Senin, 22 Maret 2010

NOVELET

AKU, SEORANG GURU
SEBELUM REFORMASI
SIKLUS 1
Sudah 20 tahun, aku menjadi seorang guru. Nasipku tetap begini-begini saja. Bukannya aku tidak mensyukuri pekerjaan ini tetapi aku ingin hidup lebih baik. Aku ingin hidup wajar seperti saudara-saudaraku yang lain. Kepingin punya TV berwarna, kulkas, majig jar, sepeda motor. Bahkan, kalau bisa juga mobil pribadi sehingga bila pergi bisa bersama-sama satu keluarga. Dua puluh tahun menekuni profesi ini kehidupan tidak semakin ringan malah semakin berat. Gajian tiap bulan tidak pernah sisa sedikit pun. Bahkan, hutang yang bertambah-tambah. Gajian yang tidak seberapa dipotong koperasi, BPR BTN, pajak, ASKES, iuran PGRI, DANSOS, arisan Dharma Wanita, KORPRI, iuran wajib 10%, bapetarum, iuran GNOTA, iuran kesejahteraan, uang kematian, uang sampah, dan masih ada sederet tagiahan yang lain. Ah, pusing.
Aku pernah mencoba mencari penghasilan tambahan dengan mengajar di beberapa sekolah, tetapi masih saja tidak cukup untuk biaya hidup keluarga dengan satu istri dan tiga orang anak masing-masing SD kelas satu, nomor dua SMP, dan yang sulung SMU kelas satu. Memang, dulu pernah ada kenaikan gaji, yang menurut perhitungan persentasi cukup tinggi. Namun, semua itu tidak mampu mengejar larinya harga yang begitu kencang. Ah, pusing kalau memikirkan hal demikian itu. Suatu kenyataan yang pahit, produk kerja intelektual dihargai begitu rendahnya dalam dunia pendidikan, yang konon bertugas mencetak generasi penerus bangsa. Sungguh tragedi dalam dunia pendidikan yang tidak akan pernah masuk dalam catatan sejarah. Sejarah telah melupakan fakta demikian karena sejarah hanya mencatat peristiwa monumental yang dianggap laku dijual di pasaran. Mana mungkin sejarah mau mencatat kegetiran kehidupan guru !
Aku baru menyadari betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja guru di Indonesia ini, dengan diterapkannya pola gaji per jam/minggu bagi guru tidak tetap. Misalnya mengajar 10 jam per minggu dengan harga perjamnya Rp.5.000,- berarti seorang guru akan menerima gaji Rp.50.000 per bulannya. Artinya, bila satu bulan ada 4 minngu berarti jumlah jam mengajar sebanyak 40 jam pelajaran, tetapi gaji yang diterimakan sebesar Rp.50.000,-. Dengan demikian hasil bagi perjamnya Rp.1.250-. Padahal untuk hasil sebesar itu, seorang guru harus menghabiskan waktunya untuk membaca buku, membuat persiapan mengajar, menabung untuk beli buku-buku pelengkap dll. Apa mungkin?
Hari raya merupakan hari yang menakutkan bagiku. Bagaikan hari jatuh tempo, aku harus melunasi tagihan anak-anakku: tagihan baju baru, tagihan celana baru, sepatu baru, sarung baru, dan tagihan tradisi lain yang tak mungkin kuhindari. Aku serba kaku dan canggung bila berkumpul dengan sanak famili dalam acara pertemuan keluarga, yang diadakan setahun sekali, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Dan, rasa kasihan kepada sang istri tak dapat kututup-tutupi. Lebih kasihan lagi dengan anak-anakku. Mereka tak bisa berbuat banyak ketika anak-anak adikku, anak-anak kakakku dan kemenakan-kemenakan yang lain saling bercerita tentang acara yang ditayangkan TV swasta dari negara tetangga yang diterima dengan antena parabola. Terlebih lagi yang menyangkut mode baju, tentang musik, tentang lagu favorit, VCD, internet, handphon, dan barang-barang teknologi yang lain, yang tidak mugkin terjangkau oleh daya beliku. Ah, kasihan! Kenapa mereka ditakdirkan sebagai anak seorang guru sepertiku, yang konon bertugas mencerdaskan bangsa, tetapi tak mampu menjangkau kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh kemajuan ilmu. Sungguh ironis!
Aku jadi ingat kata-kata kakakku dulu, ketika aku akan meneruskan kuliah ke IKIP. Sungguh perih hati ini. Kata-kata itu serasa menusuk ke relung gendang telinga seperti gemuruhnya suara guntur.
“ Mau jadi apa kau nanti kuliah ke IKIP? Biaya kuliah sama, titel yang diperoleh sama, sama-sama sarjana. Tapi kalau sarjana IKIP itu sarjana murahan! Untuk apa kau ngotot ke sana?” begitu cegah kakak memberikan pertimbangan agar aku meneruskan kuliah dengan mengambil jurusan kedokteran, hukum, atau ekonomi.
Kalau dipikir-pikir benar juga kata-kata yang dulu kuanggap kata-kata seorang yang materialistik feodalis itu. Untuk apa bekerja matian-matian, jungkir balik menekuni sebuah profesi kalau ujung-ujungnya tidak mampu memenuhi kebutuhan materi keluarga. Kalau kebutuhan materi tidak tercukupi ujung-ujungnya ketenangan batin pun tidak akan tercapai. Kan tujuan hidup di dunia ini untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat? Syarat bahagia di dunia antara lain tercukupinya sandang, pangan, papan, dan kebutuhan primer profesi, yaitu tercukupinya informasi IPTEK dan Imtaq. Ah pusing!
Benar juga kirata basa, uthak-athik gathuk bahwa guru itu wagu tur kuru (serba canggung/tanggung dan kurus). Wagu, karena serba canggung, setengah-setengah, cupet dan terlalu banyak pertimbangan jika mau melangkah sehingga terkesan rikuh, takut dan manut, inggah-inggih saja, trima ing pandum saja. Kuru, karena memang sumber penghasilannya tidak seimbang dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. Bagaimana tidak kurus kalau yang dipikirkan terlalau berat sementara imbalan yang diterima tidak sepadan. Lebih-lebih lagi mana mungkin bisa mengembangkan profesi !. Membeli atau membaca buku misalnya, kursus atau sekolah lagi? Bagai si pungguk merindukan bintang di langit! Jangankan memikirkan atau melakukan pengembangan profesi, mengembangkan dan melakukan pengembangan hidup layak dengan tiga orang anak saja rasanya tidak cukup waktu. Siang malam, pagi sore bekerja mengajar dan mengajar terus pun tak akan mampu menutup kekurangan tiap bulannya. Yah… apalagi? Paling-paling jluntrungannya mengharapkan kasihan dari mertua atau orang tua kalau mereka punya. Seperti apa yang kualami ini, tiap bulannya uang saku dan uang sekolah anakku yang sulung, neneknya yang menopang. Malu sih malu, tetapi bagaimana lagi keadaannya memang begini.
“Gebyar belanja satu milyar! Gebyar belanja satu milyar!” teriakan Titik Puspa dari layar TV hitam putih yang sudah usang itu membuyarkan lamunanku. Untung masih ada TV, walau pemberian mertua. Mungkin di rumahku tidak akan pernah ada TV kalau anakku yang bungsu tidak merengek-rengek terus. Kemudian karena neneknya kasihan TV itu diberikannya.
“Gebyar belanja satu Milyar! Gebyar belanja satu milyar!” Suara itu muncul kembali. Aku segera lari menghampiri TV itu lebih dekat untuk mencermati informasi yang diiklankan. Cukup mudah! Kumpulkan bungkus deterjen So-klin, menyertakan identitas lengkap, kemudian mengirimkannya ke kotak POS 13000 Jkt untuk mendapatkan undian berhadiah satu milyar.
Sungguh menarik! Ini kesempatan yang tidak boleh aku lewatkan. Aku harus mengumpulkan bungkus sabun iu sebanyak-banyaknya, dan mengirimkannya sebelum terlambat. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengumpulkan bungkus soklin dalam jumlah besar dengan waktu mengajar yang penuh begini? Ah, gampang! Mulai besok aku harus bangun lebih pagi lagi untuk mencari bungkus sabun deterjen itu di bak-bak sampah yang berjajar di sepanjang gang-gang kampung. Ah, tidak! Tidak mungkin itu kulakukan! Apa kata orang kalau tahu ada seorang guru jadi pemulung. Tak baiklah! Rasa-rasanya bisa menurunkan derajat profesi guru yang konon perlu digugu dan ditiru. Tapi bagaimana, ya?
Nah, ide cemerlang! Besok, aku akan menerapkan strategi tugas mutualisme : guru untung – siswa dapat nilai. Kuhitung-hitung jumlah kelas yang aku ajar sebanyak 28 kelas. Kalau dibuat rata-rata masing-masing kelas 40 siswa, jumlah total siswa yang kuajar sekitar 1.120 siswa. Jumlah yang fantastis ! Seorang pengajar dalam seminggu menangani siswa sebanyak itu. Jika setiap anak mengumpulkan satu tugas berarti ada 1.120 pekerjaan yang harus dikoreksi. Apa mungkin? Kenyataan demikian membuat segala teori evaluasi yang pernah kupelajri tidak mungkin kulaksanakan. Biasanya sistem NGAJI- lah yang kuterapkan, yakni ngarang biji. Yang penting anak-anak mengumpulkan bungkus Soklin dalam amplop yang dibubuhi perangko dengan alamat yang telah kutentukan. Beres! Kalau ada yang bertanya aku katakan saja bahwa tugas tersebut menentukan naik tidaknya seorang siswa karena mengomentari iklan dan poster termasuk materi yang esensial.
“Gebyar belanja satu milyar! Gebyar belanja satu milyar!” Iklan itu mengagetkanku. Kusaut ballpoint dari saku PSH-ku. Dengan cekatan ujung ballpoint segera menari-nari di atas telapak tangan kiriku. ‘Kotak Pos 13000 Jkt. Nomor KTP, identitas lengkap! Sebelum 31 Desember !’ Kata-kata itu dengan seirama tarian ballpoint menggaris-garis telapak tanganku. Kupandangi tulisan itu. Kubaca beruang-ulang. Setiap selesai suku –BER pada kata Desember, segera kembali ke suku kata –KO pada frasa kotak Pos. Begitu seterusnya kulakukan. Entah berapa kali hal itu kulakukan. Yang jelas semakin lama tulisan di telapak tanganku itu semakin kabur dan berubah-ubah bentuk. Mula-mula, berubah menjadi garis-garis yang membentuk huruf N. Aneh!
Huruf N bergerak-gerak seirama detak jantungku. Ia berputar-putar, menari-nari lincah sekali. Ia menungging ! Dan … ah, berubahlah ia menjadi huruf A. Aku tambah tergoda. Mataku tak sedetik pun bergeser dari telapak tangan kiriku itu. Heran! Huruf A tiba-tiba berubah menjadi S. Bagai cacing kepanasan, huruf S itu menggeliat-geliat. Melintir ke kanan, melintir ke kiri akhirnya kaku, lurus membentuk I.
Mataku terasa pedas. Rupanya aku terlalu lama tak berkedip. Kuucek dengan punggung tangan kanan. Secepat gosokan punggung tangan, huruf I berubah menjadi B, kemudian menjadi G, menjadi U, terus R,U,N,A,S,I,B. Ah, aneh sekali huruf-huruf ini!
Mata kuucek lagi. Terasa jantungku semakin berdegup kencang. Huruf-huruf itu masih terus bergerak-gerak. Ketika berada pada posisi huruf B seperti disengaja gerakan tariannya diperlambat. Seperti memberi kesempatan kepadaku untuk mengatur nafas. Ah, bulatan huruf B itu megal-megol bagai pantat seorang penari jaipong. Edan! Ia mengejekku dengan egolan-egolannya. Kurang ajar ! Ia semakin menjadi-jadi melecehkan aku. Ia menungging seperti sengaja mau menghembuskan kentut ke arahku.
Dua benjolan lengkung pada huruf B yang mirip pantat itu, meruncing terciptalah huruf A. Huruf A mekar manjadi N, melengkung menjadi G, S, dan terakhir A. Setelah perubahan yang terakhir ini, tiba-tiba seluruh pori-pori telapak tangan kiriku mengeluarkan keringat dingin. Aku heran kenapa ini bisa terjadi. Lebih heran lagi kenapa keringat dingin itu begitu derasnya, menyembul bagai mata air kecil-kecil kemudian mengalir perlahan-lahan dalam cabang garis-garis tangan, yang konon selaras dengan garis nasib yang empunya. Dan bagaikan kain penghapus papan tulis, air keringat itu melenyapkan huruf tadi. Tanpa terasa ballpoint telah terjepitkan di kantong saku PSH kembali.
Entah apa yang telah terjadi. Aku tak paham. Yang kutahu begitu ballpoint terjerpit pada saku baju PSH, di telapak tangan kiriku dengan jelas masih terpampang tulisan ,”Kotak Pos 13000 Jkt. Nomor KTP. Identitas lengkap. Sebelum 31 Desember.”
Aku mencoba mengingat-ingat kembali haruf-huruf yang tadi muncul secara aneh di telapak tanganku. Satu per satu kueja,” N-A-S-I-B, G-U-R-U, N-A-S-I-B, B-A-N-G-S-A. Tanpa terasa bibirku tersenyum sinis dan bergumam,’ NASIB GURU, NASIB BANGSA’! Ah, sebuah slogan! Terlalu berat beban guru kalau disuruh memikul nasib bangsa. Terlalu berlebihan! Ah tak mungkin! Ini tentu hanya sekedar retorika untuk menjepit dan menghimpit profesi guru saja? Ah, tak dapat kupahami!
“Gebyar belanja satu milyar! Gebyar belanja satu milyar!”
Bagai semburan hawa panas, suara iklan itu menyusup ke seluruh pori-pori ruangan. Aku ikut kegerahan. PSH yang kupakai kulepas dan kugantungkan di balik pintu kamar tidur. Aku lebih nyaman dengan berkaos dalam dan celana pendek saja. Rokok kretek jatah pembagian dari genduri tahlilan kemarin, kunyalakan. Kuhisap dalam-dalam. Asap kusimpan penuh dalam mulut. Kemudian secara pelan-pelan asap itu kuletupkan dengan ujung lidah sehingga keluar dari mulut membentuk bulatan mirip bola. Bola asap itu melayang-layang di udara. Ia terbang menari-nari di langit-langit rumah. Tiba-tiba seperti ditendang oleh pemain kesebelasan Brasilia dalam Word Cup, Ronaldo, bola asap melesat ke arah gambar Ki Hajar Dewantara, yang terpajang di dinding. Di sana, ia berputar-putar seperti sedang digiring menuju gawang lawan. Dan…deess! Ia melesat ke gambar presiden. Sungguh irrasional! Entah mimpi, entah kenyataan! Aku tidak paham! Yang jelas aku melihat mulut gambar itu sudah dalam keaadaan menganga, seperti mulut kuda nil yang siap menerkam mangsanya. Aku juga melihat bola asap tadi bagai tersedot, meluncur secepat pesawat tempur F-16, masuk ke dalam mulut itu. Dan begitu bola itu masuk, mulut itu segera menutup kembali. Yang kelihatan sekarang gerakan-gerakan bibir yang klomat-klamut dan rahang yang naik-turun. Rupanya bola tadi dikunyah. Wajah gambar presiden itu berseri-seri. Matanya berbinar-binar. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang penuh harap kepadaku. Ia seperti megharapkan akan ada bola yang lain yang bisa disantapnya. Namun, bola itu merupakan bola satu-satunya yang bisa kubuat.
Wah, bolanya ditelan.! Terlihat dari gerakan naik-turun urat di leher gambar itu. Sungguh irrasional! Mengapa muncul keanehan-keanehan, ya? Jangan-jangan di rumah ini sudah kemasukan makhluk aneh! Atau mungkin ini hanyalah efek dari kabel-kabel urat syarafku saja yang konsleting karena terlalu memikirkan hal-hal yang utopis. Tapi, mungkin juga makhluk aneh itu telah menghuni diriku! Aku tak paham ini semua!
“Uhuuk! Uhhuuk!” terdengar orang batuk-batuk. Ah, edan! Ternyata gambar presiden itu yang batuk!
“Uhhuuk! Uhhuuuk! Huk..huuuk!” batuknya semakin terpingkal-pingkal. Tiba-tiba muncul tangan yang memijit-mijit dada gambar itu. Tidak jelas! Apa itu tangan presiden atau bukan! Karena yang tampak olehku gambar itu hanya setengah badan. Bisa jadi itu tangan dokter pribadinya. Atau mungkin tangan anaknya, tangan adiknya, tangan pengawalnya, tangan pendampingnya, tangan bapaknya, ibunya, adiknya, neneknya, pembisiknya, paranormalnya, prewangannya, atau tangan-tangan jail atau tangan yang lain. Semua serba mungkin!
“Uhhuk! Uhhuuk! Huuuuk! Mulut gambar itu menyembur-nyembur. Tangan yang tadi itu semakin tegang. Rupanya mengeraskan pijitannya. Benar, tangan itu mengeraskan pijitannya. Terlihat dari urat-urat pembuluh darahnya semakin menonjol. Sesaat kemudian, kedua pipi gambar itu menggelembung. Mata gambar presiden itu melotot ke arahku. Sungguh tajam ia menatap seperti penuh kebencian dan kecurigaan. Aku gemetar ketakutan. Jangan-jangan ini setan beneran, makhluk halus yang sudah menyusup ke dalam rumahku! Pikiranku menjadi penuh dengan dugaan-dugaan spekulatif yang mengarah ke negatif. Sungguh suatu keadaan yang sangat berlawanan dengan sikap keteladanan yang seharusnya kuikuti, yakni penuh rasa syukur, positif thingking, pasrah sumarah, narima ing pandum, wani ngalah, lego lila, dan legawa. Aku tidak megerti untuk kesekian kalinya!
“Buuushhh !” dengan kekuatan yang dahsyat gambar itu menyemburkan isi mulutnya ke arahku. Dan, ‘plagh’ ! Tanpa sempat reflek menghindar, bola itu menghantam tepat ke jidatku. Sikap pasrah sumarah, narima ing pandum, wani ngalah gedhe wekasane tak mungkin kupertahankan lagi. Dengan penuh kebencian kutantang gambar itu. Dia malah tersenyum penuh kemenangan dan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Selanjutnya aku tidak sempat lagi menyelidik apakah dia tertawa karena peritiwa barusan atau mungkin ada peristiwa lain yang lucu. Konsentrasiku lebih tertuju kepada jidat yang kena sodokan benda kenyal yang diletupkan dari mulut gambar presiden tadi. Tapi aneh! Ternyata , begitu telapak tangan kusapukan, tidak ada sepercik pun dahak di sana. Kenapa ini mesti terjadi? Aku semakin tak paham!
Belum sempat berpikir tentang hal jidatku, perhatianku telah terlempar ke arah bola asap yang megal-megol di atas kepala gambar wakil presiden yang botak itu. Bola itu seperti sedang dipermainkan oleh pemain basket, mantul-mantul dengan cepat di atas lantai yang mengkilap dan kelihatan licin. Nah, sekarang aku baru bisa menalarkan! Mungkin, setelah menghempas jidatku, bola tadi terpental dan menyambar topi songkok yang menancap di kepala wakil presiden itu. Ini sangat logis karena yang kulihat gambar wakil presiden tadi mengenakan songkok tetapi sekarang tidak. Kesimpulan ini kemungkinan kebenarannya tinggi. Artinya kesimpulan tersebut bisa jadi salah. Bisa saja tadi ada tangan yang sengaja melepas songkok itu begitu akan datang benda asing bertengger di situ. Mungkin juga songkok itu jatuh ketika kena getaran batuk gambar presiden. Dan mungkin gambar tadi menertawakan kebotakan kepala gambar wakil presiden. Atau bisa jadi tangan gambar itulah yang tadi memijit-mijit dada gambar presiden. Dan pada saat itulah songkok itu jatuh. Atau bisa juga kedua gambar itu disusupi makhluk halus yang kemudian dengan sengaja membuat adegan-adegan tadi untuk menyedot perhatianku. Dan semua ini aku rasa sangat rasional! Tapi, kalau kuurut-urut akalku tidak bias menerima kejadian ini. Kan irrasional ini namanya. Kalau boleh aku mengatakan ini merupakan hal yang rasional dalam teori penalaran, tetapi irrasional dalam kenyataan hidup yang aku alami. Ah, tak penting itu! Yang terang semuanya tadi tak jelas. Dan karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi, ada beberapa hal yang luput dari penglihatanku. Yang nyata saat ini bola itu berada di atas gambar kepala botak.
Bola di atas kepala itu masih menari-nari, dipermainkan entah oleh siapa. Yang kulihat bola itu seperti sedang di-dribble oleh pemain basket yang lincah. Dan gambar kepala botak itu sekarang berubah menjadi kepala Ronaldo yang gundul itu. Kepala itu menyundul-nyundul bola dengan terampilnya. Kemudian dengan agak miring sedikit kepala itu menyundulkan bola ke arahku. Aku bermaksud menangkapnya! Tetapi… meleset! Bola membentur kepalaku dan mantul agak keras ke arah gambar presiden. Dalam waktu yang tidak lama bola mantul lagi ke gambar wakil presiden. Kemudian mantul lagi ke Gambar Ki Hajar Dewantara. Dari sana bola mantul ke kepalaku, mantul ke gambar presiden, mantul lagi ke wakil presiden, ke Ki Hajar Dewantara, ke arahku, ke presiden dan begitu seterusnya berlangsung agak lama. Irama perpindahan bola itu begitu cepat, sampai-sampai tidak terlihat lagi kalau antara aku, gambar wakil presiden dan presidennya, serta Ki Hajar Deawantar sedang saling mengoper-operkan bola. Bahkan mungkin orang lain tidak akan melihat permainan ini.
“Braak! Braak!” tiba-tiba suara menyentak dadaku. Aku terkejut! Hampir saja aku mengeluarkan kata-kata kotor! Untung, aku segera menyadari kalau aku ini seorang guru yang konon patut digugu dan ditiru. Aku segera dapat mengendalikan diri. Apa yang terjadi? Sebuah bola voli menghempas dinding di mana gambar presiden dan wakilnya terpajang. Gambar presiden jatuh diikuti gambar wakil presiden. Pigura dan kaca berhamburan ke lantai. Tanpa merasa berbuat salah, anakku yang SMU bertanya dengan nada sinis.
“Lho, Bapak tidak memberi les hari ini?’
“Sontoloyo! Kalau main bola jangan di dalam rumah! Sana! Di halaman !“ perintahku dengan membentak.
“Maaf, Pak, nanti sehabis latihan saja kurapikan kembali. Besok kami akan bertanding!” kata anakku menghambur keluar, meninggalkan ceceran kaca dan pigura.
Ah, anak seorang guru kok tak punya adat kesopanan. Aku ngedumel sendiri. Seperti baru bangun tidur kesiangan, kulihat jam beker menunjukkan setengah tiga. Artinya, aku telah terlambat setengah jam dari jadwal les. Edan!. Aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka saja. Berpakaian dengan cepat dan menyambar buku, materi les yang tadi pagi telah kusiapkan di sela-sela jam mengajar di sekolah. Cabutlah aku mengejar waktu.

SIKLUS 2
Sore itu, aku pulang lebih awal lima belas menit. Biasanya aku pulang pukul setengah enam, menjelang maghrib. Kali ini jam lima seperempat sudah sampai di rumah. Ketika aku masuk rumah, anak bungsuku sedang asyik nonton film ‘Power Rangers’, film kesukaan anak-anak pada umumnya. Aku heran mengapa film ini begitu dahsyat hingga mampu menggerakkan seluruh anak untuk menontonnya.
“ Mam, kamu tidak ngaji ke langgar hari ini?” tanyaku sambil menaruh buku materi les privat di meja.
“ Malas, Pak!” jawab Imam sekenanya.
“ Lho, kok malas? Kenapa?” tanyaku lagi.
“Apa! Gurunya sering tidak datang! Biasa! Kalau musim hajatan kemanten, dia suka moto-moto! Cari ceperan! Dan lagi aku malas ngaji kalau tidak dibelikan scooter Po, Pak!” jawabnya.
Edan! Anakku telah keracunan film “Teletubbist”. Begitu mudahnya sebuah barang yang menurut ukuranku termasuk barang mahal, dicekokkan ke anak melalui sebuah media TV. Ah, kenapa semua makhluk yang namanya manusia, mulai dari cindil sampai bendot semua teracuni penyakit konsumerisme. Edan ! Jiwa materialis mulai tertanam sebelum anak mengenal dunianya sendiri.
“ Mam, untuk beli scooter, kita harus nabung dulu!” kataku setelah beberapa saat aku tercenung.
“ Sampai kapan, Pak nabungnya? Masak sejak dulu Bapak mesti berkata begitu kalau aku mintai mainan! Bapak tak sayang! Bapak bohong! “ hardik Imam sambil lari.
Imam lari menghambur entah ke mana dengan menahan-nahan kejengkelannya kepadaku. Aku jadi malu kepada dia. Aku hanya dapat memberi janji-janji yang tidak dapat memastikan kapan akan menepatinya. Anak zaman sekarang tidak mau mengerti kesulitan orang tuanya. Maunya apa yang diminta mesti ada. Kalau yang diminta harganya seribu atau dua ribu mungkin tidak masalah. Tapi, ini minta mainan dengan harga ratusan ribu ! Ah, nambahi susah saja ! Mungkin inilah yang dimaksud dengan kata-kata filosof bahwa pada akhirnya kita akan diperalat olah benda-benda yang kita buat sendiri. Ah, benar-benar gila!
Film ‘Power Rangers’ telah berlalu. Munculah selingan iklan. Beberapa anak sedang bermain bola di jalanan. Bola ditendang oleh salah seorang melambung ke udara. Salah seorang lagi menerima operan bola lambung itu. Dengan sundulan kepala, bola langsung disarangkan ke sebuah tong sampah yang kebetulan dalam keadaan kosong. Masuk sudah bola ke situ. Sungguh menakjubkan!. Sepertinya mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mereka segera berjubel di sekitar tong untuk menyaksikan kehebatan sundulan itu. Dan, sungguh di luar dugaan mereka, di dalam tong itu terdapat berbotol-botol minuman. Langsung saja mereka merebutkannya untuk menghilangkan rasa hausnya. Tutup botol segera berhamburan di jalanan. Dan dengan lega mereka menegak botol-botol itu. Sebuah senyum puas menutup kelebaran layar kaca.
Tutup-tutup botol yang berhamburan di jalanan tadi ditendang-tendang oleh kawanan pemain bola jalanan itu. Salah seorang yang tadi senyumnya menutup layar kaca TV menendang salah satunya dengan keras. Tutup botol itu melambung tinggi ke angkasa. Sekawanan anak itu terperangah memandanginya. Tiba-tiba tutup botol itu melesat keluar layar TV. Tutup botol menari-nari di udara. Kemudian dengan cepat, ia telah melesat ke arah lukisan pemandangan yang nempel di dinding, bersebelahan dengan gambar Ki Hajar Dewantara. .
Bagai sebuah peluru yang diletupkan dari sepucuk pistol polisi, tutup botol melesat dan menancap pada lukisan tadi. Tepat di tengah jalan raya yang beraspal hitam. Sebuah pemandangan yang janggal. Tutup botol berada di tengah-tengah jalan yang menggaris hamparan sawah, menembus dua buah gunung berjajar. Lukisan itu merupakan karya anak bungsuku. Ia sangat bangga dengan lukisan itu karena oleh gurunya diberi nilai 7,5. Heran ! Kenapa lukisan seperti itu kok dinilai dengan angka setinggi itu. Ah, itu tak penting, karena aku sendiri tidak mengerti tentang lukisan.
Kini lukisan itu menjadi pusat perhatianku. Tutup botol yang tadi itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah mobil keluaran terbaru, merk Visto. Istri dan anak-anakku duduk di dalamnya. Dan anehnya, aku yang menjadi sopirnya. Aku dapat merasakan getaran-getaran halusnya. Dinginnya AC dan celoteh anak-anak pun jelas terdengar.
“AC-nya keraskan sedikit,Pak!” kata anakku yang SMP.
“Iya,Pak! Agak panas! Dan jangan lupa,Pak, tapenya diputar,” kata kakaknya mendudukung.
Aku diam saja. Hanya tangan kiriku yang bekerja memenuhi tuntutan mereka. Lagu Koes Plus pun berkumandang. Lagu kenangan sepanjang masa. Lagu kesenanganku di masa muda dulu. Kemudian digarap ulang oleh kelompok muda, yang juga tetap populer. Syairnya sangat cocok dengan suasana perjalanan.
Bukan lautan hanya kolam susu,
Kail dan jala cukup menghidupimu,
Tiada badai, tiada topan kau temui,
Ikan dan udang menghampiri dirimu.
Orang bilang tanah kita, tanah surga,
Tomgkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita, tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Anak-anak sungguh bersuka ria. Sambil bertepuk tangan, mereka mengikuti irama lagu itu. Suasana perjalanan melalui sawah-sawah yang menguning, menanjak ke lereng pegunungan yang hijau terasa semakin menyenangkan. Tetapi sayang suasana ini tidak ikut dinikmati oleh istriku. Sejak tadi, dia diam saja. Tatapan matanya menerawang jauh ke depan. Sepertinya ia memikirkan sesuatu yang menyedihkan. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Apakah hatinya tersentuh oleh syair lagu itu? Atau, mungkin memikirkan hal lain. Kulirik mata itu. Tanpa sepengetahuan anak-anak , kugapai mata itu. Ya, mata yang indah dan teduh. Mata inilah yang dulu membuat aku tergila-gila padanya. Ah, mata itu mulai meneteskan butiran-butiran air bening. Istriku menangis.
“Ma, kenapa menangis?” tegurku lirih agar tidak didengar anak-anak.
“Aku sedih memikirkan nasib anak-anak kita, Mas” jawabnya.
“Kenapa anak kita?” tanyaku menegaskan.
“Bukankah anak-anak kita nanti harus meneruskan perjuangan kita. Menanam padi, berkebun, dan mengolah tanah? Sementara mereka tidak terbiasa mengerjakan hal itu semua. Mereka tahunya makan, minta uang, naik mobil duduk di kursi empuk. Mereka tak tahu sengsaranya orang bekerja di sawah atau di ladang. Mereka hanya bisa memanfaatkan fasilitas yang ada tanpa terbiasa berpikir bagaimana fasilitas itu diadakan.”
“Ah, jangan terlalu dipikirkan itu! Anak-anak nanti kita upayakan jadi dokter, insinyur, atau jadi ekonom! Tak perlu lagi ke sawah atau ke ladang! “sautku menghibur.
“Braak!” bola dari luar menghantam keras lukisan, yang sejak entah berapa lama yang lalu menyita konsentrasiku. Gambar Ki Hajar Dewantara tersentak, ikut terkejut. Kemudian beliau menangis. Mulutnya mau berkata-kata tetapi tidak bisa. Aku tidak tega melihatnya. Segera kualihkan penglihatanku ke lukisan anakku. Lukisan kebanggaan anakku jatuh hancur terburai. Seperti orang yang tidak bersalah, anakku yang SMU masuk ke rumah dengan bersiul-siul. Aku mual menahan amarah yang sangat. Anakku berlalu begitu saja dengan acuhnya. Oke! Lihat saja nanti, pikirku! Kulihat ia menuang air dalam gelas penuh-penuh, kemudian meneguknya. Dengan kaosnya yang basah keringat, disapunya sisa ceceran air yang membasahi bibirnya. Kemudian sepatu buntut yang dikenakan dengan leluasa dilemparkan ke pojok ruangan. Amarah yang sejak tadi kutahan-tahan meledaklah.
“Don! Sini kamu!” suara menggelegar merobek ruang yang mulai gelap.
“Ada apa,Pak?” jawabnya pura-pura tidak tahu kalau perbuatannya sudah keterlaluan.
“Kenapa tingkah lakumu sudah seperti anak brandalan? Anak tak tahu tata krama! Kenapa kau tendang bola sehingga lukisan adikmu berantakan seperti ini? Kenapa?” bentakku dengan sekuat tenaga. Doni diam saja. Dadanya bergoncang agak cepat. Dia rupanya malah menantang.
“Kamu tidak tahu kalau Bapakmu duduk di sini? Lihat ! Kaca dan pigura gambar presiden dan wakilnya yang tadi kamu hancurkan belum kau bersihkan! Percuma! Percuma Bapak menyekolahkanmu, kalau tingkah lakumu seperti anak tak tahu adat kesopanan begini!” umpatku.
Doni sama sekali tidak bergeming. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi penyesalan sedikit pun. Nafasnya semakin keras. Sementara itu, matanya tajam menenbus sungsum tulang belulangku. Sebagai seorang bapak, aku sungguh merasa terhina, harga diriku dilecehkan.
“Doni! Kau sudah berani ya sama orang tua?” bentakku.
“Kenapa Bapak bertanya begitu? Apakah Bapak sudah merasa lebih baik? Tidak pernahkah Bapak mengoreksi diri sendiri?” sergahnya.
“Plagh! Plagh!” tangan kananku mendarat keras ke pelipisnya. Doni tak bergerak sedikit pun. Malah matanya semakin dalam menembus ke relung hatiku terdalam. Mata itu menantangku. Amarahku tandas sudah. Hampir saja kursi yang tadi kududuki melayang ke mukanya. Untung kesadaranku masih dapat kukendalikan.
“Don, kamu tahu, Bapak bekerja pagi sore, siang malam ini untuk siapa? Ya, untuk kamu! Tapi kenapa balasan yang kau berikan tidak membuat senang! Air susu kau balas dengan racun. Mulutmu mulai berbisa! Anak kurang ajar!!” Seluruh kemarahan kumuntahkan kepada Doni.
Heran kenapa ia mulai berani kepada orang tua. Dengan jengkel, kuhempaskan pantatku ke kursi tempat di mana aku tadi duduk. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang diperbuat Doni. Secepat kilat, ia menghambur entah ke mana. Tiba-tiba, aku banyak melihat bulatan-bulatan memenuhi seluruh ruangan. Doni tak tampak dalam bulatan-bulatan itu. Bulatan-bulatan berpendaran, mengembang dan mengerut bagai mata kucing. Sesekali berbinar dengan berwarna-warni pelangi sesekali berkedap-kedip bagai bintang yang sangat jauh. Kadang redup, kadang benderang. Suatu saat berganti warna merah semua, suatu saat kuning semua, bahkan beberapa saat sama sekali tak berwarna, gelap. Begitu bulatan-bulatan itu kulihat. Tapi, kenapa bulatan-bulatan itu tidak pernah menjadi warna pelangi yang indah? Aku mencoba menunggu beberapa waktu lamanya, tetapi ia tak berubah sama sekali, tetap seperti warna semula. Bulatan-bulatan itu mulai berputar pada porosnya masing-masing. Masing-masing punya egoisme. Tak bisa atau tak mau bersatu. Begitu suatu bulatan saling berdekatan, salah satu dari mereka menjauhi. Dan begitu seterusnya, seperti dua medan magnit bertolakan lakunya.
“Pak, kenapa sekasar itu kepada Doni? Bukankah Bapak pernah mengatakan bahwa tingkah laku seorang anak bermula dari meniru orang tuanya?” kta istriku membubarkan lamunanku.
“Dia memang sudah keterlaluan, Bu.”
“Tapi itu semua kan mesti ada penyebabnya kan, Pak?”
“Sudahlah! Maafkan Bapak, Bu!” begitu kata yang kuucapkan setiap dipojokkan dengan masalah prilaku anak-anakku agak tidak berlanjut. Dan, bila berlanjut maka mesti aku lagi yang salah.

SIKLUS 3
Pikiranku terseret pada sebuah kisah masa silam. Aku teringat guruku yang mengajarkan Fisika ketika di SMA dulu. Beliau masih muda. Waktu itu, ia sedang menerangkan tentang daya tarik-menarik antara medan + dan medan - . Aku waktu itu bertanya mengapa ada medan + dan mengapa ada medan -. Beliau dengan kaku mengatakan kalau ingin tahu tentang min dan plus perlu les privat. Teman-teman sekelas jadi tertawa terbahak-bahak. Berbagai seloroh bersautan. Wajah guru itu merah saga. Untung bel istirahat sudah dibunyikan.
Sorenya aku datangi guru itu. Aku sungguh terbengong-bengong begitu ia keluar dengan T-shirt dan celana jean tiga perempat. Sangat cantik dan kelihatan belia. Sebelia teman-teman wanitaku. Dan ‘breeng’ bau parfumnya menjerat hati. Ah, edan! Dan ujung-ujungnya hati jadi berdebaran dan berkeringat dingin.
“Jon, silakan masuk!” katanya terasa merdu di telinga.
“Terima kasih, Bu” jawabku agak gugup.
“Njanur gunung? Ada apa?” katanya , “mimpi apa aku semalam kok, kedatangan Arjuna!” goda selanjutnya.
“Anu, Bu! Sa..ya..saya mau les privat kepada Ibu tentang min dan plus yang tadi saya tanyakan di sekolah ” tanyaku malu-malu dan gugup.
“Oh, itu! Gampang!” jawabnya dengan tenang sekali. Kemudian beliau menerangkan dengan gamblang tentang medan magnit itu. Bahkan, pulangnya aku dipinjami beberapa buku yang membahas masalah medan magnit. Besoknya teman sekelas gempar. Muncul berbagai isue, desas-desus, sampai mengarah ke fitnah yang memojokkan aku dan menodai nama baik guruku. Topik medan magnit langsung menjadi topik populer dan manrik sebagai bahan pergunjingan. Dan, sering teman-teman menyindirku dengan pertanyaan ‘bagaimana medan magnitnya’ guru fisika yang cantik itu? Ah, teman-teman SMA sukanya memang begitu.
“Braaakg!” suara pintu dibanting. Doni berkelebat lari entah ke mana. Aku mencoba meneriaki tetapi tak mampu menahan kepergiannya. Ah, Doni! Budi pekertimu sudah tak karuan. Ini mungkin kesalahanku atau mungkin kesalahan kurikulum sekolah. Pantas saja di sekolah tidak ada pelajaran “Budi Pekerti”. Tidak! Kupikir bukan itu masalahnya. Tapi, akulah yang gagal mendidiknya. Aku terlalu sibuk dengan urusan ekonomi. Aku bisa mendidik anak orang lain, tetapi gagal mendidik anak sendiri. Atau, bisa jadi karena perhatian terhadap anak orang terlalu menyita waktu-waktuku sehingga waktu luang untuk anak sendiri terabaikan? Wah, ironis sekali! Tragis jadinya! Gawat! Keluargaku bisa berantakan kalau begini terus-terusan. Repot memang!
Malamnya aku sulit tidur. Kata-kata Imam yang minta scooter Po dan kata-kata Doni yang menohok tajam, perih mengganjal mataku. Karena aku tak sanggup memenuhi permintaan mereka, anak-anak mulai memberontak dengan berbagai ulah yang mengganggu ketentraman rumah. Bagaimana mungkin permintaan mereka aku penuhi kalau hanya mengandalkan gaji guru? Doni minta celana jean dan jaket kulit. Sementara itu Imam minta scooter Po. Inilah sebenarnya sumber awal dari ketegangan antara aku dan anak-anak. Sebenarnya aku telah merencanakan memenuhi permintaan mereka dengan cara kredit di KPN. Di sana semua keperluan keluarga, termasuk pakaian dan mainan anak-anak tersedia. Namun, apa hendak dikata potongan untuk seragam sekolah, bon panci, kompor, lampu, gula, beras dll, untuk bulan ini saja bisa menguras seluruh sisa gaji yang kumiliki. Bahkan bisa-bisa nombok. Dan biasanya untuk nombok ini aku menunggu upah ngelesi privat.
Ah, kasihan anak-anak! Anak yang mulai brahi harus terhadang oleh keterbatasan pendapatan orang tuanya. Kalau aku tak punya titel SARJANA karuan, misal buruh tani gitu. Lha wong ini sarjana, yang konon menurut pandangan masyarakat termasuk kelas menengah, kan, sulit. Aku tak mengerti mengapa masyarakat mengotak-kotak kelas sosial seseorang. Padahal kalau dipikir semua manusia itu kan sama. Dan ternyata menduduki kelas tertentu memang secara ototmatis harus beradaptasi dengan kebiasaan sosial yang dilakukan oleh kelas itu. Betapa kejamnya kenyataan hidup ini.
Pernah terpikir sambat mertua atau menyuruh istri untuk pinjam akan tetapi semua itu hanya terpendam dalam hati saja. Tak mungkin terucapkan karena pinjaman bulan lalu saja belum terbayar. Pinjam ke saudara kandung yang sudah jadi orang semua itu? Ah, justru akan muncul berbagai masalah baru. Bagaimana tidak muncul masalah baru kalau mereka justru akan mengungkit-ungkit persoalan masa silam. Mengorek-ngorek tentang kerasnya kepalaku, tentang nasihat-nasihatnya yang tidak aku ikuti, tentang kesalahan memilih perguruan tinggi, tentang aku yang terlalu idealislah, dan tetek bengek lainnya, yang semuanya memojokkan aku. Minta orang tua? Mala petaka akan menimpa. Bisa jadi, aku dicemooh oleh saudara-saudaraku. Katanya guru itu lek Minggu turu, awak wagu tur kuru secara ekonomi tak mungkin digugu lan ditiru, buktinya sejak dulu hingga kini masih saja keropotan. Aduh ! Tak kuat aku mendengar kata-kata yang menyakitkan hati itu! Tak mungkin aku minta bantuan kepada mereka. Biarlah harga diri ini terhimpit ekonomi kanan dan kiri.

SIKLUS 4
Malam ini semua persoalan harus ada jalan keluarnya. Otak kuperas dan kubentangkan. Pikir sana, pikir sini untuk menemukan alternarif jawab persoalan keluarga yang malam ini harus tuntas. Dan kali ini kesempatan ada, peluang ada, yakni, “Gebyar Belanja Satu Milyar.” Tapi bagaimana caranya? Oke! Seperti gagasan semula! Menugasi semua muridku untuk membawa bungkus sabun Soklin. Rencana Pengajaran malam ini harus tersusun secara rapi agar kedok pengumpulan bungkus deterjen tidak ketahuan siswa. Besuk pada awal jam pelajaran, siswa akan kupancing dengan pertanyaan tentang pengertian iklan dan poster. Dari sini akan muncul berbagai pendapat yang mengarah pada diskusi yang hangat. Setelah itu, tugas kokurikuler mengumpulkan bungkus sabun Soklin beserta tanggapannya dalam amplop berperangko kuberikan. Terus di rumah, aku tinggal menyisihkan lembar tanggapannya baru memasukkan foto kopi KTP-ku.
Betul ! Semua berjalan sesuai dengan rencana. Mulus tanpa hambatan. Tas plastik hitam yang sudah kusiapkan dari rumah, penuh dengan amplop, pekerjaan anak-anak. Dengan semangat membara, 28 lembar daftar hadir semalaman kubolak-balik untuk menandai kalau-kalau ada yang tidak mengumpulkan tugas. Esok paginya dengan penuh keyakinan seluruh amplop kukirimkamkan ke alamat yang telah ditentukan.
Penarikan undian yang akan ditayangkan TV secara langsung kurang beberapa saat lagi. Hari-hari penantian kulalaui dengan penuh kegembiraan karena aku sangat yakin bahwa di antara 1120 amplop yang kukirim pasti ada yang keluar. Dengan demikian, scooter Po, celana jean, jaket kulit, bon KPN pesanan anak-anakku akan tuntas dalam sekejap. Tidak hanya itu, sepeda motor, kulkas, majig jar, hand phon, bahkan mobil akan menghiasi hari-hariku. Akan kutunjukkan kepada saudara-saudaraku, yang selama ini selalu menyalahkan, bahwa guru bukan sekedar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tetapi Pahlawan yang harus dihargai jasanya dengan tanda khusus, yakni tingkat kehidupan sosial ekonomi yang layak, seimbang dengan jasanya sebagai pembentuk pribadi generasi penerus bangsa. Dengan “Gebyar Belanja Satu Milyar” semua persoalan keluarga akan tuntas. Taas…taass…taaas! Ketegangan dengan anak-anak akan musnah. Istriku tidak lagi seharian meninggalkan rumah untuk sekedar mencari tambahan kekurangan belanja. Aku pun lebih bisa memberi perhatian kepada anak-anak karena tidak perlu lagi pagi sore, siang-malam mengajar terus. Hidup sejahtera lahir batin tinggal tunggu waktu saja.
Hari yang kunanti-nantikan tiba sudah. Sepuluh pemenang hadiah utama dibacakan oleh seorang presenter satu per satu. Hadiah utama I dari Jakarta, hadiah utama II kena orang Bandung, III dari Aceh, IV dari Semarang, V, VII,…..dan seterusnya sampai ke sepuluh, nama dan alamatku tidak disebut. Aku tak percaya dengan ini semua. Aku tidak yakin dengan apa yang kulihat dan yang kudengar. Bisa jadi, aku salah dengar atau salah lihat. Aku berlari ke tetangga sebelah yang jadi dokter, bertanya apa dia menyaksikan undian “Gebyar Belanja Satu Milyar”, ia geleng kepala. Berlari ke tetangga sebelah yang jadi camat, ia geleng kepala. Bertanya ke teman dekat yang jadi notaris, ia juga geleng kepala. Semua tidak ada yang tertarik dengan undian berhadiah itu. Akhirnya, aku mencari koran. Nama dan alamat pemenang undian terpajang di situ. Namun, nama dan alamatku tak nampak di situ. Entah berapa puluh kali sederet nama-nama pemenang hadiah itu kubaca, sampai koran itu kumal, nama dan alamtku tetap tidak ada di situ. Setelah itu semua jadi kabur. Kolom-kolom dan huruf-huruf dalam surat kabar, tiba-tiba berubah menjadi barisan 1.120 siswa dalam posisi hormat kepadaku. Kemudian menyanyikan lagu “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA” . Pada bait terakhir yang berbunyi : engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa, mereka menitikan air mata. Suara tangis siswa-siswaku semakin keras. Aku ikut terharu dan menangis. Setelah itu aku terjatuh dan tak ingat lagi apa yang terjadi.

SIKLUS 5
Waktu itu kira-kira masih jam setengah tiga siang. Sepeda jengki yang sudah karatan, milikku satu-satunya, kukayuh agak kencang. Derit rantai tua yang tak pernah kena oli bersaing dengan dengus nafasku menembus kemiringan sinar matahari. Di arah timur terbentang pelangi. Artinya, ada wilayah, entah di mana, sedang hujan. Cuaca saat itu memang sedang tak menentu. Kadang tiba-tiba hujan deras sementara matahari bersinar benderang. Pernah juga tidak ada mendung tidak ada hujan, tiba-tiba air bah meluap ke mana-mana. Sementara itu, di wilayah lain kekeringan. Sistem pergantian musim hujan dan kemarau, yang dulu bisa dipastikan sekarang tidak lagi. Ibarat sebuah tempat yang mengalami pergeseran-pergeseran dalam hal pembatas waktu. Mestinya musih hujan tetapi masih saja kemarau. Begitu sebaliknya, mestinya waktunya musim kemarau, hujan masih saja deras. Konon keadaan demikian pertanda mulai rusaknya ekologi. Bisa jadi, suatu saat perputaran bumi akan semakin lambat karena keseimbangannya terganggu. Para industri jam akan bingung mengatur berapa kali putaran jarum untuk menentukan pukul tertentu. Mungkin saja satu jam tidak lagi 60 menit lagi, tetapi sama dengan 90 menit atau 90 kali putaran jarum jam.
“Tit..tit..tit…tiiiitt..!” suara klakson sepeda motor yang melaju kencang mengagetkanku. Hampir saja, aku tak sanggup menguasai setir kendali. Untung aku cepat refleks, berhenti dan turun dari sepeda. Deru kenalpot meninggalkan bau parfum, harum. Debu beterbangan menerpa sepeda jengki kesayanganku. Sementara angin yang ditinggalkan merobek-robek dan menyeret-nyeret tubuhku. Di ujung jalan berkelok sepeda motor itu menghilang. Peristiwa itu mengingatkan aku untuk berjalan lebih hati-hati. Sepeda kukayuh agak perlahan menyusuri jalan-jalan kampung. Di pertigaan tepi sawah, tanah bengkok, aku belok ke kiri. Ada beberapa pohon kelapa menjulang ke langit, daunnya meliuk-liuk diterpa angin kencang. Di bawah pohon kelapa yang paling ujung itulah rumah Bu Nanik berada. Aku sebenarnya sudah ogah-ogahan mendatangi tempat les privat itu. Karena di samping jaraknya yang agak jauh, desas-desus minor yang mengarah ke fitnah mulai keluar dari beberapa mulut tetangga sekitar. Baik itu berupa sindiran halus lewat guyonan, sanepan, gelagat atau kritik yang lebih tajam. Suara selentingan yang sempat kudengar, katanya aku adalah pengganti bapak Anik. Terus terang, memang ibu Anik seorang janda yang tergolong muda dan cantik. Dan Anik merupakan anak satu-satunya. Tapi kalau mengingat tuntutan ekonomi keluarga, aku tidak bisa berpaling. Aku terpaksa terus dan harus menjalani tugas yang konon mulia itu.
Masih jam tiga sepuluh menit. Seperti biasanya, di depan pintu rumah, aku selalu disambut dengan senyum indah Bu Nanik. Dan tak ketinggalan kata-kata beraksen Jawa kental,’mangga pinarak’ ikut menghiasi keramahannya.
“Tumben, Pak Jono agak terlambat hari ini?” kata Bu Nanik selanjutnya.
“Oh, maaf Bu! Saya tadi ketiduran” jawabku sekenanya.
“Makanya, sejak semula sudah saya sarankan kepada Bapak, setiap akan les privat tidak usah pulang, langsung ke sini saja! Boleh kok, Pak Jono tidur siang di sini!” kata Bu Nanik. Aku jadi agak gugup dan kikuk mendengar tawarannya. Untuk menutupi rasa kegugupanku, segera kualihkan pembicaraan
“Anik mana, Bu?” Bu Nanik tidak menjawab pertanyaanku, pura-pura tidak mendengar. Ia malah balik bertanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Yah, sekedar basa-basi, ‘abang-abange lambe’ begitu menurut ungkapan Jawa.
“Masih ngopi, Pak Jono?” katanya seraya meninggalkan aku sendirian. Ada sedikit kecurigaan melintas di benakku. Ada apa gerangan hari ini, Bu Nanik bersikap tidak seperti hari-hari sebelumnya. Belum sempat berpikir jauh, Bu Nanik sudah kembali dengan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.
“Silakan, Pak! Mumpung masih hangat!” Ia menawarkan. Tanpa basa-basi, kopi langsung kuminum beberapa teguk. Dan pisang goreng pun kuambil satu.
“Maaf, Pak Jono! Anik hari ini tidak bisa les. Tadi pagi saya sudah pesan padanya, sepulang sekolah, saya suruh langsung ke Blitar menjemput neneknya. Itu lho, Pak Jono, besuk lusa saya ada hajatan kenduri, mendhak bapaknya Anik.”
“Anik tadi pagi, kok tidak berkata apa-apa, ya Bu! “ kataku agak kecewa.
“Ah, Pak Jono! Kan, biasa anak muda sering teledor kalau diberi tanggung jawab! Di samping itu, apa Pak Jono tidak akan datang ke sini jika tidak ada Anik?” bela Bu Nanik. Kata-kata Bu Nanik terakhir semakin mempertegas kecurigaanku. Jangan-jangan ini hanya siasat buruk Bu Nanik saja. Bisa jadi ada udang di balik batu. Tidak biasanya Anik teledor dengan tanggung jawabnya. Kalau hari ini tidak les tentu dia akan memberi tahu sebelumnya.
“Oh ya, kalau begitu saya pamit saja, Bu!” kataku.
“Pak Jono tidak suka lagi ya dengan kopi” desaknya.
“Bukan begitu, Bu! Rasanya tidak enak kalau kita hanya berdua saja di rumah ini. Nanti akan muncul fitnah yang tidak-tidak” Aku mencoba menyadarkan Bu Nanik karena desas-desus sudah semakin santer saja menerpa lubang telingaku dari tetangga kanan kiri.
“ Biarlah orag lain bicara yang enggak-enggak. Dan lagi, sekarang masih jam tiga sepuluh menit. Dihabiskan dululah, Pak, kopinya. Masak sudah dibuatkan capek-capek hanya diminum sedikit,” cegahnya.
Kopi pun kuteguk beberapa kali. Dan setelah itu, kepalaku terasa pusing. Pisang goreng, cangkir, meja, kursi, gambar presiden-wakil presiden yang menempel di dinding, dan gambar-gambar lain serta beberapa mebel yang terpajang di ruang tamu semakin kabur, berpendaran tak jelas bentuknya. Bulatan-bulatan berkedap-kedip yang muncul pada saat aku memarahi Doni, kini muncul lagi, beterbangan seperti prosesi lebah mengiringi rajanya.
“Maaf, Bu! Rupanya saya masuk angin!” kataku agak tersendat-sendat. Mataku seperti tak mau diajak kompromi. Pening campur ngantuk tak dapat kutahan. Kemudian aku berjalan sempoyongan entah ke mana tak jelas. Hanya aku merasa ada yang menuntunku. Entah siapa orang itu, aku juga tak jelas. Kalimat yang keluar dari mulutnya, kalimat yang biasanya diucapkan oleh istriku ketika aku masuk angin.
“Dikerik,Pak! Dikerik ya biar sembuh! “ Begitulah kalimat terakhir yang sempat kudengar. Setelah itu, aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Mataku terasa terjahit rapat. Begitu juga indera yang lain, fungsinya mulai terganggu. Hal ini dapat kusimpulkan dari betapa sulitnya aku mengidentifikasi bau parfum yang menyentuh ujung hidungku. Sesekali seperti bau parfum Anik, sesekali seperti bau parfum anakku, si Doni. Tetapi kalau ditinjau dari sedapnya sepertinya bau keringat istriku yang selalau kurindukan setiap saat. Ah, membingungkan! Yang jelas parfum itu adalah parfum yang sudahh akrab dengan lubang hidungku. Karena penciumanku terasa agak eror, akhirnya menjadi tidak pasti parfum itu milik siapa.
Beberapa waktu setelah misteri parfum tak terpecahkan, aku diberondong fragmen-fragmen mimpi. Aku melihat Anik yang manja kekanak-kanakan, tiba-tiba muncul di sela-sela les, yang sering kali juga muncul di sekolah. Aku merasa jadi Ande-ande Lumut dalam cerita rakyat yang sangat digemari oleh masyarakat kelas bawah di daerah terutama Jawa. Aku yang sudah jadi Ande Lumut itu, dikerubuti gadis-gadis cantik yang biasa disebut dengan Klenting-klenting. Ada Klenting Kuning karena memang memakai baju kuning, Klenting Hijau, Klenting Merah, dan ada juga yang bernama Kleting saja. Dan dua di antara Klenting-Klenting itu sifat, perilaku, dan ciri-ciri fisik yang lainya sama dengan Bu Nanik dan Anik. Kalau boleh aku katakan dua Klentig ini tak ada bedanya dengan ibu dan anak itu, identik dan sebangun. Klenting-klenting itu saling berebut menarik perhatianku. Aku benar-benar terhormat dan amat berharga di mata-mata klenting-klenting itu. Mereka menggoda-goda aku, manarik-narik bajuku, manarik-narik tanganku, kakiku, perutku, kepalaku, rambutku, lidahku, telingku, hidung dikoyak, diperebutkan, jantungku, dan hatiku. Bagai segerombolan serigala liar yang kelaparan memperebutkan bangkai. Ah, aku tercabik-cabik! Seluruh pakaian yang kukenakan terjuring-juring. Aku setengah bugil. Edan mereka tak punya rasa malu. Etika pergaulan sosial dan norma agama telah dilecehkan. Pergaulan sosial diracuni dengan hitamnya nafsu. Higene psikologiku pun tercemar dengan virus-virus nafsu. Posisi yang semula kukira terhormat ternyata 180 derajat berubah arah. Ternyata, aku hanya GR saja. Aku terlalu merasa tersanjung. Aku jadi malu. Aku lari menjauhi para klenting. Aku menangis menyesal dengan sifat ’milik gendhong lali’ yang kumiliki’. Dengan perasaan carut marut, kularikan kakiku ke dangau di tengah sawah. Angin dan hijaunya hamparan padi yang baru tumbuh membasuhkan kesejukkan sehingga kekusutan jiwakau agak terobati. Aku coba tidur di dangau itu untuk sekedar menghilangkan rasa lelah dan melupakan segala peristiwa yang baru saja kualami.
“He, siapa itu?” tiba-tiba suara seorang perempuan meneriaki dari kejauhan. Aku bergegas bangkit dan melongok ke arah suara.
“ Kenapa kau tidur di situ?” suaranya sangat merdu.
Aku berusaha menjawab tetapi mulut ini serasa terkunci. Heran kenapa gerak dan langkah yang ingin kulakukan serasa ada yang menahan. Apa mungkin aku tadi terlalu capek karena berlari menghindar dari koyakan para klenting? Ah, apa yang terjadi dengan tubuhku? Kenapa aku jadi lemah seperti tak bertulang? Pertanyaan-pertanyaan ini belum sempat terjawab aku melihat salah satu klenting yang tadi muncul dengan kain bidadarinya. Ia menghampiriku. Bau parfumnya langsung menyengat, membangkitkan kelelakianku. Aku berusaha berontak dan meredam nafsu tapi klenting yang satu itu lebih cepat mengatur strategi.
“Bapak, masuk angin! Coba ini ada balsem GELEGA, kerikan dulu. Tanpa aku bisa menjawab, klenting itu telah mebalur sekujur tubuhku dengan balsem. Jari-jari lentiknya mengaruk-garuk dengan sekeping uang ratusan. Hangat memang. Dan tak terasa aku telah berubah menjadi binaragawan Ade Ray yang muncul di layar kaca. Seorang perempuan cantik pun dengan setia setiap saat menggosoki punggung Ade Ray yang terasa tegang. Pada mulanya Ade merasa geli karena balsem yang digunakan tidak cocok. Kemudian ada inisiatif dari perempuannya mengganti dengan yang lain. Senyum kenikmatan pun mekar. Hangat memang! Dan kenikmatan itu berlanjut terus. Perempuan yang bernama klenting-klenting tadi menari-nari penuh ceria dan tiba-tiba terdiam dengan meringis menunjukkan giginya yang putih, seputih layar kaca TV.
“Bu..bu…!. Ibu ! Bangun! Tidak jelas suara perempuan menghentikan frakmen mimpi yang kualami. Dan, perlahan – lahan aku benar-benar terbangun dari mimpi. Aku tersentak! Aku tak percaya! Ah, tertidur di mana aku ini! Aduh mati aku! Selimut siapa yang kupakai ini! Mata kuucek-ucek agak lebih jelas . Istriku ? Ah, bagai disembur api sekujur tubuhku. Dia bukan istriku! Dia Bu Nanik, ibu muridku! Kenapa jadi begini?
Aku semakin gugup. Suara di luar kamar sangat kukenal. Itu suara Anik! Kenapa ini mesti terjadi? Keringat dingin mengalir semakin gencar. Suara Anik semakin keras saja. Bu Nanik begitu pulasnya tidur. Aku bingung dibuatnya. Bagaimana ini semua bisa terjadi. Aku tak berani membangunkan Bu Nanik yang kelihatan pulas. Aku tak sanggup berkata sepatah kata pun . Aku terbungkam dalam kekalutan. Tak percaya dengan kejadian mimpi menjadi sebuah kenyataan. Akhirnya, sebuah keputusan harus aku ambil. Pintu harus aku buka. Ya, apa pun yang terjadi pintu harus kubuka. Pakaian yang kukenakan kurapikan dan pintu yang dikunci kubuka. Sebuah tatapan mata Anik yang tajam menembus dan melucuti seluruh wibawaku.
“Ba….bab….bapaaaaakkk!? teriak Anik sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Secepat kilat kemudian Anik menghambur ke kamar sebelah dengan tangis tersedu-sedu. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana. Yang jelas dengan gemetar dan rasa takut yang sangat sepeda jengki kusaut dan kukayuh dengan perasaan kacau.
Sejak peristiwa itu, aku berusaha menjauh dari Anik. Dia pun rupanya juga mengambil sikap yang sama. Bahkan, kabar terakhir ia telah pindah dari sekolah tempat aku mengajar. Dan peristiwa itu berlalu menjadi sejarah getir yang menghiasi liku perjalananku.

SIKLUS 6
Pagi itu aku benar-benar lelah. Tenagaku terkuras mengumpulkan berkas-berkas untuk kenaikan pangkat. Sudah menjadi kebiasaan, setiap akan kenaikan pangkat selalu direpotkan oleh bukti fisik pendukung DUPAK. Sering kali memang terasa jengkel. Belum lagi nanti kalau harus bolak-balik foto kopi karena BTL (berkas tidak lengkap). Kalau dipikir proses kenaikan pangkat cara demikian memang menguntungkan bagi seorang guru yang aktif. Tapi, kalau dihitung-hitung antara biaya proses pengajuan dengan kenaikan gaji yang diterima kadang kala tidak sebanding. Bayangkan untuk sekali naik pangkat sampai menghabiskan delapan puluh ribu rupiah, sementara kenaikan gaji hanya enam belas ribu lima ratus rupiah. Ini berarti kalau dihitung secara ekonomi untuk impas harus menunggu 5 bulan penerimaan gaji. Edan! Belum lagi nanti harus menunggu turunnya SK yang selalu terlambat. Dan, mesti ada potongan lagi. Bahkan, sejak otonomi daerah birokrasinya lebih rumit lagi. Turunnya SK diulet-ulet, rapelan kenaikan sering kali tidak turun. Ah, heran! Kenapa sebagai seorang pendidik harus dilatih untuk melakukan korupsi secara sistematis. Memang benar kata-kata seorang teman tentang prinsip birokrasi ‘untuk apa dipermudah kalau bisa dipersulit.
“BBM mulai bulan Februari naik lagi” begitu celetuk salah satu temanku yang baru datang dengan menenteng-nenteng koran. Kalkulator yang kupencet-pencet sejak tadi menghitung jumlah angka di DUPAK kuhentikan.
“Bagaimana, Pak sudah selesai DUPAK-nya?” tanya kawanku tadi.
“Ah, masih menghitung dan melengkapi bukti fisiknya” jawabku.
“Cepat selesaikan, Pak! Nanti keburu kenaikan biaya hidup.”
“Ah, harus sabar, lambat-lambat asal naik pangkat” begitu ucapku.
“Mau ngajar dulu, Pak. Ini kalau dibaca!” pamit kawanku sambil menyodorkan koran ke mejaku. BBM naik lagi, sebuah judul yang tidak populis bagiku. Ini adalah awal dari tambahan beban berpikir untuk menanggulanginya dan awal dari bertambahnya beban kehidupan. Kalau naiknya 10 persen saja berarti biaya yang harus kukeluarkan sebagai kompensasinya bisa mencapai lima kali lipat. Mulai dari dapur, cabe, garam, bawang, kencur, tumbar, penyedap, minyak goreng, gula, kecap, dll pasti ikut naik. Kalau saja naiknya masing-masing seratus perak, berarti bisa dihitung berapa tambahan dana agar ketenteraman dapur tetap terjaga. Belum lagi uang sangu anak-anakku. Ah, tidak perlu aku baca berita ini. Memusingkan! Sungguh kasihan nasib anak-anak! Masa depannya terancam kalau terus-terusan begini. Memang benar cerita dan saran Pak Joko, salah seorang guru senior di sekolahku itu. Katanya kalau anak-anak kita ingin sekolah di pergurun tinggi, kita harus punya kerja sampingan. Kalau perlu ngajar itu ala kadarnya saja. Untuk apa kita terlalu memikirkan anak orang lain kalau anak kita sendiri tidak terurus dengan baik. Ah, dunia pendidikan akan hancur rasanya.
Aku tidak berpikir kalau nasib yang kualami jadi seperi ini. Aku jadi teringat akan kata-kata bapakku. Beliau mengatakan dengan puitisnya:
Masa depan adalah tebaran kemungkinan-kemungkinan
Masa depan adalah misteri berkabut yang menggelar ketidak pastian
Yang tidak pasti adanya,
Yang perlu kita siapkan adalah membekali diri untuk bergumul dengan ketidakpastian-ketidakpastian itu, yang menghiasi tebaran bintang-bintang kemungkinan-kemungkinan itu. Karena itu kau harus siap anakku. Hadapilah ketidakpstian itu dengan kepastianmu itu sendiri. Namun, yang jelas masa depan ada karena masa kini dan masa lalu.
Koran kubolak-balik. Berita-britanya didominasi oleh berita kekerasan. Mahasiswa demo, pengdilan koruptor, penangkpan gembong narkoba, peledakan bom, kebakaran pasar, perang antar etnis, curanmor, curas. Ah, apa yang sedang terjadi di negaraku ini. Kok tidak cocok dengan kata-kata Kus Plus, ya? Ada apa ini? Mana bukti gemah ripah lohjinawi, subur makmur, adil dan sentosanya? Kapan? Padahal sejak aku SD kata-kata itu telah memenuhi seluruh lubang telinga dan ruang benakku! Ah, tak tahulah! Kenapa mikirin itu, enak baca metro polis sajalah. Koran kubuka. Mataku kusapukan ke seluruh Head Lain. Dan, deg, sebuah judul seakan-akan menghetikan detak jantungku. ‘Siswa SLTA Gantung Diri : Malu karena ibunya hamil di luar nikah’. Tanpa terasa keringat dingin merembes dari kening, ujung hidung, telapak tangan, leher, perut, kaki dan akhirnya baju PSH-ku basah oleh keringat dingin.
Huruf demi huruf, kucermati judul itu. Tanganku mulai gemetar kencang. Jantung semakin tak teratur. Ah, jangan-jangan Anik melakukan perbuatan nekad ini. Agak melotot mataku mulai menggaris-garis kalimat, membaca dengan teliti. Bojonegoro, Ani Kurniawati siswa SMU nekad gantung diri. Gara-garanya ibunya hamil di luar nikah. Pet! Pet! Mataku kabur! Dan semakin lama muncul warna pelangi putih, kuning, hijau, biru, merah dan daas…, hitam semua adanya. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Secara samar aku dengar kata-kata oarang , “Pak Jono! Pak Jono! Pak Jono pingsan!”
“Mungkin jantungan, segera bawa ke puskesmas!” suara yang lain.
Entah sejak kapan aku tertidur. Ketika kubuka mataku aku telah berada di kamar sebuah rumah sakit, RSUD. Istriku telungkup tertidur di bawah kakiku. Anakku yang sulung sedang bermain game board. Di atas almari kecil yang dicat putih termenung termos dan piring yang bungkam. Apa yang terjadi? Suara kipas angin di pojok ruangan menderu-deru lembut seakan-akan mencoba menghiburku. Di mana DUPAK yang hampir selesai? Ah, rupanya fisikku mulai tak bisa diajak bekerja keras. Buktinya aku hanya bisa tergolek di sini. Kenapa bisa begini, ya? Oh, ya ! Aku ingat sekarang! Aku waktu itu membaca sebuah berita di koran milik temanku. Kemudian aku kaget dan pingsan. Betapa ringkihnya aku.
“Pak, Bapak sudah bangun?” tanya istriku. Aku tidak menjawab pertanyaan istriku. Aku hanya berkeinginan menyelesaikan membaca berita duka siswa yang gantung diri itu. Aku ingin membuktikan apakah yang gantung diri itu Anik mantan muridku yang sudah pindah sekolah itu.
“Bu, tolong pinjamkan koran hari Senin, minggu kemarin ke Pak Wid. Aku ingin membacanya.” Suaraku agak gemetar.
“Sudahlah, Pak, jangan membaca dulu! Bapak istirahat saja, biar segera pulang!” cegah istriku.
“Tidak, Bu, di sana ada berita yang menarik, yang berguna bagi murid-muridku” kataku berbohong.
“Baiklah, biar Si Doni nanti yang pinjam.”
“Baiklah, Pak biar saya pinjamkan” saut Doni menghampiri aku.
“Tolong, ya Don, sekarang.”
“Baik, Pak!” jawab Doni sambil melangkah pergi.
“Oh, Don, tolong termos ini kau bawa pulang sekalian isi, nanti kau bawa kembali” kata istriku.
“Oh, iya Pak, ini tadi sama Ibu dibuatkan agar-agar! Makan dulu, ya Pak!” Tanpa menunggu jawaban istriku sudah siap dengan sendok didepan bibirku. Dan aku pun beberapa suap menikmatinya. Setelah itu aku pun tertidur lagi. Dalam tidur aku bermimpi berada di sebuah sekolah. Di sekolah itu banyak ditumbuhi pohon palem yang mayangnya sedang bermekaran. Ada seekor burung pipit menghambur dari rimbun daunnya. Pipit itu terusik oleh lelarian anak-anak sekolah yang berkepala lebah. Anak-anak sekolah yang berkepala lebah berebut madu di antara mekarnya mayang. Burung pipit di kejuhan mengumpat-umpat.
“Anak sekolah serakah, anak sekolah serakah! “ kata pipit. Tiba-tiba dari pojok timur pekarangan sekolah muncul kutilang. Ia mendukung pipit.
“Anak sekolah salah asuh! Anak sekolah salah sistem!”
Burung pipit berhambur dari pohon palem satunya. Anak-anak segera menghisapi madu mayang yang lagi bermekaran. Anak-anak berlari ke pohon palem yang lain bagai lebah mereka berputar-putar ramai berpesta madu mayang. Ceria sekali. Dan tak lama kemudian anak-anak sekolah yang berkepala lebah tadi perutnya membuncit. Semua tertidur di bawah pohon palem yang siap dimadu berikutnya. Tiba-tiba dari arah ujung daun yang masih kuning muncul salah seorang anak sekolah yang berkepala ular. Ia membacakan puisi WS.Rendra dengan berapi-api. Puisi yang dibacakan itu sebagai berikut.
Seonggok jagung di kamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tetapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan
Anak sekolah yang berkepala ular itu berhenti sejenak. Matanya tajam, menatap setiap anak sekolah berkepala lebah yang nyenyak tertidur. Lidah ular itu menjilat-jilat bekas liurnya yang muncrat saat membaca puisi. Kemudian ia menggeliat dan melanjutkan bacaannya.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
Atau apa saja,
Bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”
Kalimat pertanyaan itu diulang-ulang keras-keras sampai suaranya serak. Dan pada puncaknya ia tidak punya suara lagi. Dengan gaya ularnya ia mehilang di balik rimbun taman sekolah. Entah kemana ia.
Ah, berbahaya! Siswaku ada yang berubah menjadi ular! Tapi apakah ular ini berbisa? Tak tahulah. Yang jelas berdasarkan ilmu perularan semua jenis ular mempunyai alat untuk mempertahankan diri, yang berupa bisa. Benar-benar mengerikan jika ini terjadi. Tapi yang lebih heran lagi kenapa ular tadi bisa baca puisi dan tanpa berkata-kata menghilang begitu saja? Mungkinkah dia telah puas setelah berteriak-teriak atau malah tidak puas dengan dengan sikapku yang kurang tanggap ing sasmita ? Tak tahulah!
Oke! Di mana ular tadi? Harus kutemukan! Harus! Akan kutanya apa maksudnya ia berulah dengan membaca puisi begitu lantang dan menghilang begitu saja. Dengan rasa penasaran, antara percaya dan tidak, aku mulai melakukan pengejaran. Aku menelusuri semak-semak, segala semak. Mengorek semua lubang. Kukais segala yang dapat kukais. Kucari dia di balik batu-batu, di antara rerumputan, di sela gundukan sampah kertas, di sela bongkahan tanah. Dan di mana saja. Tapi sampai seluruh sudut sekolah terkoyak ular belum juga kutemukan. Di mana dia!
Aku masih belum menyerah. Wilayah pencarian kualihkan ke dalam ruang-ruang kelas. Sasaran pertama adalah ruang kelas I. Berdasrakan perhitungan nalar, ruang itulah yang paling mungkin digunakan untuk bersembunyi ular tadi karena ruang itu merupakan ruang terdekat dari tempat ia membaca puisi.
Tanpa membuang waktu terlalu lama, aku segera bergerak. Sebuah kelas yang indah begitu pikirku. Lantai bergitu bersih. Kaca-kaca jendela juga bersih. Hiasan dinding terpajang dengan serasi. Ada simbol kimia yang tergantung dengan megah, data kelas, daftar piket, daftar absen, denah kelas, tata tertib dan yang lebih menarik perhatianku adalah gambar Ki Hajar Dewantara yang dipajang bersebelahan dengan gambar presiden dan wakilnya. Aku tidak terlalu mengerti dengan keingingan siswa kelas I ini. Mengapa gambar itu di pajang di sisi kiri. Atau mungkin mereka lupa dengan aturan pemasangannya. Atau mungikin memang disengaja dipajang begitu? Ah, tak tahulah! Tak perlu diperpanjang lebar. Tujuanku adalah mencari ular.
Aku berjongkok. Mataku dengan teliti kusapukan ke seluruh penjuru. Kosong! Kemana dia! Mungkinkah dia bersembunyi di dalam laci? Bisa jadi. Laci-laci meja belajar pun kususri. Meja kesatu kosong. Meja kedua kosong. Meja tiga, empat lima, enam…..meja ke empat puluh satu kosong juga. Ah, mungkin di meja keempat puluh dua. Tangan kananku kumasukkan ke dalam laci. Kuraba-raba. Dan … cruss! Aduh! Aku digigit ini rupanya. Segera kuseret meja itu ke tempat yang leluasa. Kena kau! Kena kau! Segera laci itu kuperikasa. Ah. Kurang ajar ternyata hanya secarik kertas saja. Kalau begitu apa yang menggigit tadi? Ealaah! Ternyata jari-jariku tertusuk paku. Sontoloyo! Tukang bikin meja ini kurang perhitungan rupanya. Masak paku sebesar ini digunakan untuk kayu setipis itu. Dasar kurang pengalaman. Aku mengerutu sendirian.
Secarik kertas yang kutemukan kubuka-buka untuk membersihkan darah pada jariku. Tanpa sengaja terbacalah tulisan yang agaknya sebuah puisi. Aku jadi penasaran. Kubuka pelan-pelan dan kubaca.
SEKOLAH CACAT
Untuk guruku
Gunung Arjuna berjongkok di atas genting SLB
Sementara, aku berdiri di samping ketinggian tiang listrik
Anak-anak cacat berlarian girang di kawat-kawat langit
Sementara itu ibu mereka bersorak-sorak memandangi dengan rasa kuwatir
Dari lapangan rumput

“ Layang-layangku terbang. Layang-layangku terbang!”
Begitu ramai berkumandang dari mulut ibu mereka

Dari pojok WC mengendap-endap bocah kering mata juling, bibir sumbing telinga tuli
Dan tiba-tiba:
“Kau kok di sini! Ini tidak boleh! Melanggar peraturan!”
Suara bentakan entah dari mana
Bocah kering terdiam bungkam ketakutan
Kemudian lari terpinacang-pincang, sambil mengucap:
“Pendidikan cacat, sekolah cacat, aku jadi cacat.
Pendidkan cacat. Sekolah cacat. Aku jadi cacat!”

Bocah kering mata juling menghambur ke pangkuan ibunya menangis tersedu.
Ibunya memeluknya penuh kasih sambil berkata:
“Anakku, jangan kau menangis!. Lihatlah ke atas, matahari tak pernah bosan menyapu langit agar tetap berwarna biru.”
Ditulis oleh Ular
Beberapa saat aku tertegun dengan isi puisi itu. Amat mengharukan dan sekaligus menohok ulu hatiku. Betulkah kau cacat karena sekolahku? Sebuah pertanyaan yang tak mampu kujawab. Aku pun menangis tersedu-sedu. Kertas yang bertulis puisi kurobek-robek dan kuhamburkan. Aku merasa terhina dan nista di hadapan ular.
Ular di mana kau? Jangan kau siksa aku seperti ini, ular! Tiba-tiba jantungku berdegup agak kencang. Ada sedikit kejengkelan dengan ular. Aku harus menemukan ular. Dia tak akan kuberi ampun. Apa maksud dia berulah seperti ini. Akan kukejar dia sampai ke lubang semut sekalipun.
Aku berkelebat keluar dari ruang kelas I. Sasaran berikutnya adalah ruang kelas II. Kali ini aku tidak masuk melalui pintu. Aku melompat melalu jendela. Kelas II sama seperti kelas I bersih dan rapi. Kupandangi bangku-bangku yang tertata rapi satu persatu. Tak ada siapa pun. Kemana dia? Mungkin bertengger di bangku belakang. Beberapa langkah kakiku ayunkan ke arah bangku deret belakang. Tiba-tiba bangku-bangku itu bergoyang-goyang semua. Kelas jadi gaduh. Aku teriak membentak? Kaukah ular? Tak ada jawaban. Kuulangi lebih keras lagi’ Kaukah ular!!’.
“Ya, akulah ular, Pak Guru!” begitu serentak dijawab.
Kemudian satu per satu bermunculan siswaku yang berkepala lebah. Matanya memancarkan sorot sangat menakutkan.
“Kenapa kau jadi begini anak-anak?” tanyaku.
“Bapak tak perlu bertanya. Kamilah yang seharusnya bertanya. Kenapa kami jadi begini, Pak?” saut mereka dengan garang.
“Anak-anak, maafkan Bapak! Pertanyaan Bapak perlu jawaban yang tulus! Bapak benar-benar tidak mengerti! Mengapa jadi begini?”
“Bukankah Bapak yang telah menjadikan kami seperti ini?”
“Tidak, Nak! Bapak telah mengikuti instruksi dari buku petunjuk teknis dan buku petunjuk pelaksanaan PBM”
“Itulah kesalahan Bapak! Bapak telah menjerumuskan kami ke dalam perangkap PBM alias Pencetak Bibit Mandul. Kami tidak bisa melaksanakan KBM (Kegiatan Berproduksi Madu) lagi, Pak! Di mana martabat Bapak?”
Entah berapa kali kata-kata martabat itu diteriakkan oleh mereka. Aku tak bisa mendengar lagi. Yang kutahu mereka melempariku dengan topi yang dikenakannya sambil mengejek-ejekku. Beberapa saat yel-yel anak-anak itu berlalu, berlalu pula mereka meninggalkan kelas. Topi berlambang ‘Tutwuri Handayani’ berserakan.
Kupandangi topi-topi itu dengan linangan air mata. Sungguh getir nasib ini. Aku semakin tidak mengerti ini semua. Oh, Ki Hajar Dewantara kau benar-benar telah dilupakan. Entah kenapa dan oleh siapa aku tidak tahu. Betapa tragisnya nasibku. Kalau begini untuk apa jadi guru. Guru yang dulu pernah kuanggap dan kuyakini sebagai profesi yang paling mulia ternyata tidak memberi kedamaian dan kenyamanan. Inikah salah satu kemungkinan dari tebaran kemungkinan yang pernah dikatakan oleh orang tuaku dulu? Atau ini justru kenyataann yang tidak mungkin?
Topi-topi itu akhirnya kupunguti satu per satu. Kasihan! Topi tak punya dosa apa-apa dilempar-lemparkan.
“Oh, topi biarlah kita dihina. Mungkin sebaiknya kita harus pergi, ” kataku berdesah.
“Ya! Sebaiknya memang harus pergi.” Begitu tiba-tiba suara lantang muncul dari pojok lubang plafon atas. Seekor ular bertopi abu-abu muncul dan menggantung di lubang langit-langit itu.
“Inilah topi yang telah kau paksa untuk kukenakan, Pak” kata ular itu sambil menjatuhkan topi yang dikenakan.
Topi itu melayang-layang dan melucur membentur lantai. Dengan gayanya yang meluap-luap ular itu meneriakkan kalimat-kalimat tentang topi. Begini:

BALADA TOPI
Untuk Guruku dari Ular
Perjalanan telah ditempuhnya. Jauh ! Jauh!
Jalan legam berkilau-kilau mentari terik
Ia sudah tak betah dengan bau apek rambut berkeringat
Yang bertahun-tahun menjadi tuannya

Sampai suatu hari terik,
Ia tertusuk gatal tajamnya rambut cepak berketombe
Dan berteriak:
“Aku harus berganti profesi. Tapi alasan apa yang harus kukatakan untuk meninggalkan pekerjaan ini?”
Ia semakin gatal karena kutu-kutu menjalari seluruh pori-pori hati, jantung, kulit, dan otaknya.
Ia semakin getir, tak sanggup menahan letupan-letupan aroma rambut cepak yang amis darah
Yang tengik dekil sampah kekuasaan
Hidupnya getir

Sampai suatu hari terik, ia menemukan alasan untuk meninggalkan pekerjaan
“Ya! Angin. Anginlah alasanku!
Angin berhamburlah! Berhamburlah! Berhamburlah! Angin berhamburlah!
Ya, ini alasanku! Ini alasanku, untuk tidak sekedar meninggalkan pekerjaan,
Tetapi mencari hal paling hakiki, yakni: Kemerdekaan!”

Sampai suatu hari terik, tuannya berkata:
“Telah bertahun-tahun engkau menyatu dengan kepalaku. Kini kau akan pergi? Pergilah!”

“Anginlah alasanku! Anginlah kebebasanku! Anginlah kemerdekaanku!

Sampai suatu titik terik, tuannya mengusir dengan kejam:
“Pergi! Pergi! Pergi!”

(Beberapa tendangan kasar menghempaskan topi itu ke arah angin! Ia dibuai angin! Diratapi angin! Dan digendong angin. Ia melambung! Terbang memilih tempat yang terhormat. Kemudian ia tersangkut di atas kepala patung seorang pahlawan kemerdekaan yang berdiri tegak di tengah kota)

Sampai suatu hari terik, dari atas kepala patung itu ia berteriak lantang:
“Inilah negeriku! Inilah kemerdekaanku!
Anginlah alasanku untuk tetap di atas kepala pahlawan ini.
Inilah negeriku
Inilah kebebasanku!”

(Kata-kata itu diucapkan berkali-kali. Mungkin sudah diucapkan berjuta-juta kali. Namun, tak seorang pun yang lewat di dekat patung itu mau mendengarkan teriakannya)

“He! Pergi kau ular! Husyah! Husyah!”
“Aku tidak akan pergi, Pak! Sebelum Bapak merubahku menjadi manusia lagi!”
“ Nak, Bapak telah mengikuti instruksi JUKNIS dan JUKLAK PBM. Bapak tidak salah, Nak!” jawabku berargumentasi.
“Tidak! Bapak telah menjerumuskan aku ke dalam jaring-jaring PBM alias Pencetak Bibit Mandul! Aku tidak bisa bertelur. Bapak mencelakakan aku! Bapak tak berani inovasi! Bapak membunuh kemanusiaanku! Bapak….” Kata-kata ular tak sempat selesai. Ia telah menyambar leherku. Sebuah gigitan yang amat mencekik. Aku meronta-ronta.
“Pak! Bangun Pak! Ada Bu Nanik sama Anik! Bangunlah sebentar!” bisik istriku membangunkan aku dari mimpi. Aku tergagap-gagap.
“Ada apa, Bu?” tanyaku.
“Ini ada Bu Nanik”
Perlahan-lahan mata kubuka. Kupandangi Bu Nanik dan Anik bergantian .Aku tak percaya kalau yang datang Anik bersama ibunya. Dengan kaku, aku menyapanya.
“Sudah tadi, Nik”
“Baru saja, Pak Jono” saut Bu Nanik.
“Pak, tujuan saya ke sini selain menjenguk Bapak juga akan menyampaikan permintaan maaf,” kata Anik agak ragu-ragu.
“Sudahlah, Nik,” kataku.
“Tidak, Pak! Saya telah merasa sangat berdosa karena menyangka Bapak melakukan hal-hal yang tidak pantas beberapa hari lalu. Ibu telah menjelaskan semuanya. Anik minta maaf, ya Pak” kata Anik sambil menangis.
“Sudah! Semua sudah saya maafkan. Tidak perlu kau menangis. Kau sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri!” kataku.
Anik tertunduk. Tangisnya semakin keras. Dan ia menghambur mencium tanganku. Istriku terpaku, haru.
“Sudah! Semua sudah jelas sekarang! Bapak sakit jantung dan sering kumat akhir-akhir ini! Bapak juga minta maaf! Bapak juga salah!”
Akhirnya, tanganku dilepaskan pelan-pelan. Setelah sedikit berbasa-basi Bu Nanik pun minta diri. Sejak saat itu beban pikiranku mulai berkurang. Berita di koran yang selama ini menghantuiku juga lenyap sudah. Aku merasa terbebas dari beban berat. Sakitku pun berasur-angsur sembuh. Hingga sehari berikutnya aku sudah diperbolehkan pulang. Bahkan, ketika aku sudah sembuh seperti sedia kala les privat semakin lancar dan HR-nya pun dinaikkan oleh Bu Nanik karena Anik nilainya meningkat drastis. Ah Anik! Anik!
Dan pada suatu kesempatan dua buah judul tulisan yang sangat berharga karena memberikan pelajaran bagiku kusimpan dalam buku-buku hatiku. Kedua tulisan tersebut tertera di bawah ini.








SIKULS 7
Pagi hari, pada saat pelajaran, di sebuah ruang kelas yang sepi. Tampak siswa-siswaku penat menahan beban. Beban mengerjakan soal-soal pilihan ganda yang konon sangat menentukan lulus tidaknya seorang siswa. Nasipnya sedang ditimbang dengan alat soal. Kasihan mereka. Lehernya ‘mengkeret’, bahunya terbungkuk-bungkuk, matanya menafsirkan masa depannya yang hampa. Di atas kepala mereka bertengger tempat-tempat sampah. Demokah mereka? Kenapa waktunya mengerjakan soal ujian malah bertingkah seperti itu? Aku tidak rela kalau sekolahku dinodai dengan demo model kampungan!
“He, kalian ini ada apa dengan tempat-tempat sampah itu? Ini bukan panggung sandiwara! Ini lembaga pendidikan, lembaga budaya, mini society.” kataku.
“Maaf, Pak! Kami tidak demo. Kami tidak protes. Kami tidak bersandiwara! Bukankah kami sejak tadi duduk manis sesuai intruksi tata tertib?” jawab mereka dengan serentak.
“Lalu dengan tempat-tempat sampah itu?”
“Mana ada tempat sampah di sini, Pak?”
“He, kalian jangan pura-pura tidak tahu, ya! Coba pegang kepalamu!”
Seperti dikomando, mereka serentak mengangkat tangan dan memegangi kepalanya. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan. Gerakan mereka benar-benar seragam dan terkendali. Benar-benar suatu pengamalan nilai-nilai disiplin tinggi. Baju, celana, sepatu, seragam, gerakannya pun seragam. Dan dalam irama yang serentak ia berkata-kata.
“Oo… ini, Pak! Ini bukan tempat sampah. Ini adalah kepala kami yang sudah lima belas tahun kami gunakan untuk menampung iptek dari Bapak, yang konon agar tercipta masa depan yang adil makmur, tata, tentrem kerta raharja itu, Pak. Dan, kata Bapak kalau sudah demikian berarti tujuan hidup dan kehidupan kami berhasil.”
“He! Kalian sinting apa! Masa tidak bisa membedakan antara tempat sampah dan kepala? Mana ada kepala berbentuk seperti itu?”
“Apalah, Pak artinya bentuk. Yang penting kan fungsi dan isinya. Kan begitu kata Bapak ketika menjelaskan SDM. Bahkan, Bapak sendiri pernah bilang bahwa manusia itu sama. Hidung macung, kulit coklat, alis tebal, semua sama saja yang penting adalah fungsi dia dalam mengemban hidup dan kehidupan ini. Dan lagi, juga kata Bapak, bagaimana isi pikiran dan isi hati itu yang lebih perlu ditingkatkan mutunya. Bahkan, waktu itu Bapak menyebutkan HDI (Human Development Index), yang kami semua tidak percaya. Terus waktu itu Bapak marah, karena menganggap kami menentang guru” kata salah seorang yang diikuti koor teman-temannya. Sebuah orkestra paduan suara segera menyusul:

Kepalaku penceng, ceng
Kepalaku loncong, cong,
Kepalaku kotak, tak
Kepalaku, kepalaku

Kepalaku segi tiga
Kepalaku segi empat
Kepalaku segi enam
Kepalaku bersegi-segi,
Kepalaku, kepalaku

Dalam sekejab saja mereka telah menari-nari penuh penghayatan. Putar ke kanan, putar ke kiri seirama lagu yang tercipta secara sepontan. Sekelompok dari mereka bergandeng-gandeng mendekat ke arahku dan mengelilingiku dalam lengak-lenggoknya yang gemulai. Dasi abu-abu yang biasanya tergantung di leher disulap menjadi selendang yang menawan. Sunguh karya seni yang paling kreatif dari sekian karya seni yang pernah lahir di sekolah ini.
Entah siapa yang memulai jogetan-jogetan mereka membimbing untuk saling berpasangan antara laki dan perempuan. Dan, entah apa dan siapa penyebabnya, tiba-tiba tarian yang mempesona itu semakin memanas, semakin beringas , dan akhirnya menyulut tawuran. Aku tak rela karya seni yang indah ini dilumuri permusuhan apalagi dilumuri darah dari nafsu. Segera kuambil megaphone. Nada keras kusemburkan melalui megaphone.
“He, berhenti semua! Anak-anak yang manis, bunga-bunga bangsa, harapan masa depan, berhenti! Berhenti!”
Beberapa detik mereka serentak berhenti. Ekspresi ketakutan memancar dari wajah-wajah mereka yang bersibahan keringat. Dan secepat gerakan pendekar silat, mereka berhamburan lari keluar kelas.
“Diam di tempat! Berhenti!” aku berusaha menghadang.
Mereka tambah kocar-kacir. Sebenarnya aku tidak bermasud marah, hanya sekedar untuk mengajak dialog mengapa kenikmatan dan keindahan berseni harus dinodahi dengan nafsu dan pertengkaran. Namun, mereka tidak pedulikan aku. Mereka berusaha aku kejar. Aku yang setua ini justru dipermainkan. Diledek-ledek, dianjak main umpet-umpetan. Anak satu kelas tidak satu pun yang tertangkap.
Aku tahu mereka keluar kelas dan menghambur ke dalam kotak-kotak tong sampah, yang berjajar di sepanjang depan kelas.
“Kurang ajar! Mereka sudah tak punya unggah-ungguh ! Atau mungkin aku sudah tidak punya wibawa? Edan!”
Aku bersungut-sungut sendirian. Oke ! Boleh jadi kau lepas kali ini. Tapi, lihat saja nanti! Kau akan memboyong seluruh kerabatmu dengan berbagai iming-iming hadiah untuk sekedar menambah nilai di rapormu. Aku tidak akan goyah oleh rayuan hadiahmu. Lihat saja nanti!
Satu dari sekian banyak tong sampah menyedot perhatianku. Ya, mereka tadi semuanya melompat ke dalam tong-tong sampah. Salah satu yang kulihat, yang menurut perkiraan paling mungkin bertindak sebagai provokator adalah yang masuk ke tong sampah di depan perpustakaan itu. Dengan hati-hati, kudekati tong sampah itu. Aku harus menangkap salah satu Dari mereka agar bisa bertanya tentang motif dan tujuan bertingkah yang tidak selayaknya dilakukan oleh siswa. Apa sih mau mereka? Dengan secepat jurus Jacki Can kurogohkan tangan ke dalam tong sampah yang menjadi sasaran.
“Meong…! Meooong..!” seekor kucing mengeluarkan kuku dan menyeringai. Lebih cepat dari refleksku, ia mendahului menyambar tanganku. Darah merembes dari bekas kuku kucing itu.
“Kurang ajar! Kucing jelek!” secara sepontan aku menjerit.
Dengan kemarahan, tong sampah kutendang sekuat tenaga. Sampah-sampah kertas berhamburan. Muridku, tak satu pun yang bersembunyi di situ. Sebuah sobekan koran mmelayang dan hinggap di depan mataku. Kuraihnya. Kuamatinya. Mungkin ini jelmaan muridku. Kuteliti dan kuidentifikasi berbagai ciri-ciri yang menjadi penunjuk jelmaan muridku. Ah, ternyata hanyalah tulisan biasa. Koran itu bertuliskan seperti di bawah ini.





Guntingan koran






“Ada apa, Pak?” Tanya Bu Mardiah yang muncul dari balik pintu ruang kelas yang bersebelahan dengan perpustakaan.
“Ah, tidak ada apa-apa” jawabku tergagab-gagab.
Anak-anak dengan ekspresi takut semua melongok dari jendela kaca memandangiku dengan penuh curiga. Aku jadi malu dibuatnya. Mengapa peristiwa ini mesti menimpa diriku. Ah, entahlah. Yang jelas aku hanya merasa dihantui oleh fakta-fakta yang sulit dimengerti oleh kawan-kawan seprofesiku. Bahkan, istri dan anak-anakku sering ikut-ikutan tidak paham dengan jalan pikiran dan tingkah lakuku akhir-akhir ini. Katanya, aku suka berbuat yang aneh-aneh, suka bermimpi-mimpi, dan bahkan katanya aku sudah sering lupa dengan lingkungan sekitarku. Padahal aku benar-benar sadar. Kesadaranku tak pernah lepas.
“Pak Jono sakit, ya?” tanya Bu Mardiah mengagetkanku.
“Ah, tidak! Maaf, ya Bu! Saya terlalu takut dengan kucing! Mau saya kucing tadi saya usir agar tidak mengorek-korek sampah di dalam tong itu. E…malah saya dicakarnya. Sekali lagi, saya, mohon maaf ya, Bu!”
“Yah, sudahlah, Pak. Anak-anak masih ujian!” kata Bu Mardiah seraya masuk ke dalam kelas.
Boleh percaya, boleh tidak! Yang jelas pada hari itu aku jadi sorotan seluruh siswa dan guru. Aku jadi malu.

SIKLUS 8
Aku limbung dan terkenang dengan cerita masa lalu. Tiga bocah usia sekolah terdampar di depan pertokoan. Mereka baru bertengkar. Satu diantara mereka menangis dan yang lain berdiam diri di sisi yang lain. Cerita lengkapnya seperti di bawah ini.
Alun-alun kota, sore itu benar-benar ramai. Bangku-bangku yang terdapat di bawah pohon sudah penuh diduduki orang. Pot-pot bunga yang terbuat dari beton pun digunakan sebagai tempat duduk. Sedangkan mereka yang tak kebagian tempat duduk menggelar koran atau tikar di hamparan rumput yang hijau. Di sana sini banyak asongan dan pedagang lesehan menjajajakan dagangannya walaupun sebenarnya dilarang karena dianggap mengganggu ketertiban umum dan melanggar peraturan. Memang, alun-alun merupakan tempat yang strategis untuk mencari rejeki bagi pedagang-pedagang itu lebih-lebih bila hari libur. Ada penjual tahu petis, jagung bakar, tempe menjes, berbagai jenis minuman, dan masih banyak lagi. Tukang semir yang masih tergolong anak-anak juga banyak berkeliaran di sana. Mereka bagai burung prenjak lompat ke sana ke mari menawarkan jasanya.
Tiba-tiba dari arah jalan sebelah utara alun-alun terdengar sirene bertuit-tuit. Suasana jadi kacau. Para pedagang lari berhamburan dengan menyambar dagangan sekenanya. Mereka takut kena cakup petugas.
“Diam! Diam di tempat semua!” teriak beberapa petugas sambil berlompatan dari mobil patroli.
“Lari…! Lari..! Ada petugas!” reaksi para pedagang mengomando kawan-kawannya untuk menyelamatkan diri.
Suara peluit petugas bersaut-sautan terdengar di seluruh sudut alun-alun, membuat suasana bertambah mencekam. Alon-alon kota kini benar-benar dikuasai oleh petugas. Bagai pasukan burung elang yang mengejar anak-anak ayam, para petugas menyambar pedagang-pedagang liar yang dianggap melanggar ketertiban umum dan mengganggu keindahan kota.
“He, jangan lari! Berhenti!” kata seorang petugas sambil mengacungkan tongkat pemukulnya.
Pada suatu kesempatan beberapa petugas berhasil menangkap seorang tukang becak dan seoarang anak penjaja rokok. Tongkat pemukul pun mendarat beberapa kali ke tubuh mereka. Mereka meringis kesakitan, tapi petugas tidak peduli. Terlihat dari raut mukanya, petugas sangat sebal dan seperti menyimpan rasa dendam.
“Kamu tahu nggak dengan tulisan itu!” kata seorang petugas kepada penjaja rokok sambil menunjuk ke tulisan ‘Dilarang berjualan di sini’, yang terpajang di pagar pembatas jalan dan taman alun-alun.
“Diam di sini kau! Sudah berapa kali kau kami ingatkan! Jangan menarik becak di jalan seputar alun-alaun! Kenapa masih bandel juga! Orang-orang seperti kau inilah yang membuat keindahan kota ini tercemar! Brengsek!” umpat petugas lain terhadap tukang becak sambil menendang-nendangnya.
Tukang becak berusaha menghadang tendangan petugas. Petugas tambah marah. Dengan jengkel petugas yang lain ikut memukul punggung tukang becak itu dari belakang. Tukang becak terseok dan tersungur tak berdaya., menangis dendam, merintih takut, dan terkulai menahan nyerinya.
“Sebenarnya aku kasihan kepada kau, tapi ini sudah menjadi program pemerintah! Tahun ini, kota kita harus mendapat prestasi ‘Kota Terbersih se-Indonesia’!. Kota Adipura.! Kalau kau terus-terusan antiprogram, aku kena tegur atasan! Tahu!” kata petugas yang lain lagi.
“He ! Kamu, namamu siapa?” tanya seorang petugas kepada tukang becak.
“Medi, Pak” jawab tukang becak itu.
“Kamu tahu nggak! Wali kota, kan sudah berkali-kali mensosialisasikan program ini. Becak dilarang beroperasi di sini!” bentak petugas lain kepada Medi.
“Tahu, Pak!” jawab Medi dengan gugup dan gemetar.
“Kalau sudah tahu kenapa kamu masih ngotot?!”
“Maaf, Pak. Kami butuh uang!”
“Setan alas!” tongkat di tangan petugas mendarat lagi ke punggung Medi. Medi merintih kesakitan. Tangannya mencoba menghadang pukulan berikutnya. Tapi tangan yang hitam legam itu justru yang kena sasaran hingga kulitnya mengelupas. Darah pun menetes ke tanah.
“ Apa kamu saja yang butuh uang? Aku juga perlu uang! Bajul buntung!”
“Tapi di sini posisinya strategis untuk cari duit,Pak” sergah Medi.
Kata-kata Medi ini dianggap menantang petugas. Dengan kejenggkelan yang sangat, petugas mehantamkan tinjunya ke muka Medi. Medi menjerit keras-keras, kemudian ia tersungkur ke hamparan rumput. Dengan pongah petugas itu berkecak pinggang.
“Demit korup! Kamu melawan petugas, ya? Ayo di mana becakmu” kata seorang petugas yang lain sambil menyeret Medi.
“Jangan, Pak! Itu bukan becak saya! Tolonglah, Pak! Jangan! Jangan…!”
Para petugas tidak menghiraukan keluhan Medi. Seperti kambing yang akan dijeburkan ke sungai, Medi berontak. Dengan sepenuh tenaga dua orang petugas menyeretnya. Sementara itu, beberapa petugas yang lain lagi menendang-nendangnya dari belakang. Selanjutnya, dengan paksa Medi bersama becaknya dilemparkan ke atas mobil patroli. Melihat keadaan demikian anak asongan penjaja rokok, yang ternyata bernama Ali, meresa tak tega. Ia berupaya membela tukang becak.
“Pak, jangan,Pak! Tukang becak hanyalah orang kecil yang berusaha mencari penghidupan!” kata Ali kepada salah seorang petugas.
“Bajing loncat! Anak kecil jangan ikut-ikutan!” bentak petugas sambil menendang Ali. Ali terjungkal. Petugas rupanya tidak puas. Ali masih dihadiahi beberapa tedangan berikutnya. Barang dagangan dalam pelukannya direbut dengan paksa. Ali masih berusaha mempertahankannya. Namun, sebuah tedangan pamungkas menghujam perutnya sehingga Ali tak berdaya. Dan dengan kasar, petugas menghempaskan ke lantai batako seraya meninggalkannya begitu saja. Beberapa menit kemudian, mobil patroli secepat kilat melejit meninggalkan alun-alaun.
Bau asap kenalpot menyeruak menghantarkan hilangnya suara tangis dan rintihan tukang becak. Sementara itu, Ali masih meringkuk di atas batako yang tertata rapi, menghiasi kelebaran alun-alun kota. Dari balik kerumunan orang yang terpaku menonton kejadian barusan, berlarian Ahmad dan Nanang, sahabat sependeritaan. Mereka mehampiri dan bergegas membopong Ali menyusuri hitamnya aspal menjauh dari alun-alun kota.
Malam itu angin berdesir menghalau larutnya malam. Di sebuah sisi pinggiran kota bau busuk asap sampah menebar mengisi lorong-lorong rumah kardus. Tengik!. Bacin!. Di beberapa gundukan sampah lalat-lalat masih lembur mencari penghidupan. Gemerlap lampu di kejauhan tak menghiraukan gelap dan pengapnya kehidupan kampung gubug kumuh itu (Disebut kampung karena ada kepengurusan seperti layaknya kampung). Hanya cacing tanah, tikus liar, dan kecoak yang tulus hati menjaga kampung itu siang malam. Sementara, insan yang tersanjung karena dianggap sebagai makhluk berbudaya telah lelap dalam rengkuhan buramnya rembulan yang tua.
Malam itu angin berdesir lirih menghalau larutnya malam. Entah sudah berapa lama, dari sebuah gubug terdengar suara tangisan. Suara tangis itu timbul tenggelam, teriris-iris tajamnya dingin malam. Di antara isakan-isakannya terdengar nasihat-nasihat.
“Sudahlah, Al! Jangan menangis terus! Kan, orang itu tidak selamanya bernasib baik! Guru kita pernah bilang bahwa hidup di dunia ini dihadapkan pada dikotomi-dikotomi. Ada baik ada buruk. Ada atas , ada bawah. Ada kaya, ada miskin.”
“ Tapi, mengapa ini mesti menimpa padaku, yang besok harus melunasi uang sekolah, Mad ?” jawab Ali.
“Masalah ini tidak akan terpecahkan oleh tangis, Al! Kita tidak boleh hancur hanya karena satu masalah dari berjuta masalah yang harus kita hadapi.”
“Benar, Mad!. Tapi aku bingung!. Bagaimana aku besok harus melunasi uang sekolah. Padahal besok, kan batas terakhirnya!”
“Percayalah! Tiada masalah yang tidak dapat dipecahkan! Tuhan Maha Melihat. Kita harus tetap bersyukur. Masalahmu masalahku juga!. Masalahmu pasti dapat terpecahkan kalau kita mau berusaha dan berdoa. Sudahlah kamu harus percaya dengan omongan kawanmu ini!. Kita masih bernasib lebih baik jika dibandingkan dengan kawan pedagang asongan yang lain. Kita masih bisa menikmati bangku sekolah SMU, walau harus membanting tulang, berjemur di bawah terik matahari dan berbasah kuyub di kala hujan demi masa depan. Sudah… sekarang sudah larut, ayo kita istirahat. Lihat tuh, Nanang sudah lelap.”
Malam semakin sunyi. Pembicaraan-pembicaraan dari gubug itu tak terdengar lagi.Bulan tua semakin condong ke barat. Gonggongan anjing di kejauhan hanya sesekali saja terdengar. Kawanan pedagang asongan itu rupanya benar-benar telah tertidur. Namun, keadan itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba malam larut tercabik suara Ali yang meronta-ronta.
“Hah..hah..! Ampun, Pak! Ampun! Jangan rampas barang saya,Pak! Ampun..!” suara jerit rintih Ali menghentak, membangunkan Ahmad dan Nanang.
“Al..Al..! Bangung! Bangun,Al!” kata Ahmad tergagap-gagap seraya mengoyang-goyang tubuh Ali, ”Nang bangun. Nang, bangun!” reaksi Ahmad selanjutnya membangunkan kawannya. Nanang dengan tergopoh bergegas menghampiri Ali. Mencermati keadaan Ali kemudian memegang keningnya.
“Ah, panas sekali!” kata Nanang terkejut.
“Tolong, ambilkan sapu tangan di saku celanaku! Celupkan ke air untuk mengkompresnya,” suruh Ahmad kepada Nanang.
Nanang mengmabil sapu tangan dan cepat-cepat dibasahi dengan air dari botol palstik. Ali masih mengigau. Sementara itu, Ahmad terus berusaha membangunkannya.
“Al, bangun! Bangun!” kata Ahmad mulai panik, ” Nang cepat!” kata Ahmad selajutnya.
Nanang dengan cekatan menggelar sapu tangan basah di atas kening Ali. Sejak itu, berangsur-angsur Ali siuman dan terbangun. Ia pandangi rekannya satu persatu seakan-akan ingin memastikan apkah benar itu kawan-kawannya.
“Nang? Ali? Aku bermimpi,” kata Ali.
Dari luar terdengar suara batuk-batuk seorang peremuan tua yang tinggal di gubug sebelahnya. Kerosak suara sampah terdengar terinjak kaki perempuan itu.
“Le..le.., buka! Ada apa!” kata perempuan itu.
“Ali ngelindur, Mak” saut Ahmad seraya membuka pintu rumah kardusnya.
“Iya Mak! Tadi siang Ali kena cakup petugas!” Nanang menimpali setelah Mak Mur masuk.
Tanpa bisa ditahan-tahan perempuan itu langsung marah meluap-luap. Rupanya dia sudah lama memendam rasa benci kepada yang namanya petugas itu.
“Kurang ajar! Dia lagi! Dia lagi! Kita harus berontak! Sejak dulu, kaum kecil, kaum pinggiran selalu jadi korban, jadi sasaran. Kali ini, kita tidak boleh diam! Kita tidak boleh ngalah terus! Kita perangi mereka! Kita harus menang!”
“Sudahlah, Mak Mur!” kata Nanang mencoba menenangkan.
“Tidak bisa! Kapan nasib kita bisa berubah kalau ngalah terus! Kapan kesenjangan akan terhapus kalau usaha-usaha selalu terbatasi oleh aturan-aturan sepihak? Kebutuhan hidup manusia terkalahkan oleh program keindahan , program ketertiban, dan program kebersihan !” kata Mak Mur dengan geram.
“Akulah yang salah, Mak” kata Ali di sela-sela isak tangisnya.
“Tidak bisa! “
“Tidak, Mak! Aku telah melanggar tata tertib kota” saut Ali.
“Tidak! Ini adalah polah tingkah oknum yang tidak bertanggung jawab. Oknum yang tidak bisa memberikan jalan keluar terhadap keruwetan-keruwetan kehidupan yang kita hadapi! Tidak! Mereka tidak punya tepa selira, tidak punya belas kasihan! Pokoknya kita harus berontak! Berantas penjahat!” kata Mak Mur seraya lari membawa rasa dendam. Ali berusaha menghadang kepergian Mak Mur tapi keburu ditahan oleh Ahmad dan Nanang.
“Jangan, Al! Paling-paling sebentar lagi, Mak Mur menyadari tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali menangis. Menangisi nasip yang tak mungkin diuntungkan dalam penataan kota” cegah Nanang.
Mak Mur telah menjauh. Di sana terdengar dialog-dialog tentang peristiwa yang menimpa rekan-rekan seprofesi mereka. Ada yang ikut mengumpat-umpat dan mencaci maki. Ada yang berusaha meredakan. Ada juga yang membenarkan petugas. Sementara itu, Ahmad masih berusaha membujuk dan menghibur Ali. Bahkan, Nanang menegaskan kembali tentang ikatan persaudaran yang pernah disepakati mereka. Nanang mengingatkan kembali tentang pertemuan awal sebelum terjalin persaudaraan. Bahwa, sebelum terbentuk persaudaran terjadilah perkelaian antara Nanang dengan Ali karena kaki Ali terinjak secara tidak sengaja oleh Nanang. Kemudian datanglah Ahmad melerai. Ali dan Nanang disuruh bersalaman untuk saling memaafkan. Waktu itu, Ahmad mengajak Ali dan Nanang ke teras Masjid yang berada di sebelah barat alun-alun kota. Kemudian mengajak mereka sholat berjamaah. Setelah itu, masing-masing bercerita tentang kisahnya. Ternyata mereka sama-sama tamatan SLTP. Sama-sama menjadi anak yang tersisih dan tersisihkan karena keadaan. Nanang dan Ahmad adalah anak keluarga transmigran yang terusir dalam perang etnis Sampit. Mereka melarikan diri dan terdapar kawasan alun-alun kota itu. Mereka tak sempat menikmati bantuan korban Sampit. Mereka luput dari penanganan. Sedangkan Ali adalah korban peristiwa isu dukun santet yang tak berani pulang kembali ke desanya sejak pembantaian seluruh keluarganya. Yang jelas mereka sama-sama jadi korban. Namun, sama-sama mempunyai cita-cita yang mulia. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengangkat diri masing-masing menjadi saudara dan melanjutkan ke sekolah yang sama. Begitu seterusnya sampai mereka bertemu dengan Mak Mur dan diajak tinggal bersama dalam gubugnya, di sisi kali tempat pembuangan sampah, bergabung dengan warga pemulung. Dan, pada akhirnya Mak Mur dianggap sebagai ibu kandung mereka.
Tak terasa cerita demi cerita telah dikisahkan kembali. Dan larut pun menggulung pergelarannya. Dari seberang kali terdengar kokok ayam jantan membuka pagi.
“Al. kamu hari ini tidak usah masuk sekolah!” kata Ahmad.
“Tidak! Aku harus masuk! Pelajarannya berat-berat!”
“Al, turutilah usulan saudaramu!” saut Nanang.
“Lalu bagaimana uang sekolahku?”
“Aku dan Nanang yang akan menyelesaikan. Sudah ya, kamu di rumah saja. Matahari mulai menininggi! Aku dan Nanang akan ke kali, sholat dan langsung berangkat sekolah”
“Baiklah!. Salam buat teman-teman” jawab Ali mengalah.
Seharian Ali tidak keluar dari gubugnya. Ia mengisi waktu luangnya dengan merapikan koran-koran bekas yang digunakan sebagai bantalan tidurnya. Pada saat itulah, ia secara tidak sengaja menepukan foto bapak ibunya yang sudah bopeng-bopeng karena termakan kelembaban. Dipandanginya foto itu. Perlahan-lahan disapu-sapunya. Dibelai-belainya. Dikecupinya. Dipandanginya lagi. Padangan itu berhenti pada satu titik. Lama sekali mata Ali tak berkedip. Kemudian dari mata itu mengalirlah butiran-butiran air bening. Alirannya semakin deras. Kemudian meletuplah tangisnya.
“Ibu..Bapak..! Seandainya engkau masih di sampingku, betapa kau akan tersenyum melihat anakmu dengan gagah berani berjuang melawan keganasan kehidupan ini. Bapak-Ibu dulu engkau pernah mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Ada atau tersingkir. Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku tidak akan pernah tersingkir. Aku akan mendirikan kelompok belajar bagi anak-anak asongan, group kesenian, group olah raga, dan koperasi, khususnya bagi anak asongan dan anak-anak jalanan pada umumnya. Doakan, ya Ibu…! Doakan ya, Bapak.” Begitu harapan Ali di antara derasnya tangisnya.
Setelah tangisnya agak reda, foto bapak-ibunya dipeluk, dibelai sekali lagi. Kemudian, sambil memandangi foto itu, Ali mengumandangkan tembang pucung.
“Bapa biyung, lilanana sun angluru,
ilmu kang utama,
kangga sangu tembe mburi
sun dongakna, bapa- biyung, urip mulya.”
Pada saat Ali mengakhiri tembangnya, Mak Mur sudah berdiri di sampingnya. Dengan malu-malu, Ali bergegas mengusap air matanya. Foto di pelukan segera dimasukkan ke dalam tas sekolah yang terletak di sampingnya.
“Bagus sekali tembangmu. “ kata Mak Mur.
“Ah, Mak. Diajarkan oleh Bapak ketika aku masih kelas tiga SD dulu” saut Ali dengan tersipu-sipu.
“Bagaimana? Sudah sembuh?” tanya Mak Mur selanjutnya.
“Lumayan” Jawab Ali,” apa itu Mak?” tanya Ali selanjutnya.
“Biasa! Nasi putih dan kerupuk! Sarapan dulu, ya!” kata Mak Mur sambil menyodorkan tas plastik.
“Kebetulan, Mak. Aku sejak kemarin sore belum makan!” jawab Ali.
Sebuah tas plastik warna hitam dibuka oleh Ali. Aroma nasi putih yang masih mengeluarkan uap membangkitkan nafsu makan Ali.
“Al, dengar-dengar kawasan sini akan dijadikan supermaket? Dan, seluruh penghuni rumah kardus ini akan ditransmigrasikan? Apa benar?” tanya Mak Mur.
“Aku belum dengar, Mak.” jawab Ali sambil membungkus kembali sisa nasi yang tinggal beberapa suap.
“Kalau benar, kau mau ke mana? Ikut transmigrasi?”
“Tidak tahulah Mak? Yang jelas kalau transmigrasi aku takut peristiwa yang menimpa keluarga Ahmad dan Nanang bakal menimpaku. Ah, tak tahulah Mak. Kalau Emak sendiri mau ke mana? Pulang kampung?” kata Ali.
“Ah, kamu jangan nyindir begitu! Kampung yang mana lagi? Kampung Emak, ya di sini ini, di pinggir kali ini!”
“Terus, kalau di sini dibangun supermaket?”
“Emak tidak akan pindah!” kata Mak Mur agak emosi.
“Walau petugas memaksa Emak?”
Mak Mur tidak segera menjawab. Ia berdiri perlahan-lahan. Matanya menatap dinding koran yang sesekali cekung sesekali cembung karena dorongan tiupan angin. Kemudian ia melangkah lemah mendekati dinding itu. Dengan setangkai kayu, dinding itu didorong keluar agar tidak kembang-kempis dipermainkan angin. Entah apa yang dipikirkan. Yang jelas Mak Mur berbuat demikian berlangsung agak lama, baru kemudian menjawab pertanyan Ali.
“ Al, aku sudah tua. Biarlah aku mati di sini, dikuburkan di sini, ditimbun dengan sampah-sampah ini. Aku ingin mati dan menyatu dengan sampah. Biar semua orang tahu bahwa di sini pernah hidup seseorang, yang berjuang tanpa pamrih melawan kemiskinan, melawan kekejaman keadaan yang menindas dengan sewenang-wenang. Untuk itu, kalau aku mati nanti, tuliskan namaku pada nisan kuburku , yakni nama Mak Mur Pahlawan Sampah dari Kampung Kumuh. Kemudian di atas kuburku tancapkan bendera putih bertuliskan Pahlawan Kemiskinan”
Kata-kata Mak Mur terhenti oleh masuknya Ahmad dan Nanang bersama seorang ibu guru. Ahmad dan kawan-kawannya biasa memanggil guru itu dengan sebutan Bu Sri.
“Silakan duduk, Bu!” kata Ali menyambut kedatangan Bu Sri.
Ali begitu gembira didatangi gurunya. Tidak disangka-sangka ternyata masih ada yang peduli terhadap nasib anak-anak yang tersisih di kampung kumuh. Berbeda dengan Ali, Mak kelihatan sangat benci.
“He, ini ya, oknum yang berusaha mengusik ketenangan ! Ini ya, yang mengaduk-aduk air keruh di kubangan dengan kaki bertuba?” kata Mak Mur dengan sinis.
Ali tersentak mendengar kata-kata Mak Mur. Nanang jadi kikuk, sementara Bu Sri kelihatan ketakutan. Akhirnya Ahmad mencoba menetralisisr keadaan.
“Mak, beliau ini..” Kata-kata Ahmad terpotong kemarahan Mak Mur.
“Diam kau! Ini urusanku sebagai orang tua kalian! Aku tidak rela jika ketentraman kita digoyang-goyang dengan semena-mena. Mana pisaumu? Mana pisaunya biar kusayat-sayat dia!”
Kemarahan Mak Mur tak dapat dikendalikan! Dia menyambar pisau yang terselip di bambu pencepit dinding. Pisau dihunuskan ke arah Bu Sri. Bu Sri gemetar ketakutan. Ali berusaha menghalangi sedangkan Ahmad menahan kuat-kuat agar Mak Mur tidak sampai bergerak mendekati Bu Sri. Karena ditahan-tahan Mak Mur semakin kalap. Ia menjerit-jerit histeris meneriaki Bu Sri.
“Kubunuh kau! Kubunuh sekarang kau, keparat!” kata Mak Mur beringas.
Entah berapa kali kata-kata ‘keparat’ diteriakkan oleh Mak Mur. Yang jelas, setelah Mak Mur meneriakan kata itu panjang-panjang, ia lemah terus kejang-kejang kemudian terjatuh di lantai. Ali dan kawan-kawannya segera menyadari sakit jantung Mak Mur kambuh.
“Mak..! Mak ..! Maafkan Ali, Mak!” kata Ali sambil menangis tersimpuh di sisi Mak Mur. Tangisan Ali membuat Ahmad dan Nanang tersentak.
“Bu Sri… Mak Mur! Mak Mur, jantungnya kambuh! Maaak….!” teriak histeris Ahmad.
Jerit tangis Ali, Ahmad, maupun Nanang tak mungkin bisa menyelamatkan jiwa Mak Mur. Mak Mur menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Bu Sri tak mampu menahan perasaan. Ia ikut menangis. Hanya karena naluri seorang ibu, ia masih sanggup menghibur untuk meringankan beban penderitaan Ali, Ahmad, dan Nanang.
“Al…, Mad, dan kau Nanang sudahlah! Relakan kepergian Mak Mur! “ kata Bu Sri.
“Dia pahlawan kami. Pembimbing perjuangan hidup kami” kata Ali sambil tersedu-sedu.
“Ya, betul! Dia memang patut diberi tanda jasa pahlawan. “ kata Nanang.
“Ya, Ibu mengerti! Sudah! Sekarang kalian tidak boleh larut dalam kesedihan ini. Kalian masih harus berjuang untuk masa depan kalian. Dan, karena jadwal ujian sudah dekat, sebaiknya kalian tinggal di rumah Ibu” kata Bu Sri selanjutnya.
Kabar kematian Mak Mur tersebar ke seluruh pelosok kota. Koran-koran kota memuat berita kematian Mak Mur. Bahkan, di luar dugaan, Wali Kota mengintruksikan agar Mak Mur dikuburkurkan di tempat itu juga. Dikatakan oleh Wali Kota bahwa di sekitar kuburan itu tidak jadi dibangun supermaket, tetapi akan dijadikan monumen kota. Monumen peringatan perjuangan hidup bagi orang-orang yang tersisih dan tertindas oleh keadaan. Wali kota juga menganugerahi predikat Pahlawan kepada Mak Mur. Sementara Ali, Ahmad, Nanang, dan Bu Sri ditetapkan sebagai Pejuang Pendidikan. Dan yang menggembirakan lagi, beaya sekolah tiga anak asongan, yakni Ali, Ahmad, dan Nanang ditanggung oleh Wali Kota sampai perguruan tinggi. Sedangkan Bu Sri diberi beasiswa ke S-2 dan penghuni kampung rumah kardus lainnya u diberi pekerjaan sesuai dengan keterampilan kemampuannya masing-masing.
Dua tahun berikutnya berita koran ibu kota benar-benar menjadi kenyataan. Tempat yang dulu dijadikan kampung kumuh, tempat pembuanagn sampah, bagai disulap, berubah menjadi taman yang indah. Di tengah-tengah terbujur kuburan bertuliskan MAK MUR PAHLAWAN PEJUANG KEHIDUPAN. Harapan Mak Mur benar-benar menjadi kenyataan.

SIKLUS 9
Renung pagi masih dibelenggu obsesi-obsesi otopis yang mencekik. Capung pun rela bergantungan demi gubug peristirahatan, Sementara burung-burung mengintainya dari balik rimbun dedauan, mencari waktu yang tepat untuk menyantap dengan keperkasaannya. Dan aku masih terpaku dengan pola-pola matematis yang diajarkan Tuhan melalui garis-garis irama alam-Nya. Aku tidak paham mengapa Tuhan membuat dialektika-dialektika yang rumit dipecahkan. Atau memang aku adalah insan kerdil dengan pelaran-pelajaran yang mungkin sangat sederhana. Ah, tak tahulah!
“Pak, rapat dinas akan dimulai. Dimohon semua dewan guru berkumpul di ruang guru,” kata seorang kawan menghentak keasyikanku bergumul dengan imajinasi pembelajaran tentang ciptaan Tuhan.
Tanpa menangharap reaksi kawanku bergegas berlalu. Rupanya ia berupaya menjadi abdi yang loyal dan melaksanakan tugas dengan professional. Aku kira ini pasti rapat yang akan membahas masalah ujian. Ah, ujian! Sebuah idelis pendidikan yang dijual dengan harga eceran. Bagaimana tidak eceran kalau ujian dianggap sebagai satu-satunya ‘pedang’ ampuh untuk menghakimi prestasi kehidupan seorang anak manusia. Dengan ujian seakan-akan nasib seorang anak ditentukan. Sebuah kesimpulan yang sangat sembrono jika hasil ujian nantinya dijadikan cermin kualitas SDM. Kalau nilainya rendah dianggap kualitas SDM-nya rendah pula. Begitu sebaliknya. Ah, kawan-kawan sudah kena virus birokrasi tersetruktur yang akut.
“Pak, ayo! Ditunggu di ruang guru!” kawanku yang tadi, meneriaki aku dari arah agak kejauhan.
Aku tidak menjawab. Dengan langkah agak ragu dan canggung kutinggalkan segala keteduhan pembelajaran imajinasi di bawah kerindangan pohon.
Ruang guru sudah penuh dengan kawan-kawan. Kulihat wajah mreka nampak letih dan kusam. Entah apa yang sedang ada di benak mereka. Mungkinkah mereka merasakan penat dengan tugas-tugas administrasi birokrasif sekian puluh siswanya yang tidak mau patuh dengan didikannya. Atau, mungkin mereka menanggung persoalan-persoalan kehidupan pribadi dan keluarganya.
Rapat dinas dimulai. Kepala sekolah memberikan pengarahan dengan penuh hati-hati. Sedikit canggung terasa dari tarikan-tarikan nafasnya. Tetapi rupanya ia sadar bahwa ia seorang yang mau-tidak mau harus menjadi panutan sehingga ia harus mendesain agar segala polah tingkah dan pemikiran-pemikirannya seperti layaknya seorang kepala, pemimpin, pengayom, the best father, dan lain-lain sebutan yang agung.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, hari ini kita akan membahas masalah kegiatan yang sangat menentukan nasib anak didik kita. Untuk itu, kepada bapak-bapak dan ibu-ibu saya mohon melaksanakan tugas dengan profesinal. Kita sebagai guru, abdi negara, dan pengemban tugas mulia harus menjaga kehormatan terutama dalam melaksanakan ujian ini. Jangan sampai karena suatu hal, kita berbuat naïf dengan melakukan kekilafan-kekilafan yang menimbulkan berbagai opini masyarakat bahwa kita tidak pecus dalam melaksanakan tugas-tugas kita.” Begitu kepala sekolah megawali pengarahannya. Seluruh peserta rapat dinas nampak manggut-manggut. Semua dengan cermat menyimak kata-demi kata yang disampaikan oleh kepala sekolah.
“Bapak-ibu, kegitan yang akan kita lakukan ini merupakan kegiatan rutin tiap tahun. Naumn, saya sebagai pimpinan tetap wajib mengingatkan bahwa kegiatan rutin, kebiasaan, akan menimbulkan munculnya sifat-sifat takabur, yang pada akhirnya kita jadi keliru atau melakukan kesalahan yang tidak perlu karena kita kurang hati-hati atau kurang teliti. Sebagi contoh tahun kemarin. Bagaimana bisa sebuah lembar kerja siswa sampai tertinggal di atas meja sementara baru kketahuan sehari sesudahnya. Peristiwa ini kalau ketahuan wartawan dan diekspose maka semua akan kena. Dan, yang lebih parah lagi akan dipolitisir dengan berbagai pelintiran-pelintiran yang memamanaskan telinga. Kita , guru, jadi jatuh martabatnya. Dunia pendidikan jadi rusak. Untung, waktu itu Pak Dul dengan cepat melakukan tindakan cerdas. Untuk itu, saya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak, Dul. Bapak-Ibu yang saya muliakan, kegiatan ujian kali ini seperti yang sudah-sudah, akan dilakukan dengan kepanitiaan yang sudah dirancang dalam SK. Mulai dari kegiatan persiapan sampai pelaporan saya mohon dilakukan dengan sepenuh hati. Jangan sampai memuncukan opini-opini negatif dengan ujian ini. Kita harus bisa bermain secantik-cantiknya. Dan, perlu saya informasikan bahwa pemeriksaan lembar jawaban siswa dilakukan dengan system komputerisasi” Begitu kata-kata dari kepala sekolah. Selanjutnya aku tidak tahu persis dengan apa yang disampaikan. Pikiranku melambung ke relitas yang kurang disepakati oleh hati nuraniku.
Satu pemikiran logisku berperang dengan nurani. Bagaimana mungkin kita dapat bekerja dengan profesional kalau fasilitas suasana batin, suasana sosial tidak mendukung kearah itu. Profesional berarti kerja harus sesuai dengan standar baku yang ada. Standar baku ini membutuhkan fasilitas yang standar pula. Susana sosial yang standar pula. Dan tentu saja nuansa batin yang standar pula agar kerja dengan secantik-cantiknya. Aku masih ingat dengan kata-kata seorang piñata rias bahwa seseorang akan tampil dengan cantik kalau memiliki daya ‘inner beuty’. Artinya, kecantikan akan muncul dari dalam diri seseorang yang mengalir pada raut wajah dan penampilan seseorang. Bagaimana mungkin rekan-rekan bisa mengerjakan tugas dengan cantik kalau batinnya saja rusuh dan dekil. Bagaimana tidak dekil kalau yang nampak di wajahnya saja keletihan dan kekusaman. Letih memikirkan kelengkapan administrasi sekian puluh siswanya. Kusam karena tak sanggup mengikuti prosedur kerja professional kelembagaan. Dan, anehnya ini terjadi karena beban psikologis dan sosialogis kehidupan keluarnya yang seimabang dengan kualitas ekonomi yang diterimanya. Muncullah persoalan ‘kucing-kucingan’ dalam melaksanakan tugas, ketegangan-ketengan yang menyiksa jiwa, niatan-niatan yang keluar dari rel kodrati keprofesian dan lain-lain perkara yang membangkitkan suasana tidak teduh.
Aku jadi teringant kata-kata Kiyosaki, “ If you want happy and nice, don’t go to school’. Kata-kata yang sangat bertolok belakang dengan idealisme kemajuan yang ingin dicapai negara. Sekolah dianggap sebuah tempat pengkerdilan dan penindasan kemerdekaan. Sekolah tidak menjamin kepada kebebasan hidup. Sekolah menjadikan seseorang menjadi terbungkam, tidak berani berpendapat atau mengeluarkan kreatifitasnya. Yang lebih naïf lagi, sekolah tidak bisa atau tidak mampu mendorong pertumbuhan kepada manusia yang medeka seperti layaknya Tuhan memberikan alternatif-alternatif kehidupan yang damai dan menyenangkan. Lebih-lebih, semua mengacu ke standar. Di luar standar dianggap tidak layak atau tidak umum, tidak sesuai dengan SDM yang dicanangkan. Bagaimana siswa bisa pandai kalau sistem ujian sangat beku. Tidak variatif dan tidak menyeluruh, tidak menjangkau semua aspek kemanusiawian peserta didik. Yang ditonjolkan akademik saja. Sementara nonakademik dianggap kelas dua. Apakah seseorang akan hidup bahagia dengan nialai akademik tinggi. Ah, salah lagi! Sebenarnya tidak salah. Hanya terlalu pagi kalau disimpulkan bahwa nilai akademik tinggi identik dengan SDM tinggi. Ingat! Manusia tidak bisa dipelajri secara parsial kalau manusia adalah totalitas. Manusia adalah keutuhan bukan bagian demi bagian. Artinya, tujuan pendidikan menciptakan manusia seutuhnya berarti proses pembelajaran dan penilaian harus menyentuh semua aspek yang dimiliki manusia. baik itu disebut aspek akademik, nonakademik, ataupun aspek sikap. Kita tahu kognisi sebagai raja cermin akademik lebih diakui dari pada nonakademik. Padahal kenyataannya justru setelah betul-betul terjun ke masyarakat kehidupan nyata justru aspek sikap , perbuatan, dan nnakademik yang dominan membantu seseorang dapat hidup wajar. Banyak bukti menunjukkan hasil kerja kogmisi yang tidak dilandasi sikap baik justru menimbulkan malapetaka yang menghancurkan. Aku jadi terusik oleh kata-kata Ayu Sutarto bahwa dunia peradapan semakin maju, tetapi kehidupan juga semakin biadab.
‘Ada hal yang ditanyakan, Pak?” tanya kepala sekolah mengagetkan.
“Tidak ada pertanyaan, Pak1 Hanya kalau boleh usul bagaimana kalau sistem ujian ini kita ganti saja,” ucapku dengan ragu-ragu.
“Apa maksud Bapak?” tanya kepala sekola.
“Saya sangat kasihan melihat anak-anak yang kita perkosa setiap ujian. Mereka kita suruh belajar mati-matian dan sekaligus orang tua mebanyar kegiatan belajar anak-anaknya dengan mahal. Sementara semua itu tidak menjamin terciptanya tujuan pendidikan, yakni terbentuknya manusia seutuhnya,” ucapku.
“ Wah, kalau Bapak berpendapat demikian itu namanya tidak mendukung program pemerintah kita dalam mencerdasakan bangsa,” sanggah kepala sekolah dengan agak tersinggung.
“Maaf, Pak. Mencerdasakan bangsa tidak dengan cara ujian seperti ini. Sistem ujian ini saya rasakan tidak pernah mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, tetapi justru memecah belah keutuhan itu sendiri. Coba Bapak pikir sekali lagi! Bagaimana bisa utuh kalau aspek akademik yang dibiayai dengan sebegitu mahal hanya diukur dengan sistem ujian dengan pengoreksian komputerisasi. Ini kan namanya kita sebagai manusia tidak dimanusiawikan tetapi manusia yang dibendakan, dikoputerkan. Nilai-nilai kemanusiaan mana mungkin diukur dengan computer? Coba Bapak bayangan! Sekali lagi saya minta maaf!”
“Tapi ini sudah menjadi standar nasional, Pak! Dan semua itu sudah diprogramkan secara nasional. Jadi bagaimana pun kita sebagai abdi negara harus mengikuti aturan main yang telah dicanangkan secara nasional. Kebebasan kita terbatasi oleh kepentinga Negara. Jadi kita tidak bisa melaksanakan agenda nasional ini dengan seenaknya.,” kata kepala sekolah.
“Kalau begitu saya sekali lagi minta maaf. Saya tadi hanya memberikan alterntif yang ideal untuk sebuah proses pendidikan memanusiakan manusia, Pak. Dan untuk itu segala gagasan saya itu saya tarik kembali karena jelas tidak mungkin saya berbenturan dengan kerangka sistem birokrasi yang terlalu angkuh dan kuat untuk diubah. Sekali lagi maaf.” Kataku agak kecewa. Aku paham bahwa ini bukan temapat untuk berdebat. Tidak mungkin selesai dan terpecahkan bila toh harus berdiskusi dengan ketidakjelasan atau kontras dialektika yang tidak seirama. Ah, biarlah sistem tinggal sistem. Memang sulit memahami manusia kalau hanya dengan pancaindera. Boleh jadi dengan pancaindera jagad raya dapat kita lumat habis-habis. Namun, dengan pancaindera saja justru akan terbentur dalam dinding gelap bila masuk dalam diri jiwa manusia. proses pembelajaran imajinasi dan kira-kira sebagai kesimpulan yang dihandalkan.
Ah, ujian mengapa kau bagai Tuhan yang menentukan nasib dengan predikat pandai atau bodoh, berprestasi dan tidak berprestadi, sukses dan tidak sukses. Mengapa sebuah nilai ujian bisa dianggap timbangan yang menentukan keberhasilan. Bukankah manusia tidak mungkin hanya dinilai dengan angka-angka yang tak bermakna bila dibandingkan dengan keluasan dan kekomplekkan nilai kemanusiawian itu sendiri. Bagaimana mungkin angka-angka bisa menghakimi nilai-nilai kemanusiawian peserta didik? Ah, ujian ! Lebih-lebih sistem Ujian Nasional dalam bentuk pilhan ganda yang hanya mampu menyediakan lima pilihan jawaban. Tidakkah ini menunjukan bahwa ekspresi penalaran dan aspek kemanusiaan peserta didik dihimpit oleh kerangka soal yang mencengkeram kebebasan memilih. Maafkan aku ya generasi yang akan dikembangkan ke arah manusia seutuhnya. Aku tidak mampu berbuat banyak untuk membongkar bangunan sistem ujian yang angkuh itu. Aku tidak mempunyai ruang gerak untuk memilihkan kalian alternatif sistem yang lain karena harus membentur tembok raksasa itu.

0 komentar:

Posting Komentar