dosa apa? Anak sepolos itu! Ah…” katanya dalam tangis kepiluan.
Keperihan hati membawaku ke masa lalu yang begitu indah. Masih jelas terbayang saat-saat aku bersama dengan Mas Sutris yang periang dan suka humor. Mas Sutris kelas tiga SMU sedangkan aku kelas dua. Mas Sutris pandai berbahasa Inggris sehingga setiap sehabis maghrib, aku selalu datang ke rumahnya minta diajari. Dan yang paling mengesankan, aku selalu disuguhi kopi pahit dan segelintir rokok tingwe ( rokok buatan sendiri). Katanya untuk menahan rasa kantuk dan penambah konsentrasi belajar. Memang nikmat. Sejak saat itulah kebiasaan minum kopi dan merokok tertanam padaku sampai sekarang. Bahkan, aku sering tidur di rumahnya kalau kemalaman. Kemudian esok paginya diajak sarapan dengan sambal bajak yang rasanya enak sekali.
Sebenarnya yang mendorongku untuk selalu datang ke rumah Mas Sutris bukan semata-mata alasan belajar bahasa Inggris. Tetapi karena aku jatuh hati dengan adiknya yang bernama Marpuah, yang masih kelas satu SMEA. Ibarat pepatah Jawa mengatakan ‘trisna jalaran saka ngglibet’ (cinta karena selalu didekati), memang ada benarnya juga. Lirikan pertama begitu tergoda. Dilanjutkan senggolan kedua, ketiga dan seterusnya, akhirnya Marpuah pun terjerat ranjau-ranjau cintaku. Dan pada saat yang tepat cintaku pun dijawab ‘ya..ya..ya..’. Hubungan cinta monyet pun terjalin sudah. Mas Sutris sudah kuanggap sebagai kakak sendiri. Begitu pula bapak dan ibunya, sudah kuanggap sebagai orang tua sendiri. Begitu krab. Begitu indah.
Dua bulan menjelang kenaikanku ke kelas tiga, Bapak pindah tugas ke Semarang. Kepindahan tugas Bapak membawa serta seluruh keluarga. Hubungan kami pun sedikit demi sedikit mulai kendur. Pada bulan-bulan pertama masih rajin menulis surat, saling bertukar kabar. Menulis surat cinta monyet pun ikut menghiasi hari-hari yang indah itu. Bahkan, kadang-kadang, aku masih berkunjung dan menginap di rumah Mas Sutris. Sekedar mengobati rasa rindu. Namun, setelah aku naik ke kelas tiga, karena kesibukan menghadapi EBTANAS, surat menyurat semakin surut. Labih-lebih ketika Marpuah sudah menginjak cawu pertama kelas dua, ia tidak pernah membalas surat-surat yang kulayangkan. Aku jadi kehilangan. Surat terakhir yang aku terima mengabarkan bahwa Mas Sutris diterima di Universitar Airlangga Surabaya jurusan kedokteran. Hanya sampai di situ. Sejak saat itulah, hubungan cinta putus tak jelas rimbanya. Marpuah yang kukagumi hilang. Mas Sutris yang pandai bahasa Inggris juga lenyap.
Kini, setelah tiga belas tahun berlalu, Mas Sutri muncul di hadapanku dengan keadaan begitu lain. Bukan Mas Sutris yang kubayangkan akan memakai baju putih, seragam dokter. Oh, mengapa ini bisa terjadi.
“Man, semuanya hancur. Cita-citaku, keluarga yang kucintai tempat aku bercengkerama berbagi suka duka lenyap. Aku sekarang hidup dalam ketakutan. Aku tak berani pulang ke Malang sampai saat ini. Aku selalu menutupi wajahku dengan topi agar tidak dikenali oleh mereka. Mereka berjanji akan membunuh seluruh keluargaku. Kalau saja tidak lari, malam itu, mingkin kamu tidak akan melihat aku hari ini. Aku takut, Man. Sanak familiku juga kabur entah kemana. Semua ketakutan.” . Begitu cerita Mas Sutris menghentikan bayanganku tentang masa lalu.
Kata-kata Mas Sutris terhenti oleh tangisnya. Kulihat Mas Sutris dilanda rasa takut yang amat. Keringat menglair di kening, di hidung, dan di sekitar pelupuk matanya. Dia sedikit menggigil. Dan sekali-sekali menengok ke luar kamar, seakan-akan takut ada orang lain mendengar ceritanya.
“Kemudian, sekarang Sampeyan tinggal di mana?” tanyaku selanjutnya.
“Aku ikut paman, di jalan Cilodong Dalam 32 sini. Silakan ke sana kalau ada waktu,” jawabnya lirih.
Mas Sutris sudah bisa mengendalikan diri. Tangisnya mereda. Sisa-sisa air mata disapu dengan kedua telapak tangnnya. Kemudian dia cepat-cepat mohon diri ketika terdengar ada suara orang berjalan menuju ke kamar yang akan kutempati beberapa hari. Sebelum Mas Sutris sempat melangkahkan kakinya, kutarik dua lembar uang kertas dua puluh ribuan dan kumasukkan ke dalam saku bajunya. Dia mengucap terima kasih dan memelukku erat-erat seakan-akan tidak mau berpisah lagi. Getaran tangannya terasa di punggungku. Tangan itu begitu dingin dan berkeringat. Degub jantungnya pun terasa bergelora cepat. Mas Sutris benar-benar dilanda ketakutan. Sesaat kemudian dia bergegas meninggalkan aku. Suara sandal jepit bertelepokan menghentak-hentak di lantai porselin hotel. Ia menghilang seiring dengan lenyapnya bunyi telepok sandal.
Seperti mimpi ‘byaaar’ adegan berubah. Benarkah orang yang membawa barang-barangku tadi Mas Sutris? Mas Sutris yang calon dokter jadi tukang becak?
Sehabis kegiatan penataran, aku sempatkan mampir ke rumah Paman Mas Sutris. Tapi sayang, alamat dan orang yang dikatakan Paman Mas Sutris tidak pernah kutemukan. Mas Sutris kenapa kau berbohong? Di mana kau sekarang? Ah, fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan!

Kutulis untuk mengenang keluarga, Saudara-saudaraku
yang menjadi korban fitnah dan isu dukun santet

0 komentar:

Posting Komentar