Senin, 22 Maret 2010

karma

K A R M A
Oleh: Teguh Pramono

Dia adalah musuhku. Sejak dulu, ia selalu merintangiku. Kini ia datang lagi setelah beberapa waktu lalu kuusir dengan agak kasar. Dia benar-benar bandel, keras kepala, dan selalu usil. Dia tidak pernah mengenal kata putus asa, bosan, atau jera. Setiap detik, di setiap kesempatan, ia pasti muncul dengan senyuman yang manis dan memikat. Tiap kali bertemu, dia selalu menyapa lebih dahulu dengan ramah , suaranya merdu, halus, lagi sopan. Pokoknya kesan pertama begitu menggoda.
“He! Siapa sih kau ini sebenarnya? Dan mengapa kau datang lagi padaku? Ada apa sih sebenarnya?”
“Aku adalah utusan Tuhan. Aku datang kepadamu untuk menyampaikan kabar gembira,” jawabnya.
“Utusan Tuhan? Kabar gembira? Kabar apa? Cepat katakan dan cepat pula kau pergi dari sini! Aku hari ini ingin sendiri. Aku butuh ketenangan,” bentakku.
“Kau akan diberi uang seratus ribu rupiah sama Tuhan.”
“Apa? Aku akan diberi uang seratus ribu? Kok, Dia tahu kalau aku, saat ini sedang kesulitan keuangan? Padahal, aku kan tidak pernah bercerita kepada siapa pun, “tanyaku keheranan.
“Ya tentu, dong! Tuhan itu memang Maha Tahu, tolol! Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada guru agamamu!” jawabnya dengan ekspresi yang begitu khas.
“Di mana uang itu?” tanyaku tidak sabar.
“Sabar dulu! Jangan terlalu bernafsu! Dengar! Dia berpesan, agar uang itu nanti, kau gunakan dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh digunakan untuk membeli minum-minuman keras, tidak boleh untuk beli rokok, apalagi untuk beli pil teler, pil koplo, sabu-sabu, ganja, dan obat-obatan terlarang. Jajan pun tidak boleh. Pokoknya saya disuruh, dan diwanti-wanti agar uang itu digunakan untuk biaya sekolahmu saja. Misalnya, untuk membeli buku, membayar kos, dan melunasi uang SPP-mu yang nunggak itu,” katanya.
“Ah, tidak usah kau banyak bicara lagi! Aku tidak ingin mendengarkan ceramahmu! Di mana uang itu? Cepat katakan! Aku tidak ingin kau berlama-lama di sini! Dokter puskesmas bilang, aku butuh istirahat, biar stresku cepat sembuh! Ayo, cepat katakan di mana uang itu!” desakku agak emosi.
“Oh…ho, jangan tergesa-gesa, Bung! Jangan mudah naik darah! Anda kan tinggal menerima, tidak payah-payah cari ke sana ke mari. Perlu kesabaran,” katanya meredakan emosiku.
“Yah, okelah. Sekarang maumu apa? Aku sekarang pusing. Perlu ketenangan. Katakan saja apa maumu, biar semuanya cepat kita selesaikan.”
“Gini, Bung! Yang dikasih uang itu cuma Anda seorang. Untuk itu, jangan sampai, Bung bilang-bilang kepada orang lain. Orang lain sama sekali tidak boleh tahu peristiwa ini. Semua orang akan sirik, iri, jika mengetahui hal ini,” katanya sedikit berbisik di telingaku.
“Pusing! Pusing! Di mana uang itu? Ayo katakan! Jangan berbelit-belit!” bentakku.
Aku tak sabar menunggu. Kutarik krag baju di lehernya dan dengan agak kasar kucekik leher itu. Dia meronta sesak, nafasnya tersengal-sengal. Setelah ia memberi isyarat akan memberitahukan, baru kulepas.
“Oke! Oke! Akan segera kukatakan!” jawabnya dengan terengah-engah.
Rupanya cekikanku terlalu kuat sehingga ia meringis-ringis menahan sakit. Beberapa kali, ia menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi kekurangan oksigen. Masih dalam nafas yang tersendat-sendat, ia memberitahukan keberadaan uang itu.
“Uang itu berada di dompet. Dompet itu berada di tas teman sekelasmu. Tasnya berwarna merah hati. Tas itu di taruh di dalam bangku pojok depan, sebelah utara. Ambillah! Dan sekali lagi, ingat! Jangan sampai orang lain tahu!”
Aku ragu-ragu. Benarkah ini suruhan Tuhan? Tas merah hati, di pojok depan itu, kan miliknya Cintia, bendahara kelas yang baik hati itu? Mengapa aku disuruh mengambilnya? Ah, tak mungkin rasanya! Tapi…, mungkin benar juga katanya. Tuhan itu, kan baik hati, selalu mencintai umatnya dan akan menolong jika umatnya mengalami kesulitan. Contohnya saat ini. Aku tak punya uang sama sekali, tiba-tiba utusan Tuhan datang dengan membawa kabar gembira. Sungguh melegakan! Tatapan mata sinis bendahara sekolah, yang setiap saat memanggilku, menagih uang tunggakan SPP, akan segera lenyap dari pandangan mata. Benar-benar irrasional. Tuhan tahu kalau aku sedang kesulitan uang, sedang dalam keadaan terdesak, alias kepepet.
“ He! Ayo, ambillah uang itu! Kenapa malah bengong kayak kodok bangkong mabuk gitu,” perintahnya mengagetkan lamunanku.
“Terima kasih atas jasa baikmu kawan. Kau baik sekali! Mudah-mudahan hidupmu kelak bahagia. Kau telah melepaskan aku dari himpitan-himpitan. Apakah kau nanti minta komisi, kawan?” kataku. Ia hanya tersenyum-senyum saja mendengar pujian-pujianku.
“Ah, tidak! Tidak usah kau bagi dengan aku uang itu! Uang itu hanya untuk kau seorang, Bung. Sudah, ya! Sekarang aku minta pamit karena tugasku sudah selesai. Selamat berbisah, Bung! Sampai jumpa lagi,” katanya dengan menjabat tanganku, erat sekali.
Dia meninggalkan aku sendirian dalam sepi. Heran! Baik benar dia kali ini! Tidak biasanya dia sebaik ini! Ada apa ini? Ah, tak perlu curiga. Setiap detik, semua orang bisa saja berubah-ubah. Buktinya banyak. Ketika aku datang terlambat ke sekolah dua hari yang lalu! Aku mestinya dihukum push up atau minimal bersih-bersih halaman sekolah, tetapi nyatanya polisi sekolah tidak menghadiahi sanksi apa-apa padaku. Membentak pun tidak. Padahal, biasanya kalau tahu ada siswa yang terlambat, matanya langsung melotot memerah saga. Kumisnya langsung mekar. Pokoknya, sangarlah! Benar, aku tidak perlu curiga! Ini namanya rejeki nomplok. Seger! Seger! Segeeeer..!
Akhirnya, dengan segera, yang dia katakan kubuktikan. Sesuai dengan pesannya, tak seorang pun boleh tahu. Untuk itu, aku harus ekstra hati-hati dan menggunakan strategi yang jitu.
Aku melongokkan kepala ke luar jendela kelas, lihat ke kanan, lihat ke kiri. Tak ada orang, semua sudah berangkat Upacara Bendera. Sepi.! Baiklah ! Rupanya ini saat yang tepat untuk melakukan pengambilan uang itu. ‘Sudahlah! Tidak ada orang yang tahu, lakukan pekerjaan itu ,’ kata hatiku. ‘Eh, jangan tergesa-gesa! Teliti lagi! Jangan-jangan ada orang yang ngintip dari balik pintu,’ bisik hatiku menentang gagasan terdahulu. Oke ! Ada ide. Aku harus berakting. Aku kan pernah juara lomba akting di sekolah. Aksi pun mulai kulakukan. Kaki kuseret, perut kupeganggi seperti orang menahan rasa mual, dan wajah kukerutkan seperti orang menahan rasa sakit. Dengan hati-hati, aku bergerak mendekati pintu. Aku mengintip ke luar dari lubang konci pintu kelas. Tidak ada siapa-siapa. Tapi, aku masih belum yakin. Pintu kubuka pelan-pelan. Sepi. Hanya suara pembia upacara, jauh di sana, penuh semangat membawakan pidatonya. Masih dengan akting, aku keluar menuju ke samping kiri pintu. Sepi, tidak ada orang. Segera aku berbalik arah, mengamati samping kanan. Di situ ada ruang UKS yang pintunya tertutup rapat. Telinga kupasang dengan cermat. Tidak ada tanta-tanda suara. Mata kutempelkan tepat dilubang konci pintu. Aku mengintipnya. Deg! Jantungku hampir copot, kaget. Di dalam UKS ada seorang cewek sedang tiduran. Edan! Aku cepet-cepat berbalik arah menuju ruang kelas, tempatku bersembunyi menghindari upacara hari Senin yang membosankan itu. Mendingan pura-pura sakit perut atau pura-pura pusing daripada berdiri, berpanas-panas di lapangan. Kalau petugas tatib bertanya macam-macam, cukup ditangkis dengan rintih lirih, lolos sudah. Oh, iya! Siapa cewek dalam UKS tadi, ya? Dia sakit sungguhan, apa pura-pura seperti aku, ya? Ah, apa peduliku dengan dia! Aku muak kepada yang namanya cewek! Hatiku masih sangat luka karena dikhianati oleh Ellis, mantan pacarku.
Bangku depan! Pojok! Tas merah hati! Konsentrasiku tertuju ke arah itu. Sekesit kancil, aku mulai beraksi. Tas merah hati, tas mahal, kubuka. Lho, kok hanya buku. Aku kaget. Di mana uang itu?. Kubuka kantong sebelah kiri. Ah, lip steak, pembasah bibir, softeks, dan celana dalam. Edan! Dia sedang bulanan rupanya. Kubuka kantong yang dalam. Wah, ada sepion kecil, ada parfum, rexona, tusuk gigi, peniti, dan obat kadas. Cewek pesolek kok kadasan. Aku bergumam lirih. Mana uang itu, ya? Coba kuteliti lagi yang ini. Ah, yes! Betul ada dompetnya berisi uang seratus ribu rupiah. Singkat tapi tepat, uang segera kupindahkan ke dalam saku celanaku. Dan selincah bajing loncat, semua barang-barang dalam tas kukembalikan seperti semula.
Di luar suara sorak-sorai, ramai terdengar. Upacara rupanya telah selesai. Aku segera akting sakit perut. Aku menggeliat-geliat dan menelungkup di bangku belajarku ketika teman-teman memasuki ruangan.
“Selamat pagi, anak-anak,” kata guru PPKn menghentikan riuh redah kawan-kawan. Lho, langsung pelajaran?. Tumben benar! Biasanya sedikit molor.
“Coba ketua kelas, pimpin berdoa,” suara merdu guru itu sungguh membuat aku ingin mengikuti pelajaran dengan bersemangat. Namun, karena permainan belum selesai, tak mungkin itu kulakukan. Doa selesai , dilanjutkan dengan presensi. Memang, guru satu ini tidak pernah lupa mengabsen siswanya. Tanpa kusangka-sangka dia mendekatiku dan menanyaiku. Dengan kemampuan berpura-pura yang kumiliki, aku berhasil memperdayainya.. Akhirnya, dia menyuruh ketua kelas untuk mengantar aku ke puskesmas. Oke! Ini memang kesempatan yang kunanti-nanti sejak tadi. Aku pun berulah berjalan sempoyongan, meniggalkan kawan-kawanku di dalam kalas. Selamat belajar rekan-rekan dan selamat terpedaya guruku yang cantik, basikku dalam hati.
Sebelum meninggalkan sekolah, menuju puskesmas, ketua kelas kususruh membayarkan SPP, biar segala persoalan segera beres. Tidak ada lagi tagihan-tagihan yang menyebalkan itu. Tidak akan ada lagi ancaman-ancaman pemanggilan orang tua. Aku bosan dengan semua itu.
Beberapa saat berikutnya, aku sudah berada di puskesmas. Secara kebetulan antrian tidak terlalau panjang sehingga bisa cepat tiba giliranku. Ketika aku ditanya tentang penyakit yang kuderita, aku katakan saja batuk, dengan diikuti beberapa kali batuk kecil.
“Disuntik apa obat saja ,Dik?”tanya Dokter Puskesmas.
“Obat saja, Pak” jawabku. Aku memang alergi suntik. Paling takut dengan jarum suntik. Lebih-lebih setelah muncul isue-isue bahwa jarum suntik yang digunakan untuk orang satu sering kali digunakan lagi untuk orang lain.
Kami pun meninggalkan Puskesmas lebih cepat dari perkiraan. Dengan malas-malas aku melangkah.
“Dul, agak cepat dikit, dong! Aku biar tidak terlalu banyak ketinggalan pelajaran,” kata ketua kelasku.
“Alah, tidak usah sekolah. Walau kita ketinggalan, toh nanti kita pasti diberi nilai baik. Sudahlah, santai saja! Tidak usah khawatir! Oh iya, kita sarapan dululah,” ajakku.
“Terima kasih, Dul! Aku tidak bawa uang,” kawanku menolak.
“Kamu masak tidak yakin dengan aku. Ino lho uang,” gayaku sambil menepuk saku celana, sedikit menyombongkan diri
“Sudahlah! Ayo ke warung Mbak Nur. Kamu bisa makan sekenyang-kenyangmu biar di kelas tidak ngantuk. Aku yang bayar semuanya,” desakku kemudian.
“Baiklah, kalau itu maumu,” ketua kelas menyerah.
Kami pun memesan makanan dan kopi. Aku pungut sebungkus rokok Mallboro beserta koreknya dan langsung kusodorkan ke hadapan ketua kelas.
“Rokok.”
“Terima kasih. Aku tidak merokok, Dul,” jawabnya.
“Kamu itu laki-laki apa banci,” aku mencemooh.
Karena ketua kelas tidak merokok, rokok kuambil sendiri sebatang. Sambil menunggu sarapan siap.
“Mangga, Mas” kata Mbak Nur menyodorkan dua piring nasi rawon.
Nasi rawon lebih nikmat jika dimakan dengan lauk kerupuk. Kuambil kerupuk udang dua bungkus. Satu untuk ketua kelas. Makan besar pun berlangsung dengan lezatnya. Aku hari ini benar-benar jadi bos besar. Total jendral habis dua belas ribu lima ratus rupiah. Tadi untuk menyelesaikan SPP sebesar Rp. 37.500,-. Berarti uang masih sisa lima puluh ribu. Lumayan untuk mencukupi uang rokok sebelun. Sementara jatah dari orang tua tetap mengalir penuh seperti biasanya.
“Aku langsung pulang saja, istirahat di rumah,” begitu kataku saat keluar dari warung Mbak Nur.
“Nanti kalau dimarahi Guru PPKn, bagaimana?” katanya.
“Bilang saja sakitku tambah parah! Beres!”
Akhirnya, aku ditinggalkan di depan warung Mbak Nur. Temanku meluncur dengan shogun merahnya kembali ke sekolah. Terima kasih Tuhan. Kau telah melimpahkan kenikmatan ini. Kau memang Maha dari segala Maha. Sekali lagi terima kasih. Semua strategi berjalan dengan mulus tanpa cacat sedikit pun.
Kesempatan emas!. Pegang uang, peluang ada. Masih pagi lagi. Berarti ada banyak waktu untuk pelesir-pelesir dulu sambil menanti jam pulang sekolah. Kalau pulang sepagi ini Nyokap pasti banyak celotehnya. Aku sendiri sudah sangat kesulitan untuk mengarang alasan yang tepat, takut ketahuan.
Esok harinya, dengan semangat 45, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Sambil bersiul-siul segera mandi, ganti pakaian, sarapan, menyambar uang saku di atas meja yang setiap hari sekolah mesti disiapkan di situ oleh orang tuaku. Aku pun langsung berangkat ke sekolah. Kedatanganku di sekolah disambut dengan tatapan mata tidak bersahabat oleh rekan sekelas. Heran! Ada apa gerangan. Untung bel segera berbunyi. Guru Fisika segera melesat gesit ke dalam kelas. Teman-teman langsung konsentrasi dengan pelajaran sehingga pikiran-pikiran curiga sedikit terlupakan. Dan aku begitu heran, pagi itu pelajaran begitu mudah masuk ke otakku. Mulai pelajaran Fisika, Bahasa Inggris yang biasanya membuat ngantuk sampai Geografi semua lancar. Bahkan, matematika yang memusingkan pun begitu mudah kupahami, lancar betul. Kalau boleh aku bandingka, hari ini rasanya sesedap nasi rowon di warungnya Mbak Nur. Pokoknya jreeeng!
Tanpa terasa jam istirahat pun tiba. Semua kawan-kawan berhamburan keluar. Begitu juga aku. Belum jauh meninggalkan kelas, Ita gembrot menghampiriku.
“Dul, kamu dipanggil Pak Tartib,” katanya.
“Ada apa, Ta?” tanyaku mulai gugup.
Aku tidak tahu lagi Ita bicara apa. Yang ada di benakku hanya wajah Pak Tartip yang sangar itu. Dengan langkah agak ragu-ragu, aku menuju ruang Pak Tartip. Kedatanganku disambut dengan wajah cemberut. Aduh mati aku. Ada apa ini! Hatiku berdebar-debar.
“Silakan duduk,” kata Pak Tartip.
Tanpa kujawab, pantatku langsung kuhempaskan ke kursi. Nasib baik rupanya tidak memihak kepadaku. Begitu pantat menindih kursi, udara dalam perut ikut tertekan dan meletup dengan keras. ‘ Pruuuut…pruuut…pruuuuut’. Suaranya memenuhi ruang Pak Tartib diikuti bau tak sedap menusuk hidung. Bagai terompet penyambut tahun baru, suara jiwaku bergelora. Bergelora bukan karena gembira tetapi karena ketakutan. Tanpa sempat mengantisipasi keadaan, Pak Tartip langsung mendaratkan tendangan jitu, ‘plagh! Plagh! Plagh! . Pelipisku kanan kiri kena tamparan.
“Sopan sedikit kenapa? Ini bukan sekolahnya Mbahmu! Tidak punya aturan! Ini bukan hutan! Tahu! “ kata Pak Tartip membentak.
Begitu dahsyat hardikan itu, langsung menghujam dengan jitu. Aku mati kutu.
“Langsung saja, Dul” kata Pak Tartip menanbah jantungku seakan-akan semakin tersumbat.,”kemarin kamu tidak ikut upacara, kenapa?” kata Pak Tartip selajutnya.
“Sakit, Pak” jawabku agak gemetar.
“Deaaar!!” suara meja digebrak bagai halilintar menyambar kepalaku.
“Sakit kok, keluyuran , plesir-plesir!!”
Kepalaku bagai bunga matahari layu. Terkulai dan berat.
“Jawab! Kamu tidak ikut upacra hari Senin karena berencana mengambil uang di tas Cintia, kan?” kata Pak Tartip menohokku.
Kepalaku bertambah pening. Mata berkunang-kunang dan saluran nafas seperti tercekik.
“Dul! Kau dengar pertanyaan Bapak? Jawab! Ayo jawab!” suara Pak Tartip menggelegar menghujat tajam sekali dan langsung menusuk ulu hatiku.
“Kalau kau tidak ngaku, permasalahan ini akan kuserahkan kepada orang tuamu dan polisi.”
‘Pleeeeng!’ kata-kata terakhir ini membuat bumi semakin gonjang-ganjing bagai kiamat. Dengan sisa-sisa keberanian, akhirnya aku pun mengakui semua perbuatan yang telah kulakukan.
“Uangnya memang saya yang mengambil, Pak. Tetapi, sekarang tinggal empat ribu rupiah. Ini Pak.” Dompet lusuh dalam saku celana belakang kutarik dan kubuka. Sisa uang kuserahkan kepada Pak Tartip.
“Berapa kali kau melanggar tatib? Pernyataan yang dulu kau buat dengan diketahui orang tuamu masih saya simpan. Sudah! Kali ini tidak ada maaf bagimu! Sekarang juga pulang dan boleh kembali ke sekolah kalau bersama orang tuamu!”
Badanku semakin limbung. Mata berkunang-kunang. Benda-benda di sekitarku: meja, kursi, pintu, lantai berputar cepat. Aku meningggalkan ruang eksekusi dengan melayang-layang. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Semua benda-benda berputar semakin keras dan tiba-tiba semuanya menjadi hitam. Gelap!
Tiga hari berikutnya aku benar-benar sakit. Perut mulas, mencret-mencret, badan panas dingin, dan muntah-muntah. Sementara itu, masalah yang kuhadapi belum kusampaikan kepada orang tua. Aku bingung. Rasa kasihan dengan orang tua dan takut campur aduk jadi satu meremas-remas hati, jantung, dan membuat kilu sekujur tubuhku.
“Hallo, selamat jumpa lagi, Bung!” tiba-tiba Dia yang kukatakan sebagai musuhku di awal cerita ini, muncul kembali di hadapanku dengan senyumnya yang mempesona, walau terlihat sedikit cengar-cengir.
“Heh, kamu!” kataku sepontan, agak terkejut.
Aku tercengang-cengang melihat kedatangannya yang begitu tiba-tiba itu. Tanpa kuperhitungkan, dengan cepat dan kesit, ia telah menghambur ke depan hidungku. Tanpa berkata sepatah kata pun, selicin belut, ia telah menyusup, menghentak deras dalam tarikan nafasku. Dan semakin gila, ia menerobos aliran nafasku, menerobos paru-paru, dan mebaur dengan butir-butir darahku. Dan..ah! Dia telah meloncat hinggap di ranting-ranting hatiku.
“Dul, lupakan resahmu! Belilah sebotol minuman keras atau beberapa butir pil penenang! Ayo kita fly, biar happy!” katanya merayu-rayu.
“Bajingan! Pembohong! Setan alas! Pergi kau! Pergi….!” Bentakku sekeras-kerasnya.
“Oh…ho! Tenanglah, Dul! Tenang! Ayolah, please! Belilah sedikit Manson, Brandy, kontol, atau bir, atau KTI” katanya.
“Pergi kau! Pergi! Minggaaaaat!”
Begitu keras dan kuatnya aku berteriak sehingga jantungku tersentak. Dan seketika itu pula benda-benda yang ada di kamarku berubah menjadi gumpalan berwarna hitam yang berputar keras. Gerakan putaran warna hitam itu menjalar ke dinding, ke buku-buku, vas bunga, kasur, bantal, guling, dan mengoncang-goncang tempat tidurku. Aku ketakutan. Badanku panas dingin. Keringat menerobos dari seluruh pori-pori kulitku. Warna hitam juga mulai menggerogoti kakiku, perutku, dada, tangan, leher, mulut, hidung, telinga dan mataku. Semuanya menjadi gelap total. Dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Yang jelas beberapa minggu berikutnya aku dinyatakan tidak naik kelas. Dan kenyataan ini membuat orang tuaku sangat kecewa dan marah besar. Hingga suatu saat dengan terpaksa aku harus menerima keputusan yang rasanya sangat sulit aku terima. Aku dimasukkan ke Yayasan Sekolah Anak-anak Nakal. Ah, aku benar-benar menyesal. Karma telah menghukumku.

Malang, 19 Juni 2009





Nama : Drs. TEGUH PRAMONO
Tempat dan tanggal lahir : Trenggalek, 9 Pebruari 1965
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Mengajar mapel : Bahasa dan Sastra Indonesia
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pagak
Alamat sekolah : Sumbermanjingkulon, Pagak, Malang,
Jawa Timur Telp. (0341) 881444
Alamat rumah : Jln.Letjen Panjaitan 86 Gondanglegi,
Malang, Jawa Timur Telp. 085855340409

0 komentar:

Posting Komentar